Nitta K Wijaya : Kekerasan Terhadap Anak di Tahun 2016 Meningkat

Kepala Bidang Advokasi Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Garut Nitta Kusnia Wijaya.

KOTA, (GE),- Kepala Bidang Advokasi Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Garut Nitta Kusnia Wijaya, menyebutkan pada tahun ini (2016) jumlah kasus kekerasan naik sebanyak 20 kasus bila dibandingkan dengan 2015 lalu.

“Pada lalu (2015/red.) kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi sebanyak 78 kasus. Sementara di 2016 hingga Oktober ini kasus kekerasan tercatat sekitar 98 kasus. Jadi da peningkatan 20 kasus,” ungkap Nitta, Senin (17/10./2016)

Bahkan, Ia menduga angka kasus kekerasan yang terjadi di masyarakat lebih banyak dari data miliknya. Pasalnya, banyak terjadi kasus kekerasan yang tidak dilaporkan ke pihak terkait.


“Data di kami mungkin hanya 98 kasus untuk 2016 ini, bisa saja angka sebenarnya lebih banyak lagi. Sebab sering terjadi tindak kekerasan, namun tidak dilaporkan ke pihak terkait,” jelasnya.

Menurutnya, sebagian besar kasus kekerasan ini terjadi di lingkungan keluarga. Para pelaku kekerasan sendiri didominasi oleh orang terdekat korban.

“Rata-rata pelakunya orang dekat korban, seperti ayah atau saudara dari korban hingga tetangga di sekitar korban tinggal,” ujarnya.

Kekerasan yang dilakukan pun bermacam-macam, seperti kekerasan fisik dan seksual. Nitta menjelaskan, terjadinya kekerasan terhadap anak disebabkan oleh kurangnya pemahaman mengenai pentingnya peran orang tua, pendidikan agama hingga latar belakang ekonomi.

“Muara dari kasus kekerasan adalah kesalahan dalam pendidikan di dalam sebuah keluarga. Secara perlahan hal ini berdampak pada perilaku menyimpang pelaku,” ucapnya.

Ditambahkannya, pihaknya berencana untuk melakukan sosialisasi mengenai perlindungan terhadap anak ke sejumlah sekolah di wilayah yang kasus kekerasannya tergolong tinggi. Ia menyebut kawasan utara Garut merupakan wilayah dengan kasus kekerasan cukup marak.

“Pihak sekolah dipilih karena selain sebagai tempat pendidikan, mereka bisa mengumpulkan para orang tua dalam sosialisasi tersebut. Kegiatan sosialisasi ini merupakan upaya kami dalam menekan kasus kekerasan terhadap anak,” ujarnya.

Penyelesaian kasus kekerasan sendiri, lanjut Nitta, kerap dihadapkan dengan kendala. Pada beberapa kasus kekerasan, penanganannya selalu terhenti setelah pihak pelaku dan korban melakukan proses mediasi.

“Padahal sebenarnya mediasi itu hanya upaya untuk meringankan hukum untuk pelaku, bukan menyelesaikan kasusnya,” tukasnya. (Tim GE)***

 

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI