In Memoriam Doni Martin, Sepenggal Kisah Pertemanan Bersama Sang Jurnalis TV

    Album foto kenangan bersama almarhum Doni Martin (berkemeja abu abu), sesaat setelah peliputan di gedung Pendopo, beberapa waktu yang lalu. foto: Dokumen www.garut-express.com***

    BAK petir di siang bolong, kepergiannya ke alam keabadian begitu menyentak. Doni Martin namanya, seorang jurnalis TV di salah satu TV swasta nasional. Bagaimana tidak, beberapa hari sebelum meninggal, Almarhum sempat berinteraksi dengan penulis. Bahkan, Ia sempat menyampaikan niatnya untuk beribadah kurban. Namun takdir Alloh yang sangat rahasia berkata lain, usia sang jurnalis TV ini harus ternyata harus terhenti sebelum perayaan Idul Adha 1438 Hijriyah.

    Pertemanan bersama Almarhum, lebih dari dua tahun. Pertemanan khas jurnalis itu tampak terasa begitu singkat. Hingga tulisan ini dibuat, masih belum percaya, Doni Martin telah tiada. Bagi penulis sang jurnalis itu seolah masih ada di dunia ini. Duka mendalam sudah tentu dirasakan, namun ini sebuah takdir yang tak bisa dihindarkan.

    Foto kenangan bersama Almarhum, Doni Martin (berkemeja kotak kotak) saat agenda peliputan kasus penistaan agama di kawasan Pakenjeng Garut.***

    Kenangan bersama saat merepertase berbagai liputan serasa masih tampak di pelupuk mata. Kerinduan saat bersama selama menjalankan tugas jurnalistik kini tinggal kenangan. Hingga hari ini kerinduan itu penulis coba obati dengan tulisan nan sederhana ini.


    Berikut sepenggal kisah bersama Almarhum, yang ditulis beberapa hari setelah kepergiannya.

    “Assalamualaikum, punten kang kumaha tos siap?  Itulah suara khas yang terdengar dari seorang Almarhum Doni Martin. Sesaat setelah penulis membuka pintu, tampak Allmarhum dengan senyuman khasnya telah siap dengan perlengkapan liputannya.

    Adegan itu berlangsung ketika Doni secara sengaja datang ke kantor redaksi SKU Garut-Express tempat saya bekerja. Saat itu, Almarhum sengaja datang untuk mengajak bareng menuju lokasi liputan yang sudah menjadi janji kami dua hari sebelumnya.

    Sambil melepas senyum khasnya, Almarhum duduk sejenak di kursi tamu dan setelah itu kamipun berangkat menuju wilayah selatan Garut, tepatnya Kecamatan Pakenjeng.

    Penggalan kisah diatas merupakan salah satu kenangan penulis bersama Almarhum Doni Martin (37), kontributor SCTV untuk wilayah Kabupaten Garut. Doni sapaan akrabnya, kini sudah tiada. Ia meninggal akibat ditabrak pengendara sepeda motor yang sedang dalam keadaan mabuk, Rabu (30/08/2017). Kejadian yang merenggut nyawa sahabat penulis. Kejadian tragis itu berlangsung di jalan Ciledug, Kecamatan Garut kota, sekira pukul 18.00 WIB.

    Dimata penulis, Doni merupakan sosok yang santun serta ramah. Disiplin dalam bekerja, merupakan prinsip yang dipegangnya. Tak heran, ia menjadi salah satu ujung tombak perusahaan media tempatnya berkerja dengan segala insting jurnalistiknya.

    Beberapa kali saya melakukan peliputan bersama almarhum, salah satunya ialah liputan kasus penistaan agama yang terjadi di wilayah selatan Garut. Saat itu, kami berangkat bersama satu rekan lainnya. Di perjalanan, Almarhum terus menanyakan kondisi jalan yang akan dilalui.

    Maklum, mobil sedan miliknya takut tidak akan mampu melewati medan jalan yang terjal. Saat itu penulis terus meyakinkan jika kondisi jalan ke lokasi peliputan itu sudah bagus.

    Walau sedikit ragu, ia terus memacu kendaraan, dan akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Iapun tersenyum lega karena apa yang saya ceritakan mengenai medan jalan benar adanya.

    “Eh betul juga kang, ternyata jalannya sekarang sudah bagus, ga seperti dulu saat saya ke tempat ini,” ujarnya, seraya tersenyum.

    Setelah data yang dibutuhkan dirasa cukup, akhirnya kita memutuskan untuk pulang. Tetapi, ketika melewati tanjakan Panganten Gunung Halimun, mobil sedan tua yang kami tumpangi tiba-tiba mengeluarkan asap cukup tebal dari cerobong knalpot.

    ” Wah, ternyata benar kang, mobil saya harus segera di servis.  Kalo engga cepat-cepat diservis, bisa bahaya nih kang,” katanya sambil tertawa. Itung-itung rehat mobil, kita minum es kelapa muda dulu, “ ajaknya. Di sekitar Kecamatan Bayongbong, kami beristirahat sambil menikmati segelas es kelapa muda.

    Sepenggal cerita kenangan itu adalah sebagian kecil dari kebersamaan kami dalam menjalankan tugas jurnalistik.

    Rabu, tanggal 9 Agustus 2017, adalah hari terakhir kebersamaan penulis dengan mendiang Doni Martin. Waktu itu, kita melakukan peliputan sidang salah satu kasus menarik di Pengadilan Negri Garut. Di saat jeda persidangan, dengan alasan uang dalam dompet almarhum ketinggalan di dalam mobilnya yang mogok, sahabat penulis itu memastikan jika semua makanan dan segelas kopi hitam yang dimunimnya dibayar oleh penulis.

    Padahal, hal itu sangat jarang sekali terjadi selama kebersamaan kami, bahkan justru sebaliknya, penulislah yang sering ditraktir oleh Almarhum. Kemudian, ketika liputan kami selesai, Almarhum meminta untuk diantar ke tempat mobilnya yang mogok.

    Itulah terakhir kebersamaan penulia dengan almarhum “si ramah.” Sebelum telponku berdering menyampaikan berita duka yang sangat menyedihkan atas meninggalnya Doni Martin.

    Jika saja pada hari Rabu tanggal 23 Agustus 2017 penulis berada di Garut, mungkin masih ada tersisa satu hari kebersamaan kami. Namun, saat almarhum mengajak penulis untuk pergi liputan melalui telpon selulernya. Waktu itu penulis tengah berada di luar kota dan tak bisa memenuhi ajakan almarhum.

    Sekarang Doni Martin sahabatku telah tiada. Namun semua kenangan takkan pernah terlupakan. Selamat jalan sahabat, do’a dari kami semua penyaksi perjalanan jurnalistikmu selalu menyertaimu yang tenang di alam sana. Sahabatmu Kang Ucheu. (Useu G Ramdani)***

    Editor: Kang Cep.

    TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI