Negeri Bernurani Mati

Oleh; Nisa Agustina, M.Pd

HAMPIR sebulan yang lalu, kita digegerkan oleh kasus Yuyun yang ditemukan di semak belukar kebun karet tak jauh dari pemukiman warga dengan kondisi tidak bernyawa. Kasus pemerkosan yang disertai pembunuhan terhadap siswi SMP 5 Satu Atap Kecamatan Padang Ulak Tanding (PUT), Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu ini sudah terbongkar oleh aparat kepolisian. 12 dari 14 pelaku telah diringkus dan dinyatakan sebagai tersangka. Dua lainnya masih menjadi buronan.

Sedangkan 12 pelaku yang telah ditangkap, dua diantaranya telah menjalani masa persidangan. Kini telah masuk pada agenda penuntutan. Sementara 10 tersangka sebentar lagi akan ikut mempertanggungjawabkan perbuatannya di meja hijau. Dari hasil pemeriksaan aparat Polres Rejang Lebong dan Polsek PUT, pelaku menodai korban hingga menghabisi nyawanya sangat begitu sadis dan tidak manusiawi.

Tak hanya Yuyun, bulan Februari lalu, seorang anak perempuan juga diperkosa beramai-ramai oleh enam temannya yang juga masih di bawah umur. Peristiwa itu terjadi di kelurahan Talang Benih, kecamatan Curup, Bengkulu. Korban memang selamat, tapi trauma yang dialaminya hingga kini masih membekas dalam.

Tindakan pembunuhan dan pemerkosaan ini membuka catatan suram terhadap kasus serupa yang juga menimpa gadis cantik penjual angkringan bernama Eka Mayasari yang pernah mencuat di publik. Diberitakan sebelumnya, Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda DIY berhasil membekuk pelaku pembunuhan terhadap Eka Mayasari yang ditemukan meninggal di kontrakannya kawasan Janti, Banguntapan, Bantul, (02/05/2015) lalu.

Tersangka berinisial RMZ (19) yang tak lain merupakan pelanggan angkringan korban. Pengamen yang tinggal di Wirogunan, Mergangsan, Yogyakarta ini ditangkap Polisi setelah bersembunyi di kamar kos ibunya di kawasan Kutoarjo, Jawa Tengah, (20/05/2015).

Selayaknya semua persoalan ini mendapat perhatian serius semua pihak. Berulangnya berbagai kasus ini menjadi penanda telah matinya nurani generasi bangsa dan betapa negara sangat lemah melindungi generasi masa depan. Negara seakan membiarkan terjadinya kekerasan. Negara absen mencegah dan menindak perilaku bejat ini agar tidak terulang. Negara seharusnya khawatir, jika hal ini dibiarkan, akan mengancam eksistensi sebuah bangsa.

Secara statistik, angka kejahatan seksual terhadap anak dan perempuan terus naik dari tahun ke tahun. Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA), selama 2015, mencatat korban kasus kekerasan seksual didominasi anak. Terhitung sejak Januari hingga Agustus lalu, ada 1.726 kasus yang melibatkan anak-anak.

Terdapat sekitar 58% perkara kekerasan seksual. Sekitar 1.000 kasus kekerasan seksual anak seperti sodomi, pemerkosaan, hubungan seks sedarah (incest), dan lain-lain, selebihnya kekerasan fisik serta penelantaran. Berdasarkan data juga jelas bahwa korban pelecehan seksual terhadap anak meningkat signifikan setiap tahun. Kekerasan seksual anak sudah sampai lampu merah.

Kondisi di atas adalah potret masyarakat rusak disebabkan praktik sistem kapitalisme yang menghasilkan beragam kerusakan kehidupan. Kemiskinan massal telah menjadi lahan subur berkembangnya beragam kerusakan. Juga interaksi sosial yang kian jauh dari Islam. Lihatlah, prinsip takwa tidak menjadi pijakan kehidupan masyarakat. Sebaliknya, prinsip kebebasan benar-benar sukses besar tertanam dan dipraktikkan masyarakat.

Dunia pendidikan pun menunjukkan kegagalan. Pendidikan gagal mencetak kepribadian mulia pada individu. Pendidikan hanya menjadi produsen orang-orang yang materialistis minus benteng iman. Pelajaran agama disingkirkan, kalau pun ada porsinya hanya melengkapi bukan menjadi dasar penerimaan semua pengetahuan lain.

Sementara media massa setiap saat menjajakan gaya hidup liberal hingga ke sudut-sudut kamar hampir di seluruh rumah penduduk Indonesia. Masyarakat dicekoki budaya permisif (serba boleh) melalui musik, sinetron dan film. Ditambah perkembangan teknologi digital, dimana konten porno pun sangat mudah hadir dalam genggaman.

Bagaimana benteng keluarga dan individu tidak jebol jika keburukan terus ditanamkan dan menyerang? Sudah benteng individu jebol, perisai negara tidak ada. Negara membiarkan berkembangnya pornografi dan pornoaksi. Tidak ada pemblokiran yang berarti, padahal itu sangat bisa dilakukan jika pemerintah berkehendak. Negara juga setengah hati membabat habis peredaran minuman keras dan narkoba yang telah mewabah hingga menembus pelosok kampung terpencil.

Penyelesaian kasus Yuyun dan kasus kekerasan seksual lainnya dengan hanya menangkap dan mengadili pelaku atau bahkan di ‘kebiri’ saja jelas-jelas sangat tidak cukup. Upaya legislasi RUU Penghapusan Kekerasan Seksual dan sekaligus kampanye pendidikan seksual yang lebih komprehensif untuk mencegah kekerasan berbasis gender juga tidak akan pernah ampuh untuk memerangi kekerasan seksual terhadap perempuan. Masalahnya adalah pada sistem demokrasi itu sendiri.

Sistem demokrasi sekuler liberal yang dipraktekan Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya, telah menjadikan kaum perempuan sebagai obyek pemuas hasrat kaum lelaki, mendorong individu untuk mengejar keinginan egois jasmaniah mereka, mempromosikan hubungan di luar nikah, memelihara kultur pergaulan bebas dan memurahkan hubungan antara pria dan wanita.

Semua ini telah mematikan nurani dan menumpulkan kepekaan terhadap rasa jijik yang seharusnya dirasakan kaum lelaki saat martabat kaum perempuannya dinodai. Inilah bukti bahwa demokrasi adalah sistem rusak dan menjadikan negara pengusungnya abai dalam memberikan rasa aman terhadap rakyatnya.

Derita Yuyun dan korban-korban pembunuhan sebelum dan sesudahnya, hendaknya memanggil kita untuk sadar bahwa kejahatan system dan media sekuler tidak berhenti di tingkat perusakan dan penawaran gaya hidup Barat sebagai model kehidupan, namun sudah masuk ke ranah memarjinalkan kaum muslimin tanpa disadari.

Semua ini tentunya menjadi pengingat yang tegas bahwa tidak secuil pun kebaikan dapat datang kepada putri-putri umat ini melalui sistem demokrasi sekuler kufur buatan manusia yang telah nyata terbukti tidak mampu memecahkan begitu banyak masalah politik, ekonomi, dan sosial yang mempengaruhi perempuan di dunia Muslim. Oleh karena itu, melanjutkan kehidupan sepanjang jalan demokrasi di negeri-negeri Muslim kita hanya bagaikan memegang janji akan kegagalan berulang kali bagi kaum perempuan di bumi Nusantara ini.

Buah apa yang dapat dipetik dari perjuangan untuk suatu sistem yang cacat seperti ini -di mana kekerasan, pelecehan seksual, eksploitasi, dan kemiskinan menjangkiti kehidupan jutaan perempuan di seluruh dunia- yang dapat diperoleh kaum perempuan di dunia Muslim, selain kekecewaan yang lebih mendalam, penghinaan, penderitaan, dan mimpi-mimpi yang hancur?

Sudah saatnya kita memperjuangkan hadirnya negara yang memiliki sistem perlindungan utuh bagi perempuan dan anak dari beragam tindak kekerasan. Pasalnya, maraknya kekerasan seksual yang terbukti makin gawat ini justru lahir dari kombinasi beragam persoalan lain yang tidak mudah diatasi tanpa perubahan menyeluruh. Yakni perubahan sistem demokrasi sekuler liberal yang dipraktikkan saat ini dengan sistem Islam, khilafah Islamiyah.

Penulisa adalah pemerhati sosial-politik. Tinggal di Karangpawitan, Garut.