Nilai Rata-Rata UN 8,7, Irama Jadi Tukang Tambal Ban

IRMA (23) selalu tersenyum saat melayani konsumennya.***

NAMA Irma Tri Resmiawati belakangan semakin dikenal. Terlebih setelah video aksi kepiawaian wanita 23 tahun ini menambal ban, viral di media sosial facebook dan instagram. Beragam komentar simpatik pun bermunculan.

Memang, seorang wanita menjadi tukang tambal ban bukan berita baru. Tapi, Irma lain ceritanya. Apalagi kalau melihat latar pendidikannya. Irma ternyata tergolong siswi yang pandai.

Bahkan, ketika lulus dari jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) SMK Ma’arif Cicalengka, Bandung, tahun 2013 lalu, Irma berhasil meraih NEM tertinggi di sekolahnya. Nilai rata-ratanya 8,7. Tak heran, banyak orang memperyanyakan kenapa ia malah memilih berprofesi sebagai tukang tambal ban.


“Banyak orang yang tanya ke saya, kenapa jadi tukang tambal ban? Ya, saya jawab. Memangnya kenapa? kan saya bisa!” kata Irma, di lapak tambal ban yang juga rumahnya, Jalan KH Hasan Arif, Banyuresmi, Garut, Jawa Barat, Senin (9/4/18).

Irma mengaku jika menambal ban memang merupakan keinginannya. Awalnya, terang Irma, ia hanya berniat membantu meringankan beban ekonomi orang tuanya.

“Tapi, kan saya juga perlu uang. Ya, jadinya saya teruskan aja jadi tukang tambal ban,” kata Irma.

Sebenarnya, Irma baru menekuni profesinya itu sejak dua tahun terakhir. Selepas lulus sekolah pada tahun 2013, ia sempat bekerja di salah satu perusahaan swasta di Bekasi dan Jakarta. Namun, karena satu dan lain hal, pada tahun 2016 ia memutuskan keluar dari pekerjaannya.

“Soalnya waktu itu sempat sakit, kemudian pulang ke Garut. Pas mau kerja lagi, ibu saya yang sakit. Jadi akhirnya saya putuskan buat diam aja di Garut,” papar Irma.

Sejak itu, Irma pun memutuskan menetap di tanah kelahirannya, sekaligus menggantikan sementara profesi ayahnya sebagai tukang tambal ban.

“Sebetulnya ayah saya yang jadi tukang tambal ban. Cuman kondisinya udah tua. Jadi saya bantu-bantu dia sambil nunggu kerjaan lain,” pungkasnya.

Menurut Irma, kalau usahanya lagi ramai, dalam sehari ia bisa memperbaiki 15 hingga 20 ban yang bocor. Sekali nambal, ia mendapat upah Rp 20 ribu. Meski jumahnya tak seberapa, Irma tetap bersyukur.

“Kalau lagi sepi, biasanya dalam sehari paling dapat 50 ribu. Tapi, kalau lagi ramai bisa dapat sampai Rp 100 ribu. Bahkan, kadang lebih. Alhamdulillah. Yang penting halal,” kata Irma.

Apapun kata orang, Irma tetap bangga dengan profesinya sebagai tuang tambal ban. Terpenting, kata Irma, ia bisa mendapat penghasilan dari memeras keringatnya sendiri. Tidak menjadi beban orang lain. (Rahma/GE)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI