Masya Allah! Janda Miskin ini Mengurus Anaknya yang Lumpuh Puluhan Tahun

KARANGPAWITAN, (GE).- Tak ada seorangpun di dunia ini berharap memiliki buah hati dalam keadaan Tunadaksa. Namun bila Sang Pencipta berkehendak, kita harus bisa bertawakal dan tetap menjaga amanah yang diberikan oleh Nya.

Demikian ungkapan memilukan disampaikan Titi (45), seorang janda miskin yang tinggal di Kampung Panyingkiran, RT. 02 RW. 08, Desa Situ Saeur, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut Jawa Barat.

Sudah hampir 28 tahun, janda paruh baya ini dengan segala keterbatsanannya harus membesarkan Dewi Fatimah, anaknya yang sejak kecil menderita kelumpuhan sekujur tubuhnya.

Dengan kondisi keterbatasan ekonomi, berobat maksimal ke dokter, baginya adalah sesuatu yang mewah. Ia kini hanya bisa pasrah merawat anaknya dengan kemampuannya yang masih tersisa.

Titi sebenarnya boleh dibilang perempuan tangguh. Namun, dengan penghasilannya sebagai buruh serabutan tentunya sangatlah terbatas, terlebih di masa kondisi ekonomi negara seperti sekarang.

Tampaknya, beban hidup Titi bersama anaknya semakin berat saja setelah Cecep sang swami tercintanya yang selama ini menjadi tulang punggung rumah tangga meninggal dunia 10 tahun yang lalu.

“Dulu saat masih ada Almarhum (swami Titi/red), kita bisa rawat Dewi bersama sama. Tapi kini, ibu hanya seorang diri membesarkan Dewi dan memenuhi kebutuhan hidup. Itupun, tak jarang dibantu belas kasihan sanak keluarga dan para tetangga. Pekerjaan ibu hanya sebatas buruh cuci , itupun sekali kali hanya bila ada para tetangga yang membutuhkan.” Tuturnya, lirih.

Titi masih berharap, anak tercintanya dapat sembuh dan bisa hidup dengan normal. Ia berharap do’anya terkabulkan agar ada yang mau peduli mengobati penderitaan buah hatinya.

“Kadang terasa sakit hati ini, bila melihat teman teman seusianya bebas kesana kemari. Ingin rasanya melihat Dewi seperti mereka pada umumnya. Ibu hanya bisa tawakal dan berserah diri,” ungkapnya, seraya terisak menahan tangis. Saat dijumpai “GE” Sabtu (19/12/2015).

Dikatakannya, setiap hari Dewi hanya bisa terbaring dilantai. Bila hendak dimandikan atau sesekali keluar rumah, harus digendong dengan hati-hati karena Dewi sesekali berteriak merasa kesakitan.

“Pernah waktu masih kecil, Ibu bawa Dewi ke mantri kesehatan. Katanya kondisinya sudah tidak bisa disembuhkan. Disarankanya, lebih baik dewi dirawat dengan penanganan khusus di rumah. Ibu hanya berharap ada perhatiaan dari pemerintah. Minimal untuk sedikit membantu meringankan penderitaanya.” Harapnya.

Titi mengaku, telah berkali-kali nasib anak ibu ini diperjuangkan pihak desa kepada pemerintah, namun hingga saat ini belum kunjung ada perhatianya. (DONI)***