Pasar Limbangan Baru Dilempari Tahu Busuk

LIMBANGAN, (GE).- Para pedagang pasar korban kebakaran kembali mendatangi gedung baru pasar limbangan di Garut Jawa Barat. Para pedagang berkeliling melempari dan menendang rolling door sejumlah kios baru dan melumuri seluruh bagian dalam gedung pasar yang masih kosong dengan tahu.

Aksi para pedagang dipicu karena mereka tidak mendapatkan solusi atas terbakarnya ratusan kios di lokasi berjualan sementara pada rabu kemarin. Hingga hari Kamis (19/05/2016), para pedagangpun tak bisa berjualan karena seluruh barang dagangan ludes beserta kiosnya.

Pantauan “GE” di lokasi sambil membawa anak-anak mereka, para pedagang ini langsung melampiaskan kekesalan dengan menendang bagian depan sejumlah kios dan melemparinya dengan tahu yang telah mereka bawa sebelumnya. Sejumlah kursi dan meja plastik mereka bawa ke bagian luar pasar dan melemparkannya begitu saja.

Tak hanya itu, para pedagangpun berkeliling kios dan melumuri kios-kios tersebut dengan ceceran tahu sambil menggedor-gedor rolling door kios. Seketika lantai gedung dan dinding pasar barupun menjadi kotor karena dipenuhi oleh ceceran tahu. Sejumlah polisi yang berjaga tak bisa berbuat banyak dan hanya bisa melihat ulah para pedagang saat melampiaskan kemarahan mereka.

Salah seorang pedagang, Yanti (47), mengatakan aksi tersebut mereka lakukan karena jengkel dengan pihak Pemkab Garut yang tidak memberikan solusi kongkrit atas terbakarnya ratusan kios milik para pedagang di lokasi berjualan sementara rabu kemarin. Yanti menilai Pemkab Garut hanya berpihak kepada pengembang dan tidak mau peduli dengan nasib para pedagang yang kini kehilangan harta bendanya.

Menurut Yanti, dirinya dan ratusan pedagang lainnya bukannya tak mau pindah ke tempat baru. Namun harga kios baru yang mahal dan legalitas yang tidak jelas. Untuk itu, ia berharap Pemkab Garut bersikap tegas untuk menyegel pasar baru.
Sementara itu di lokasi pasar sementara yang terbakar/ hingga hari Kamis ini masih belum terlihat aktivitas jual-beli. para pedagang masih memilih untuk membereskan puing kios yang terbakar sambil berharap menemukan sisa-sisa barang dagangan yang masih bisa dimanfaatkan.

Yanti mengaku, ia dan semua pedagang kini kebingungan karena selain tak punya modal, merekapun tak tahu akan berjualan di mana lagi karena jika harus pindah ke gedung baru, para pedagang tak mampu membeli kios baru yang harganya mencapai 25 juta permeter. (Niknik Agustin)**

Editor : Farhan SN