Nurseno SP Utomo Sulap Lahan Kritis Menjadi Sumber Perekonomian

SEJAUH mata memandang, mungkin itu yang akan terucap jika kita melihat ratusan hektar lahan di daerah Kecamatan Pakenjeng, yang di tanami jagung. Ratusan hektar lahan ini, letaknya ada di Kampung Cisonggom, Desa Tegalgede, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut.

Warga penggarap lahan milik PT. Condong ini, menyulap lahan yang tadinya tidak produktif, menjadi lahan yang bisa menghasilkan Miliaran rupiah. Salah seorang warga penggarap lahan itu,ialah Nurseno SP Utomo. Ia, menggarap lahan seluas 10 hektar.

Nurseno yang tiada lain merupakan guru besar Paguyuban Syahbandar Kari Madi (SKM) tersebut, mengatakan pemanfaatan lahan tersebut untuk memberikan kesempatan bagi warga untuk bekerja di kebun. Tentunya akan mendapatkan upah yang layak. Bahkan upah yang di dapatkan oleh 25 orang pekerjanya tersebut, melebihi upah minimal kota (UMK) Kabupaten Garut.


Dari 10 hektar lahan yang ia garap, diperkirakan akan menghasilkan jagung basah seberat 100 ton. Angka tersebut muncul saat 10 hektar jagung yang sudah dipanen, bisa menghasilkan 10 ton. Maklum saja, jagung milik Nurseno bisa di bilang super.

“Jagung ini masuk dalam kategori super. Hasilnya, empat kali lebih banyak bila di bandingkan dengan jagung kategori tongkol kecil,” ujarnya, Rabu (10/05/2017).

Nurseno juga berharap, perekonomian masyarakat Desa Tegalgede, terutama dalam hal komoditi pertanian, bisa meningkat. Dengan adanya kerjasama antara warga penggarap dengan perusahan pemilik lahan, memang sangat terasa manfaatnya. Pasalnya, kini ratusan warga yang menggarap lahan ini bisa mendapatkan penghasilan layak.

Sementara itu, Kepala Desa Tegalgede, Kartika Ernawati, berharap kebun garapan itu benar-benar di manfaatkan warga. Karena, ini semua berkat kemauan keras warga untuk menggarap lahan milik PT. Condong Garut.

Sehingga lahirlah bentuk perjanjian antara perusahaan dengan warga melalui pemerintah desa. Isi dari perjanjian itu, ialah bentuk izin dari perusahaan yang memberikan kesempatan kepada warga untuk mengolah lahan kosong seluas milik perusahaan tersebut, untuk di tanami tanaman palawija.

Jadi kegiatan warga, dinyatakan legal. Pasalnya sudah menempuh perjanjian terlebih dahulu.

“Semua itu adalah salah satu upaya pemerintah desa dan seluruh warganya dalam meningkatkan pendapatan dari sektor pertanian,” ungkap Kartika.

Kartika menambahkan, saat ini sudah ada 260 hektar yang sudah di garap warga. Tetapi jika lahan itu sudah tidak memungkinkan lagi untuk ditanami palawija, maka kepala desa akan tarik mundur masyarakat untuk tidak menggarap lagi lahan apdeling Cisonggom milik PT. Condong tersebut. (Useu G Ramdani)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI