P2TP2A : Hukum Seberat-beratnya Pembunuh Mahasiswi Akper !

GARUT, (GE).- Terkait kasus pembunuhan mahasiswi Akper Pemda Garut beberapa hari yang lalu, Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Garut mendesak agar pelaku pembunuhan dihukum berat.

Kepala Bidang Advokasi Pendampingan dan Pemulihan P2TP2A Kabupaten Garut, Nitta K Widjaya, menilai hukuman yang diterapkan aparat kepolisian terhadap pelaku, “RF” (20), tidaklah cukup.

“Hukuman yang diterapkan aparat kepolisian terhadap pelaku, yakni Pasal 365 tentang pencurian dan pemberatan itu kami nilai masih kurang. Memang pelaku mulanya melakukan pencurian, tetapi dia membunuh dan memperkosa korban,” kata Nitta, Kamis (8/12/2016).


Diungkapkannya, pelaku, warga Kampung Lebaksari RT.03/23, Kelurahan Regol, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut ini tergolong sangat sadis, yaitu memperkosa setelah korban tewas.

“Kami berupaya agar pelaku ini dihukum seumur hidup. Kami dorong aparat kepolisian menerapkan penambahan hukuman pemberatan dengan memperhatikan fakta-fakta yang terjadi,” tandasnya.

Peristiwa yang terjadi pada Jumat 2 Desember 2016 lalu itu, kata Nita, menambah deretan panjang kasus kekerasan terhadap perempuan di Kabupaten Garut. Harapannya agar aparat penegak hukum menerapkan hukuman yang setimpal, untuk menimbulkan efek jera.

“Kalau hanya dihukum 15 tahun, atau di bawahnya, si pelaku tidak akan jera. Bisa jadi selepas bebas dia akan berbuat lebih jahat,” tukasnya.

Sementara itu, Rahmi NB (28), yang merupakan kaka almarhumah (korban) menuntut keadilan atas apa yang menimpa adiknya. Rahmi bersikeras bila pelaku telah merencakan aksi yang dilakukannya.

“Pelaku itu sudah merencanakan aksinya. Dia sudah mengetahui jika adik saya tinggal seorang diri di rumah. Dia memanfaatkan situasi itu,” tegasnya.

Ditegaskan Rahmi, menuntut agar pelaku dihukum mati. “Hukuman mati setimpal dengan apa yang dilakukannya. Dia telah menghilangkan nyawa adik saya dan memperkosanya. Dengan hukuman ini, saya berharap kejadian yang menimpa almarhumah adik saya tidak terjadi kembali,” harapnya.

Dikabarkan, Polres Garut menerapkan hukuman pasal 365 tentang pencurian dan pemberatan terhadap pelaku. Kasat Reskrim Polres Garut AKP Sugeng Heriyadi menyebut, pelaku terancam hukuman 15 tahun penjara.

“Dia membunuh karena aksinya diketahui korban yang terbangun dari tidurnya. Mulanya pelaku hanya berniat mencuri barang-barang berharga di rumah korban,” tandasnya.

Sugeng memastikan bila pelaku beraksi seorang diri pada Jumat dini hari itu. “Sudah berulang-ulang kami tanyakan, dia sendirian melakukan aksinya. Nama Eful yang dia sebut-sebut pada pemeriksaan awal hanyalah akal-akalan belaka, agar dia tidak dijadikan tersangka utama dalam pembunuhan dan pemerkosaan yang dilakukannya,” ungkapnya.

Untuk mengelabui warga setelah membunuh korban, Restu sempat berpura-pura menjadi korban pembegalan di wilayah Kecamatan Banyuresmi. Lengannya yang berlumuran darah, dimanfaatkan untuk melakukan modus palsunya tersebut.

Peristiwa pembunuhan itu sendiri terjadi di rumah korban, Perumahan Banyu Herang, Kecamatan Banyuresmi, pada Jumat, sekitar pukul 01.00 WIB dini hari. Tetangga yang mengetahui peristiwa itu, menemukan korban telah terbujur kaku tak bernyawa di tempat tidurnya. (Tim GE)***

Editor: Kang Cep.

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI