MGMP PJOK Kabupaten Garut Gelar Persilat

PARA pegurus MGMP PJOK Kabupaten Garut berfoto bersama anggota MGMP PJOK Rayon 6 (Bayongbong) di sela pertandingan bulutangkis di Gor Desa Cisurupan, Kecamatan Cisurupan, Garut, Jabar, Sabtu (21/4/18). (Foto : Sony MS/GE)***

GARUT, (GE).- Dalam rangka meningkatkan tali silaturahmi dengan sesama guru Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan (PJOK),  Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) PJOK Kabupaten Garut menggelar pertandingan silaturahmi (persilat) berbagai cabang olahraga, Sabtu (21/4/18). Cabor yang dipertandingkan di antaranya bulutangkis, bola voli, futsal, dan tenis meja.

Persilat sendiri mempertemukan para atlet pengurus MGMP Kabupaten dengan anggota MGMP PJOK Rayon 6 (Bayongbong). Kegiatan ini sekaligus sebagai ajang refreshing setelah mereka disibukkan dengan kegiatan tahunan penyelenggaraan O2SN dan ujian sekolah.

“Sekarang ada waktu luang. Ya, kami gunakan saja untuk melakukan kegiatan lawatan ke Rayon 6,” terang Ketua MGMP PJOK Kabupaten Garut, Idang Masduki, S.Pd, kepada GE di Gor Bulutangkis Desa Cisurupan, Sabtu (21/4/18).


Idang berharap, dengan memperbanyak kunjungan ke daerah, diketahui berbagai hambatan yang dihadapi para guru dalam menjalankan tugasnya di lapangan. Semua hambatan yang ditemui, kata Idang, akan dijadikan masukan untuk dibicarakan dalam rapat-rapat MGMP kabupaten.

“Kegiatan ini memang bukan sekadar berolahraga untuk mencari hiburan. Yang terpenting, ajang pertemuan seperti ini bisa dijadikan wahana diskusi dan saling bertukar pikiran tentang persoalan yang dihadapi dalam mengelola pembelajaran olahraga di sekolah masing-masing,” tambah Idang, didampingi Ketua MGMP Rayon 2, Tedi Suhendar, S.Pd, dan Ketua MGMP Rayon 1, Asep Sofyan, S.Pd.

Sementara itu, Ketua MGMP PJOK Rayon 6, Taofik Ridwan, S.Pd, M.Pd, mengaku sangat gembira dengan adanya kegiatan semacam ini. Menurutnya, persilat merupakan kegiatan positif yang harus dijadikan agenda rutin MGMP PJOK Kabupaten Garut.

Di rayon 6 sendiri, kata Taofik, anggota MGMP PJOK mencapai 50 orang. Mereka kerap dihadapkan pada masalah serupa dalam menjalankan tugasnya.

“Yang menjadi hambatan utama bagi kami sebagai guru olahraga yaitu masalah kurangnya fasilitas lapangan. Masih banyak sekolah yang belum memiliki sarana lapangan olahraga yang memadai, sekalipun disesuaikan dengan ketentuan standar pelayanan minimal pendidikan,” katanya.

Karena itu, Taofik berharap, pihak pemerintah tidak sekadar memperkuat program literasi. Program keolahragaan di sekolah juga penting diperhatikan, mengingat setiap tahun para guru PJOK juga dituntut mampu membuktikan prestasi siswa binaannya di ajang O2SN.

“Saya kira, agar prestasi keolahragaan di sekolah meningkat, tentu harus didukung dengan ketersediaan sarana prasana belajar yang memadai,” tandas Taofik. (SMS/GE)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI