Misteri Curug Nini. Seorang Nenek bersama Bayi Asuhannya Terperosok dan Menghilang Entah ke Mana!

PARA wisatawan lokal sedang menikmati pesona Curug Nini. (Roy/GE)***

KEBERADAAN Curug Nini kian hari semakin popuper dengan cerita angkernya. Air terjun (curug/Sunda) yang terletak di Kampung Nyalindung, Desa Awassagara, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat, itu pun masih menyimpan sejumlah misteri.

Nama Curug Nini sendiri tidak terlepas dari cerita turun-temurun yang berkembang di lingkungan masyarakat sekitar. Konon, beratus tahun lalu ada seorang nenek yang sudah pikun bersama bayi asuhannya terperosok ke dalam air terjun. Warga yang mendengar kejadian tersebut langsung beramai-ramai berusaha mencari sang nenek dan bayi asuhannya. Namun, setelah dicari-dicari, jasad keduanya tidak ditemukan. Hilang tanpa jejak, bak ditelan bumi.  Warga mun heboh. Dan sejak peristiwa tersebut, mereka menamai kawasan air terjun tersebut dengan sebutan Curug Nini.

“Jasad nenek dan bayi tersebut, hingga kini tidak pernah ditemukan. Entah mengapa?” ungkap Ridwan, salah seorang warga Cikelet, kepada “GE”, Minggu (3/4/17).


Kesan angker Curug Nini hingga kini tetap terasa. Karena itu, untuk menghindari hal-hal tidak diinginkan, warga setempat sepakat menegakkan aturan. Hukum adat, atau yang sekarang populer dangan istilah kearifan lokal. Para pengunjung tidak boleh bersikap seenaknya dan berbicara sompral (menantang sembarangan/red) selama berada di destinasi wisata tersebut.

Konon, para pengunjung yang memiliki sikap dan tabeat kurang terpuji, kerap disuguhi aroma kotoran bayi cukup menyengat. Keanehan tersebut akan hilang dengan sendirinya manakala si pengujung merubah sikap prilaku dan menyadari kesalahan telah melanggar pantangan (larangan/red).

Aturan lainnya. Kecuali ikan hasil memancing, siapa pun tidak boleh membawa pulang bebatuan yang ada di sana, baik dalam ukuran kecil maupun besar. Apalagi untuk jenis pepohonan, jangankan dicabut, sekadar memetik tangkainya saja dilarang keras. Selain itu, selama berada di lokasi, para pengunjung tidak boleh berkelakar berlebihan.

Karena itu, hingga kini kawasan wisata Curug Nini terpelihara keasriannya. Tidak ada tangan-tangan jahil berani merusaknya. Terlepas dari urusan takhayul dan sebagainya, penegakan hukum adat tersebut sangat tepat. Istilah sanget dan pamali tetap dipertahankan. Itulah yang membuat kondisi alam di sekitar Curug Nini hingga kini tetap lestari.

“Kita harus meghormati kearifan lokal tersebut sebagai bahagian dari upaya pelestarian alam,” ungkap Ridwan.

Jalanan Berbatu

Untuk mencapai Curug Nini, dari Jalan Raya Cikelet-Garut tepatnya dari bilangan Kampung Kiara Kohok, Desa Pamalayan, Kecamatan Cikelet, kita harus membelokkan kendaraan ke arah kanan menuju Desa Awassagara, sejauh 10 km. Sekira 5 km di antaranya, mulai dari Kampung Cipaku sampai Awassagara, kita akan berjibaku melewati jalanan berbatu-batu tanpa aspal hingga sampai di Kampung Nyalindung.

Karena itu, bagi yang berminat ke Curug Nini, disarankan menggunakan kendaraan berkaki tinggi. Atau, dari Kiara Kohok, kita bisa memakai jasa ojek yang sudah terbiasa melintasi kawasan tersebut.

Dari Kampung Nyalindung, petualangan berlanjut dengan berjalan kaki menuruni tebing terjal. Pengunjung tidak ada pilihan, selain berjalan kaki. Masalahnya, jalan menuju kawasan air terjun sekira 1 km tidak bisa dilalui kendaraan roda dua sekalipun. Tidak perlu khawatir, pemandangan alam nan indah dijamin bisa menghapus rasa lelah Anda.

Curug Nini merupakan tumpahan air dari ketinggian, tertampung di beberapa parit berasal dari kawasan Desa Linggamanik dan Desa Awassagara. Ketinggian air terjun, tergantung debit air pada saat itu. Kalau sedang musim hujan, ketinggian air terjun mencapai 6-7 meter sehingga mampu menyuguhkan cipratan muntahan buih air cukup luas. Namun, pada musim kemarau, ketinggiannya stabil antara 2-3 meter.

Curug Nini memang tidak terlampau tinggi. Air terjun ini merupakan hulu sungai Cilauteureun yang mengalir melewati beberapa wilayah menuju muara Cilauteureun, Pelabuhan Santolo.

Sungai Cilauteureun sendiri menjadi sangat terkenal karena sekaligus merupakan nama dermaga tempat berlabuh ratusan kapal dan perahu para nelayan. Tepatnya di kawasan wisata Santolo, Desa Mancagahar, Kecamatan Pameungpeuk. Berbatasan dengan Desa Pamalayan, Kecamatan Cikelet, Garut Selatan.

Sebelum tertumpu di muara beradu dengan asinnya air laut, dari Curug Nini aliran sungai Cilauteureun mengitari kawasan beberapa desa. Di wilayah Kecamatan Pameungpeuk, yakni Desa Bojong dan Mancagahar sekitar objek wisata Sayangheulang. Sedangkan di Kecamatan Cikelet, yang terlewati aliran sungai Cilauteureun yaitu Desa Awassagara dan Pamalayan.

Sensasi yang bisa dinikmati di sekitar Curug Nini, para pengunjung dapat merasakan udara sejuk dihiasi kicauan merdu beraneka burung hutan. Di sekitar tumpahan curugan dijadikan arena memancing dengan beragam jenis ikan yang bisa didapat, seperti deleg, nilem dan lele.

Tetapi, kalau mau berenang, para pengunjung harus berhati-nati. Selain kedalamannya tidak dapat diprediksi, di sebelah kiri curugan dibentengi dinding batu menjulang tinggi hinga puluhan meter, dan di sebelah kanannya terdapat berbagai jenis pepohonan dan hutan bambu. (Roy/GE)***

Editor : SMS

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI