Meski Harga Kebutuhan Pokok Naik, Pasokan Barang Dijamin Aman

Kadisperindagpas Garut, Wawan Nurdin (tengah/berkumis) saat memantau harga dan kualitas barang, Jumat (3/6/2016)/ Selamet Timur 'GE.'

TARKID, (GE).- Beberapa hari menjelang memasuki bulan suci Ramadhan 1437/2016 M, harga sejumlah komoditi kebutuhan pokok sehari hari mulai mengalami kenaikan. Ini terjadi, baik di pasar tradisional maupun di pasar modern. Namun demikian, kenaikan harga tersebut lebih disebabkan karena meningkatnya permintaan. Sedangkan stok barang diperkirakan tidak mengalami kekurangan.

Untuk ini, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Garut menjamin pasokan barang selama Ramadan aman. Kenaikan harga yang terjadi akibat permintaan yang banyak dari masyarakat.

Kepala Disperindag Kabupaten Garut, Wawan Nurdin, mengatakan pihaknya terus mengawasi pasokan barang. Baik di pasar tradisional maupun pasar modern. Di pasar tradisional, kenaikan harga sudah mencapai 30 persen.

“Kalau di pasar modern seperti swalayan, super market maupun mini market harganya telasih lebih stabil. Bahkan untuk daging sapi harganya hanya Rp 88 ribu. Sedangkan di pasar tradisional mencapai Rp 115 ribu,” ujar Wawan usai meninjau kenaikan harga di Pasar Guntur Ciawitali, Jumat (3/6/ 2016).

Untuk pasar modern, lanjut Wawan, pihaknya akan memantau barang yang mendekati tanggal kadaluarsa. Apalagi di bulan Ramadan banyak kue kaleng yang diburu warga. “Pasokan barang akan mencukupi selama Ramadan. Harga daging memang akan meningkat. Terutama mendekati lebaran,” katanya.

Guna mengantisipasi kenaikan harga dan membantu sebagian masyarakat tidak mampu, Disperindag akan menggelar operasi pasar murah di empat tempat. Pasar murah itu akan dilaksanakan mulai tanggak 27 sampai 30 Juni mendatang.

Terkait langka dan mahalnya harga gas 3 kilogram, Wawan mengaku telah memanggil pihak Hiswana Migas. Pihaknya akan menelusuri mahalnya harga gas bersubsidi tersebut.
“Nanti kami akan minta keterangannya dari Hiswana Migas kenapa bisa sampai langka. Padahal pasokannya selama ini masih aman,” ujar Wawan.

Menurut Wawan, yang menjadi permasalahan mahalnya harga gas setelah beredar dari pangkalan ke pengecer. Saat sampai di pengecer, pihaknya tak bisa melakukan pengawasan.
“Kami hanya bisa monitor sampai pangkalan. Tapi nanti setelah ada keterangan dari Hiswana Migas akan ketahuan titik masalahnya,” katanya

Wawan mengakui, kadang masyarakat terlalu panik menghadapi bulan Ramadan dengan memborong dan menyimpan tabung gas 3 kilogram. Akibatnya tabung gas di pasaran menjadi langka.

“Harga juga harusnya hanya Rp 16 ribu di pangkalan itu. Kalau sudah di pengecer memang sulit diatasi. Nanti mulai 4 Juni akan ada tambahan pasokan untuk tabung gas,” ucapnya. (Slamet Timur).***