MASKUMAMBANG KEABADIAN (Karya : Inda Nugraha Hidayat)

Inda Nugraha Hidayat.***

MASKUMAMBANG KEABADIAN
Karya : Inda Nugraha Hidayat

Anjeun pisan nu geus ngatik jeung ngadidik
tur jadi tuladan
tuturkeuneun diri kuring
baheula tepi ka jaga

Ketika malam larut menuju janari,
bintang-bintang sembunyi sebalik sunyi,
dan bulan besar pergi,
diam-diam aku melangitkan kawih,
menembangkan segala ingatan dan kenangan,
yang mengalir bersama kisah-kisah kehidupan.
Tiba-tiba kisahmu terbaca dalam padalisan pupuh yang kukawihkan.
Maka kutembangkan doa dalam wirahma maskumambang
sepenuh hati, meski tanpa diiringi kacapi suling.

Tak habis-habis pupuh kusenandungkan,
tak habis pula kisahmu kuhikmati.

Menghikmatimu adalah membaca jejak-jejak tak terlacak.
Jejak-jejak perjuangan yang luput dari catatan sejarah,
namun begitu dalam tenggelam dalam setiap aliran darah,
memenuhi sungai-sungai, mengaliri kampung-kampung,
lalu terpatri bagai prasasti di relung setiap hati.

Menghikmatimu adalah menyusun mosaik harapan
dari pecahan angan-angan, dari sobekan-sobekan asa,
dari patahan-patahan semangat, yang dikumpulkan dari hari ke hari.

Kau yang ajariku menyulam asa.
Merekat angan.
Membakar semangat.
Aku rindu siraman petuahmu. Seperti dulu.
Seperti waktu aku tak tahu bahwa aku tidak tahu,
engkau datang memberitahuku, hingga aku tahu bahwa aku tidak tahu.
Lalu kau ajarkan cara mencari tahu, kau ajarkan cara memberi tahu,
dan aku pun tahu, bahwa aku tahu.

Menyerah bukan gayamu. Seperti katamu, “leukeunan, lakonan!”
Maka meski kadang terbata, kau tantang segala aral dan rintang
dengan kawih yang kadang sumbang, kau terus berjalan dan bersenandung
sambil berusaha agar tak tersandung, menyerahkan diri seutuhnya pada negeri.
Sebaris demi sebaris, kisah tentang kebodohan dihapuskan
sebait demi sebait, kisah hari esok dituliskan.
Kemudian segala pupuh yang kau persembahkan pada negeri,
telah menciptakan gedung-gedung tinggi, pabrik-pabrik besar,
kota yang tertata, kendaraan beraneka ragam,
dan teknologi yang mendunia, mengiringi kemajuan peradaban.
Entah kau sempat menikmatinya atau tidak.

Ingin sekali aku mengikuti nyanyianmu,
menembangkan kisah-kisah indah tentang hari esok,
menyentuh daun-daun telinga dan lembaran-lembaran jiwa,
membakar segala hasrat menjadi kobar semangat.
Tapi aku terlalu sibuk mencemaskan suara sumbangku.
Aku terlalu khawatir memikirkan kehidupan yang tak menentu di depan.

Kini, di paguron ini, aku seperti menemukan wirahma
semacam jawaban atas tanya yang lama tak terjawab.
Benar, di sini aku harus mulai menata diri
untuk hidup abadi seperti pupuh-pupuhmu.

Buana, Nopember 2016
Catatan :
Kawih – lagu atau nyanyian dalam bahasa sunda
Pupuh – lagu atau nyanyian dalam bahasa sunda dengan aturan-aturan tertentu
Wirahma – irama
Maskumambang – salah satu jenis pupuh sunda
Kacapi suling – sajian seni tembang yang diiringi dengan alat musik kacapi dan suling
Leukeunan, Lakonan! – Jalani dengan teliti dan perlahan tapi berkesinambungan
Paguron — Perguruan

(Puisi ini adalah karya Inda Nugraha Hidayat yang menjadi juara pada ajang Lomba Cipta dan Baca Puisi di STKIP Garut beberapa waktu lalu)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI