Para Kepala UPT Pendidikan Diajak Bupati “Pelesiran” ke Bali, Tanggapan Miring Bermunculan

GARUT, (GE).- Pada pekan lalu sejumlah Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pendidikan, pejabat Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Garut serta Bupati Garut berangkat juga ke Kabupaten Badung, Bali. Kepergian Bupati bersama sejumlah pejabat Dinas pendidikan Garut ini ternyata menuai tanggapan miring beberapa pihak.

Meski perjalanannya ini disebut untuk study banding, tetap saja sejumlah pihak menyebutnya “pelesiran.”

Menurut Ketua Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia (APSI) Garut, Sony Mulyadi Supriadi, menyebut studi banding tersebut kurang efektif dilakukan. Apalagi sampai memboyong puluhan orang ke Bali.


“Dengan teknologi saat ini, seharusnya Pemkab Garut tak perlu sampai jauh-jauh terbang ke Bali. Studi banding itu untuk pertukaran informasi. Saya kira semua sistem dan data sudah ada di online. Jadi untuk apa pergi ke Badung,” ujarnya, Minggu (28/5/17).

Ongkos para kepala UPT Pendidikan yang berasal dari kocek pribadi juga harus dipertanyakan. Jangan sampai ada anggapan jika studi banding itu hanya sekedar piknik dibandingkan pekerjaan dinas.

“Bupati sebut ongkosnya patungan. Tapi kan keberangkatan mereka pakai ongkos sendiri. Artinya mereka ke sana itu untuk kegiatan pribadi. Sudah jelas melanggar kedinasan. Mereka juga berangkat saat jam kerja,” ucapnya.

Studi banding pendidikan ke Badung, lanjut dia, tak jelas arahnya. Badung merupakan daerah dengan APBD yang besar. Sedangkan Garut masih terbatas anggarannya. Tujuan studi banding juga harus jelas jangan hanya sebatas wacana dan ujungnya tak memberikan dampak bagi pendidikan di Garut.

“Seharusnya Bupati duduk bersama dengan para pelaku pendidikan dan masyarakat peduli pendidikan. Nanti bisa diketahui arah pendidikan Kabupaten Garut. Salah kaprah jika untuk perbaikan malah pergi ke luar kota,” katanya.

Dijelaskannya, jika memang akan melakukan studi banding, Bupati atau Disdik seharusnya mencari daerah yang topografi dan kondisi anggarannya mendekati Garut. Jangan beralasan jika Badung memiliki pendidikan yang paling baik.

“Wajar saja di Badung pendidikannya paling baik karena memiliki anggaran yang besar. Sebab kultur, rentang kendali, jumlah peserta didik tidak sama. Jadi apa yang mau diserap,” ujarnya.

Sementara itu, aktivis Masyarakat Peduli Anggaran Garut (Mapag), Haryono juga kurang menyambut baik studi banding yang dilakukan ke Bali ini. Ia menilai meski kondisi pembangunan dan pemerintahan di Kabupaten Badung, Bali jauh lebih baik dari Garut, tak bisa dijadikan ukuran untuk selalu dijadikan tempat studi banding.

“Selama ini kegiatan studi banding ke Bali sudah sering diingatkan para tokoh masyarakat. Sudah jadi sorotan berbagai kalangan. Namun anehnya semua itu tak pernah digubris,” ujar Haryono, yang juga mantan anggota DPRD Kabupaten Garut. (Tim GE)***

 

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI