Menghindari Sikap Ambisius Jabatan

Drs. Warjita

Oleh: Drs. Warjita

Purwacarita

TIDAK sedikit pemimpin di negeri ini yang takut akan kehilangan jabatan struktural terutama di kalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS) sehingga melakukan berbagai cara agar “aman dan terselamatkan”. Berbagai usaha dilakukan untuk membuat senang atasan. Bekerja giat jika dilihat atasan dan melaporkan hal yang baik-baik, atau bergerak jika sudah disuruh tanpa adanya inisiatif untuk memulai segala sesuatunya dengan resiko-resiko di baliknya, Asal Bapa Senang (ABS). Hal demikian, relatif masih terjadi di sekeliling kita saat ini.


Seyogiyanya sebagai seorang PNS harus menyadari, dipilih dan diganti pada sesuatu jabatan adalah hal biasa. Apa lagi jika kita benar-benar sadar bahwa jabatan itu amanah, dan tidak kekal. Namun, masih saja banyak yang berdebar-debar ketika detik-detik pemilihan atau pelantikan itu berlangsung. Ada kasak-kusuk, ada harapan, ada bahagia, ada juga yang kemudian kecewa.

Padahal pergantian itu bukan luar biasa. Tidak mungkin semua bisa mendapatkan jabatan. Alasan senioritas dan pangkat/golongan lebih tinggi bukan syarat mutlak untuk mendapat sebuah jabatan tinggi, namun idealnya mesti dibarengi dengan skill khusus selain ilmu yang dimiliki dalam kepakarannya. Jika kita ambil contoh sosok pejabat ideal ialah yang memiliki sikap kebijaksanaan, ketegasan, adil, kemampuan berkomunikasi dan membangun jaringan.

Walau demikian, memang berkeinginan untuk mendapatkan sebuah jabatan pun adalah wajar, manusiawi, karena manusia dikodrati Al-Kholik akal dan pikiran agar mampu berusaha mendapat dan meraih sesuatu yang diharapkan dalam hidupnya.

Bagi kebanyakan PNS mendapatkan jabatan tertentu akan berdampak pada status sosial dan ekonomi yang mumpuni, itu realita yang terjadi sejak masa kolonial hingga sekarang. Di Jawa masa kolonial munculnya kaum priyayi, atau elite politik adalah salah satu contoh bentuk lahirnya komunitas baru yang lahir karena mereka diangkat sebagai pegawai pemerintah (pangreh praja), yang dibekerjakan Pemerintah Kolonial waktu itu.

Jadi kaum Priyayi atau elite politik muncul seiring dengan banyaknya kaum pribumi yang menjadi pegawai pemerintah kolonial setelah adanya Politik Etis (yang dikenal politik balas budi) akhir abad IX. Mereka bukan keturunan langsung para dalem (bupati).

Tentu saja para priyayi dan elite politik ini dengan sendirinya terangkat status sosialnya walau masih satu level di bawah para bupati, karena untuk menjadi bupati harus keturunan dalem itu sendiri. Para priyayi atau elite politik ini bisa menduduki jabatan mulai lurah, wedana, kontroler, hingga patih.

Ambisi untuk mendapat sesuatu yang diinginkan adalah hal wajar, asal jangan ambisius, karena Allah SWT pun sangat tidak menyukai pada hal-hal yang berlebihan. Bagi orang yang ambisius untuk mendapatkan sebuah jabatan yang diinginkannya akan dilakukan dengan berbagai cara, misalnya cara yang inkonstitusional, atau jual-beli jabatan sekali pun. Sikap ambisius bertendensi negatif manakala seseorang berubah menjadi oportunis untuk meraih apa yang diinginkannya.

Jika seseorang telah bersikap oportunisme maka kecenderungan bersikap hedonisme tak kan terelakkan, yakni pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup (ubudiyah). Bagi para penganut paham hedonisme, bersenang-senang, pesta pora, dan pelesiran merupakan tujuan utama hidup, entah itu menyenangkan bagi orang lain atau tidak. Jika sudah terjebak ke dalam sikap hidup hedonisme, maka kehancuran anak bangsa tinggal menunggu waktu.

Refleksi dari peristiwa Khalid bin Walid

Suatu hari Umar bin Khattab mencopot Khalid bin Walid dari jabatannya sebagai Panglima Perang. Keputusan Umar itu tentu saja menuai keterkejutan dan kaget bagi semua prajurit dan seluruh elemen kekuatan kekuasaan Khalifah Umar bin Khattab. Bagaimana tidak, seorang Khalid bin Walid sahabat nabi yang sebelum masuk Islam adalah pemimpin pasukan berkuda Quraisy, pahlawan bagi kaum Quraisy.

Khalid bin Walid pernah mengalahkan pasukan muslim dalam Perang Uhud dengan strategi jitunya. Setelah masuk Islam Khalid bin Walid menyertai lebih dari 100 peperangan, memimpin dalam Perang Muktah melawan Romawi, berperang melawan Persia, memimpin melawan tentara Romawi di Yarmuk, merebut Damaskus dari Romawi, menaklukkan Mesir, merebut dan menyelamatkan Baitul Maqdis.

Khalid bid Walid menjadi komandan favorit di jaman Rosulullah dan Khalifah Abu Bakar Ass-Sidiq. Di saat prestasi puncaknya sebagai Panglima Perang, dibanggakan dan dielu-elukan oleh umat itulah kemudian Umar bin Khattab mencopot jabatannya. Namun apa yang terjadi? Walaupun sangat terkejut dengan keputusan Umar bin Khattab, namun Khalid bin Walid menerima sangat ikhlas.

Hanya ia meminta kepada Umar tetap ingin berangkat ke medan perang. Umar bin Khattab pun menyetujui keinginan Khalid. Di perjalanan menuju perang, seluruh prajurit sangat heran dan merasa tidak mengerti, mengapa seorang Khalid bin Walid mau bergabung di tengah prajurit, menjadi prajurit biasa kembali.

Bukankah ini menyangkut eksistensi diri dan harga diri seorang Khalid bin Walid sendiri selaku mantan Panglima Perang yang sangat populer sejak jaman Rosulullah, ditakuti musuh-musuh dan memiliki kharisma luar biasa di mata seluruh prajurit. Untuk hal-hal itu Khalid bin Walid hanya berucap, Ia berjuang tidak lain dan bukan, kecuali hanya untuk Dienul Islam. Khalid bin Walid berkata, “ Aku berperang bukan untuk Umar, tapi untuk Rabb Umar”. Maka jika sebelumnya Khalid berperang sebagai panglima setelah itu ia berperang sebagai prajurit biasa.
Lalu, mengapa Khalid bin Walid dicopot?

Ternyata bukan tidak beralasan Umar bin Khattab mencopot Khalid bin Walid dari jabatannya sebagai Panglima Perang. Setidaknya, ada 3 (tiga) alasan yang dikemukan Umar, yaitu:

1. Umar tidak ingin Khalid menjadi manusia sombong;
2. Umar tidak ingin pemimpin tidak lebih populer dari bawahannnya (dalam konteks ini kedudukan Umar sebagai pemimpin dengan Khalid sebagai pembantu Umar); dan
3. Umar tidak ingin melihat seluruh prajurit mengkultuskan Khalid bin Walid, sebab hal itu akan menumbuhsuburkan kemusryikan baru.

Ketiga alasan yang dikemukakan oleh Umar bin Khattab tersebut diterima tanpa reserve oleh Khalid bin Walid sebagai suatu keputusan yang “menyelamatkannya”. Khalid justru berterima kasih kepada Umar terhadap pencopotan dirinya. Ia menerima dengan ikhlas pencopotan tersebut dan tetap ikhtiar beraktivitas bergabung menjadi prajurit di bawah kepemimpinan baru Panglima Perang yang ditunjuk oleh Umar bin Khattab. Suatu sikap yang sangat terpuji dari seorang Khalid bin Walid.

Pamunah

Berambisi mendapatkan sebuah jabatan sah-sah saja, selama berdasarkan pada kemampuan diri, potensi, dan prestasi. Tetapi jika terjebak menjadi ambisius mesti dihindari, karena akan terjerumus dalam kenistaan, berbagai cara dilakukan, tak peduli halal atau haram asal jabatan itu dapat terengkuh. Naudzubillah. Semestinya mendapatkan pekerjaan dan jabatan tiada maksud dan tujuan lain, selain beribadah dan mendapat ridha Allah SWT.

Di luar itu semua sudah pasti Islam mengharamkannya. Kehilangan jabatan semestinya kita sadari dan terima, itu hal yang biasa. Memang, jika tak disadari apa yang kita terima adakalanya terasa buruk, dan menyakitkan, namun mungkin itu yang terbaik pandangan Allah SWT. Segala yang terjadi menimpa diri sudah tentu akan ada hikmahnya asalkan kita pandai mensyukurinya.

Pelajaran yang bisa kita petik dari dialog antara Syaidina Umar bin Khattab dengan Khalid bin Walid dari kisah tersebut di atas adalah sikap acceptence (menerima dengan ikhlas dan penuh kesadaran) dan interest (sikap menghormati dan menghargai) Khalid terhadap Umar perlu menjadi refleksi kita semua. Lalu, sudah siapkah kita menerima seperti apa yang dilakukan Khalid bin Walid manakala kehilangan jabatan?

Penulis: Pemerhati sejarah dan budaya Garut
Tinggal d kota Garut.

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI