Pantai Selatan Garut Diterjang Gelombang Tinggi, Nelayan Enggan Melaut

SUASANA Pantai Santolo, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat, saat liburan Lebaran 1437 H-2016/ ER "GE"

GARSEL, (GE).- Pesisir pantai selatan Kabupaten Garut, Jawa Barat, diterjang gelombang tinggi air laut. Kondisi itu membuat para nelayan tidak bisa mencari ikan ke tengah laut.

Plt Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Garut Lukman Nurhakim menjelaskan, tingginya gelombang membuat para nelayan hanya bisa melakukan aktivitas menangkap ikan di sekitar pantai. Mereka lebih memilih mencari aman ketimbang memaksakan diri ke tengah laut di saat cuaca buruk.

“Sudah dua minggu cuaca di laut ekstrim. Kondisi paling parah terjadi pada beberapa terakhir ini,” ungkap Lukman, kemarin.

Ia memaparkan tingginya gelombang air laut diperparah dengan kencangnya hembusan angin dan hujan deras. Di wilayah pantai selatan Garut, hujan deras memang kerap terjadi pada malam hari.

“Gelombang air tinggi, angin kencang, hujan terus menerus terjadi di setiap malam. Makanya nelayan Garut tidak bisa mencari ikan lebih jauh ke tengah laut,” katanya.

Meski mencari ikan di pinggiran pantai, Lukman mengaku para nelayan masih bisa memiliki penghasilan. Di bibir pantai ini mereka dapat menangkap ikan kakap meski dengan cara memancing biasa.

“Setidaknya masih ada penghasilan, walau sebenarnya cuaca buruk berdampak besar pada penghasilan nelayan. Sementara bila melaut ke tempat jauh, para nelayan bisa mendapat lebih banyak ikan dengan berbagai jenis, seperti tuna, tenggiri, dan lainnya,” sebutnya.

Para nelayan setidaknya dapat menjual ikan kakap hasil tangkapanya sebesar Rp30 ribu per ekor ke tengkulak. Sementara setelah masuk ke pasaran, harga ikan kakap bisa mencapai 60 ribu per kg.

Di tempat terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut Dadi Djakaria membenarkan situasi cuaca buruk di pesisir pantai selatan Garut. Ia pun mengimbau agar nelayan berhati-hati saat melaut.

“BMKG telah mengeluarkan himbauan peringatan waspada, bahwa perairan selatan Pulau Jawa berpotensi terjadi gelombang laut dengan tinggi antara 2,5 hingga 4 meter. Nelayan, masyarakat, hingga pengguna operator jasa transportasi laut diminta mewaspadai potensi gelombang ini,” kata Dadi.

Sebagai antisipasi tsunami, pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah memasang tower peringatan dini tsunami pada enam titik di sepanjang pantai selatan Garut. Tower yang dipasang pada 2013-2014 lalu ini akan mengirimkan sinyal ke BPBD Kabupaten Garut dan instansi terkait secara online bila ancaman tsunami terjadi.

“Tower ini di antaranya dipasang di beberapa kecamatan seperti Kecamatan Caringin, Mekarmukti, Cikelet, dan Pameungpeuk. Cara kerjanya online, yaitu mengirim sinyal semacam data seperti seismograf secara online ke modular office di BPBD Garut, provinsi, hingga ke pusat,” tandasnya.

Sementara itu BMKG melalui laman resminya, www.bmkg.go.id, juga mengimbau masyarakat terkait potensi hujan lebat yang disertai angin kencang seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, hingga pohon tumbang. Potensi hujan tersebut setidaknya terjadi di Sumatera, Pulau Jawa dan Nusa Tenggara hingga 22 September 2016 mendatang. Farhan SN***