Pelihara Naskah Kuno, Mang Ujang Terima Penghargaan dari Perpustakaan Nasional

SEJUMLAH  naskah kuno yang masih terjaga kelestariannya hingga saat ini, diantaranya berada di Situs Kabuyutan Ciburuy, Kampung Ciburuy, Desa Pamalayan, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut.  Naskah naskah kuno tersebut ditemukan sekira tahun 1483 masehi. Namun umur naskah tersebut konon lebih tua lagi.

Menurut juru pelihara (jupel) Situs Kabuyutan Ciburuy, Nana Suryana (36) atau biasa disapa Mang Ujang, yang merupakan keturunan ke 149 yang menjaga naskah kuno tersebut , terdapat tiga judul naskah kuno yang berada di Situs Kabuyutan Ciburuy. Dari ketiga naskah, baru satu naskah yang telah diterjemahkan.

“Judul yang pertama itu Amanat Galunggung Siksa Kandang Karesian. Karesian itu artinya kewalian. Terus ada Sewakadarma atau Pujangga Manik dan terakhir Ramayana,”ucap Mang Ujang, Kamis (14/9/17).


Diejlaskannya, naskah-naskah kuno tersebut tertulis aksara Sunda buhun dalam daun lontar. Setiap huruf yang ada di naskah ditulis menggunakan dua cara diukir. Menurutnya, penggunaan daun lontar sebagai simbol agar bisa disalin, dibaca, dan digali maknanya. Penelitian tentang naskah kuno tersebut baru dimulai pada tahun 2007 yang digagas peneliti dari Universirtas Padjajaran.

“Ada juga peneliti dari Jerman, Italia, dan Belanda yang ikut membantu. Hasilnya belum diketahui semuanya. Baru naskah kedua soal pujangga manik yang bisa diterjemahkan,” ujar Ujang yang mengaku menjadi jupel di Situs Ciburuy sejak 2001 menggantikam ayahnya.

Ketiga naskah kuno itu disimpan dalam peti. Sebagian naskah kuno kondisinya sudah rapuh dimakan usia. Namun sebagian lagi masih bagus. Dari hasil penelitian, penulis naskah kuno tersebut merupakan penyair dari Negara Hindia atau dari Kerajaan Hindu Buddha.

” Untuk nama penulisnya belum diketahui. Riwayat ayah saya, naskah kuno sudah ada di lokasi ini sejak lama. Dulunya masih dibungkus pakai gentong. Tidak berani dibuka,” ungkapnya.

Naskah-naskah kuno itu, menurut Ujang merupakan rangkuman dari tiga kitab yang ada di dunia ini. Yaitu kitab Zabur, Tauret, dan Injil. Naskah tersebut memang diperuntukkan bagi umat terakhir di dunia.

“Isinya macam-macam. Soal ilmu padi, pengobatan alternatif, dan ilmu kehidupan. Memang belum ada rangkuman soal Alquran di naskah ini. Soalnya naskah dibuat sebelum Alquran turun,” ucapnya seraya menyebut dalam naskah juga tertulis soal nabi-nabi yang membawa kitab.

Walau Islam belum tertulis dalam naskah, namun tanda-tanda soal Islam sudah tertuang dalam naskah itu. Bahkan ia menyebut zaman praislam itu dengan sebutan agama Sunda Wiwitan yang memang melekat di tanah sunda.

Ujang menambahkan, naskah itu diperkirakan dibawa oleh Kerajaan Pajajaran. Sampai saat ini, penelitian terhadap tiga naskah kuno itu masih belum selesai. Ia pun terus merawat naskah tersebut agar bisa diterjemahkan.

“Ada ritualnya dalam merawat buku. Seminggu empat kali dirawat dengan cara dikasih asap kemenyan. Jadwalnya itu hari Senin sama Kamis setiap pagi, terus Rabu dan Minggu setiap sore,” ujar Mang Ujang,  yang baru saja mendapat penghargaan Nugra Jasadarma Pustaloka sebagai pelestari naskah kuno yang diberikan Perpustakaan Nasional pada Selasa (12/9/17). (Tim GE)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI