Neng Rika : Menjadi Bidan adalah Panggilan Jiwa

PROFESI yang digelutinya merupakan panggilan jiwa dan terdorong rasa peduli akan kesehatan sesama, yakni kaum hawa. Adalah Neng Rika Rismayanti , sosok bidan praktek mandiri asal Desa Cibunar, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Sebenarnya Neng Rika bukan spesialis bidan Desa, namun karen kepeduliaannya akan kesehatan perempuan, ia dedikasikan keahliannya untuk melayani dan mensosialisasikan kesehatan untuk ibu hamil.

Dalam kesehariannya, Neng Rika kerap kali menghabniskan waktu bekerjanya di lapangan daripada menunggu pasien di Puskesmas. “ Ya, saya lebih sering ‘menjemput bola,’ memantau langsung kondisi warga di kampung,” tuturnya, saat diwawancarai ‘GE’ di kediamannya. Belum lama ini.

Akhir-akhir ini, Neng juga tengah getol mendampingi Anggota DPR RI dari Komisi IX, Hj.Siti Mufattahah, ia didaulat menjadi salah seorang tim medis di setiap gelaran bhakti sosial pengobatan masyarakat.

“ Ibu (Siti Mufattahah/ red) itu adalah tauladan bagi saya. Beliau sering berkunjung ke daerah daerah langsung berhadapan dengan warganya. Disamping itu, Ibu juga kan bertugas di Komisi IX yang salah satunya membidangi Kesehatan.” Ungkap Akbid YPSDMI Kebidanan Garut ini, seraua melempar senyum simpulnya.

Dikisahkannya, sebelum menjadi bidan mandiri di Kampung halamannya, ia sempat bekerja maggang di RSUD R Syamsudin SH di kota Sukabumi. Namun karena terpanggil jiwanya, kemudian Neng memtuskan bergabung dengan rekan-rekannya seprofesi menjadi bidan praktek mandiri di tanah kelahirannya Desa Cibunar.

“Dari dulu saya senang bidang kesehatan. Suka bila melihat dokter atau bidan yang sedang memeriksa pasieun gawat darurat. Berkecimpung bersama masyarakat secara langsung juga memang hobi sejak kecil. Untuk itu, setamat SMA saya lebih memilih jurusan Kebidanan,” kisahnya.

Dikatakannya, profesi bidan itu idealnya bisa menangani seluruh daur hidup kesehatan wanita. Mulai dari calon pengantin, masa pra-hamil, lalu masa konsepsi atau pembuahan, lalu hamil, melahirkan, nifas, Keluarga berencana , imunisasi untuk bayinya, di masa antar dua kehamilan, remaja, hingga masa menjelang menopouse. “ Semua alur kehidupan wanita itu merupakan sasaran yang harus ditrangani bidan.” Tandasnya.

Neng Rika mengakui, setelah berada langsung ditengah-tengah masyarakat jadi bisa lebih mengerti perasaan dan kondisi kejiwaan sesama wanita. Dengan profesinya sebagai bidan, bisa berbagi membantu mengurangi rasa sakit wanita saat melahirkan.

“Alhamdulillah dengan terjun langsung, saya bisa ikut berperan membantu ibu ibu dalam melahirkan. Bisa ikut membantu mensehatkan masyarakat, dan membantu dalam pembangunan meskipun hanya sedikit adalah kebahaiaan dan kebanggan tersendiri bagi saya.” Tuturnya.

Diharapkannya, pemerintah bisa lebih memperhatikan profesi atauy lulusan kebiadanan ini. Walau setiap tahunnya lulusan kebidanan ini melimpah, sehingga diperlukan penanganan serius dari pemangku kebijakan.

“Harapan itu selalu ada. Memang kita dituntut untuk profesional, cepat, cerdas. Namun mohon untuk difasilitasi. Karena , tanpa lahan praktek kita akan sulit untuk berkembang dan berkarya. Padahal masih banyak daerah yg membutuhkan tenaga kesehatan.” Harapnya.

Dikatakannya, bidan merupakan ujung tombak tinggi rendahnya derajat kesehatan di setiap daerah. Diantaranya tugas bidan itu, bagaimana berupaya mengurangi angka kematian Ibu dan angka kematian bayi, bila (AKI /AKB).

“Jadi, bidan itu tidak hanya menangani yang melahirkan saja, tetapi seluruh daur kehidupan wanita,” tandasnya. Tutur Neng Rika, yang berharap bisa melanjutkan study-nya ke jenjang yang lebih tinggi lagi. (TAF Dipraja Kusumah)***