Memilukan, Janda Renta Ini Tinggal Menyendiri di Rumah yang Hampir Ambruk

CIKAJANG, (GE).-  Siapapun yang melihat tempat tinggal ini bisa dipastikan merasa khawatir. Miris dan memilukan, mungkin kata itu bisa mewakili gambaran kondisi rumah milik Pupu Marpuah (61). Janda dengan usia tak muda lagi ini kini hidup sebatang kara di rumahnya yang hampi roboh. Rumah yang sepertinya lebih pantas disebut gubuk ini berada di Kampung Kupajajar, Desa Mekarsari, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Rumah dengan berbahan kayu dan bilik ini tampak kumuh karena tidak terurus. Bagian atap berlubang-lubang, beberapa tiang penyangga sudah keropos, bahkan ruangan dapur sudah miring hendak roboh.

“Saya sering ketakutan kalau datang hujan, atap pada bocor, tiang-tiang sudah keropos, takutnya roboh. Apalagi kalo mau buang air, saya harus melewati dapur yang sudah miring. Jika diterpa angin rumah ini bergoyang, saya sering ketakutan, takut roboh. Saya hanya bisa pasrah karena tidak mampu memperbaiki rumah ini.” Tuturnya, lirih. Saat dijumpai “GE” belum lama ini.

Diakuinya, ia memiliki dua putri yang sudah berkeluarga. Kedua putinya kini tinggal jauh bersama suaminya di Irian Jaya dan Jawa Timur. Satu tahun yang lalu ia sempat hidup berdua bersama suaminya, persoalan rumah tangga menyebabkan Pupu berpisah dengan suaminya.

Kondisi ini menyebabkan Pupu jauh dari perhatian keluarga terdekatnya. Dengan usiannya yang sudah tidak mungkin lagi bekerja, kini ia hanya hanya bisa bertahan hidup dari belas kasihan tetangga-tetangganya.

“Dengan kondisi Saya yang sudah tua begini, Saya hanya bisa hidup dari belas kasihan tetangga. Saya sangat bersyukur masih bisa tidur di rumah ini, meskipun kondisinya rawan roboh seperti ini,” ungkapnya, seraya menyeka air mata yang meleleh di pipinya yang mulai keriput.

Niknik salah satu tetangga Pupu mengaku merasa kasihan menyaksikan kondisi Pupu yang tinggal sebatang kara di rumahnya yang tak layak huni. Ia berharap ada dermawan yang mau membantu meringankan beban hidup tetangganya.

”Ya kasihan tentunya, takut terjadi apa-apa sama beliau. Hidup sendirian jauh dari perhatian. Saya berharap pemerintah membantu meringankan beban nhidup ibu Pupu. Untuk keperluan sehari-harinya kami para tetangga jika ada rizki hanya bisa membantu untuk sekedar kebutuhan makannya saja,” ungkapnya.

Dengan kondisinya saat ini, Pupu hanya bisa pasrah, shabar dan tawakal. Mau tidak mau ia harus mensyukuri keadaan hidupnya. Namun demikian, ia tetap berharap ada perhatian dari pemerintah. (Sidqi Al Ghifari)***