Masjid Sebagai Pusat Pendidikan Karakter

Oleh: Ruslan, S.Pd

Langkah pertama yang dilakukan Nabi Muhammad setelah hijrah dari Mekah ke Madinah adalah membangun masjid. Beliau mendirikan masjid Quba kemudian disusul dengan masjid Nabawi. Masjid yang didirikan Rasulullah SAW ini sangatlah sederhana, lantainya beralaskan tanah, dinding dan atapnya dari pelepah kurma. Namun demikian, masjid tersebut memainkan peranan yang signifikan sebagai pusat pembinaan umat.

Masjid di zaman Nabi bukan saja sebagai tempat ibadah magdhah seperti salat dan zikir, tetapi masjid juga berperan dalam segala persoalan umat muslim. Satu di antaranya adalah sebagai pusat pendidikan dan pengajaran. Masjid dipergunakan sebagai tempat untuk mengkaji ilmu-ilmu keislaman. Di Indonesia sendiri, penyebaran agama Islam yang berbanding lurus dengan perkembangan pendidikannya menempatkan masjid sebagai embrio lahirnya generasi muslim yang melek ilmu.

Kedatangan Islam di Indonesia tidaklah harus diidentikan dengan munculnya kerajaan-kerajaan Islam. Sebelum berdirinya pusat pemerintahan Islam tersebut, masyarakat Indonesia telah melakukan kontak dengan para pedagang muslim. Di sela-sela aktivitas dagangnya, mereka menyiarkan Islam dengan memberi materi awal berupa kalimat syahadat. Semakin lama, lahirlah komunitas-komunitas muslim dan di situlah ada aktivitas pendidikan Islam yang berbasis tempat ibadah.

Surau (Mingkabau), langgar (Jawa) atau meunasah (Aceh) adalah istilah yang telah melekat untuk menyebut masjid. Sebagai pranata sosial, masjid-masjid ini mempunyai peran besar dalam menyampaikan konsep Islam dan mensosialisasikanya ke masyarakat. Lebih jauh dalam pandangan budaya Minang, surau telah menjadi tempat tinggal bagi anak laki-laki yang mulai beranjak remaja. Di suraulah dulunya anak laki-laki banyak menghabiskan waktunya setiap hari. Mereka mengkaji Al-Quran dan juga tafsirnya, ilmu hadits, Aqidah, Ibadah, Muamalah, dan materi keislaman lain. Tak hanya itu, mereka juga belajar adat-istiadat, bela diri, dan berbagai kesenian. Dari tempat “kecil” itulah mereka ditempa dan dipersiapkan untuk menjadi pribadi yang siap menanggung beban dan amanah di kemudian hari.

Tak heran kemudian apabila Tuanku Imam Bonjol, M. Hatta, Tan Malaka, Agus Salim, Hamka, Sutan Syahrir, M. Yamin, dan M. Natsir menjadi hebat dalam gerak sejarah kebangsaan. Kecerdasan mereka menjadi industri otak pada masanya. Keteguhan keislaman dan kehebatannya dalam membangun bangsa tak lain adalah berkat didikkan dari para guru surau.

Tak adil memang jika hanya menyebut daerah Minang sebagai gudangnya cendikiawan, karena tanah Jawa juga turut menggoreskan tinta emas lahirnya tokoh-tokoh bangsa. Sebut saja K.H. Hasyim Asyari, K.H. Ahmad Dahlan, K.H. Zaenal Mustofa, Bung Tomo dan sederet tokoh lain yang walaupun nyantri tetapi memiliki semangat nasionalisme tinggi. Mereka pun layak disebut sebagai pahlawan nasional dari kalangan pesantren. Daerah Indonesia lain juga tak kalah hebat dengan sumbangan para tokohnya yang berjuang untuk memajukan bangsa.

Dalam hal ini, mungkin pantas juga menyebut sosok bernama Prof. K.H. Anwar Musaddad, ulama asli Garut yang menjadi pionir sekaligus rektor pertama UIN Sunan Gunung Jati, Bandung.

Kehebatan tokoh-tokoh yang disebutkan tadi, semuanya tak lepas dari pendidikan dasar yang mereka dapatkan di lingkungan sekitar tempat tinggal. Tujuan pendidikan surau dan pesantren perluasan dari masjid, pada dasarnya adalah sama, yaitu mewariskan nilai-nilai kebenaran Islam dari generasi ke generasi dalam rangka mengembangkan potensi manusia secara optimal sesuai dengan fitrahnya.

Di era globalisasi seseorang dituntut memiliki karakter bangsa yang kuat agar tidak tergerus oleh budaya asing sehingga kehilangan jati dirinya. Kurikulum yang ada di sekolah formal memang sudah didesain untuk mencetak generasi yang handal dan siap menghadapi tantangan budaya global. Namun dalam kenyataannya, seorang anak tidaklah cukup hanya dengan menimba pengetahuan di sekolah. Jam belajar di tempat ini sangatlah terbatas, belum lagi pendidikan karakter yang diharapkan tidak disampaikan sebagaimana porsinya.

Lamanya jam belajar anak di masyarakat mengharuskan adanya institusi yang dapat menampung potensi dan mengembangkan kepribadian sehingga mereka tidak menjadi “liar”. Institusi yang dimaksud tiada lain adalah masjid. Masjid sejatinya adalah pengayom segala aspek kehidupan, sebagaimana Nabi Muhammad pun membangun peradaban yang berlatarkan masjid.

Memang pertumbuhan “rumah Allah” saat ini sangatlah pesat. Umat Islam di Indonesia memiliki lebih dari 900 ribu masjid. Bahkan, total tempat ibadah umat Islam itu jika ditambah dengan mushala dan langgar bisa mencapai 2 juta. Pertumbuhan yang pesat itu kemudian menjadi ironi jika tanpa diiringi kegiatan-kegiatan untuk memakmurkannya.

Masjid hanya ramai ketika sholat dan pengajian, bahkan pintu masjid seringnya dikunci apabila tidak memasuki waktu sholat. Lebih miris lagi tatkala bangunan masjid yang megah tapi hanya dihuni jamaah dengan jumlah hitungan jari. Hal ini dapat dibuktikan sendiri ketika sholat berjamaah.

Sebenarnya fungsi-fungsi ideal masjid sebagai pusat peradaban tidaklah hilang, tetapi satu demi satu diambil alih oleh lembaga keagamaan lain. Lembaga-lembaga yang memiliki kemampuan material dan teknis melebihi masjid ini, dipandang mampu mengambil beberapa peran yang tidak bisa ditangani masjid. Hal ini tentunya bukan kondisi ideal yang diharapkan umat islam, karena peran-peran antar lembaga tidak terpusat dan terintegrasi, potensi masjid yang begitu besar menjadi tersia-siakan, dan—baik disadari atau tidak, umat cenderung memisahkan urusan dunia dan akhirat.

Meskipun saat ini pendidikan tersebut tengah dijalankan oleh madrasah, namun pada dasarnya sama saja. Madrasah atau meunasah adalah bentuk perlusan dari masjid itu sendiri. Bahkan jika kita tengok ke belakang, Universitas Al-Azhar di Kairo awalnya adalah sebuah masjid bernama Al-Azhar yang dibangun ketika dinasti Fatimiyah berkuasa atas Mesir. Karena tidak lagi mampu menampung para santri yang menimba ilmu, maka dibuat tempat khusus.

Sebagaimana catatan sejarah, masjid atau madrasah yang ada di setiap kampung telah berfungsi sebagai sekolah dasar dengan materi membaca Al-Qur’an, membaca dan menulis huruf Arab, ilmu agama, bahasa Jawi atau Melayu, akhlak, dan sejarah Islam. Saat ini, pemerintah juga telah membuat dasar hukum terselenggaranya TKA (Taman Kanak-Kanak Al-Quran) dan TPA (Taman Pendidikan Al-Quran). Dalam PP No. 55 Tahun 2007 itu dijelaskan tekanan materinya pada dasar-dasar membaca Al-Quran serta membantu pertumbuhan dan perkembangan rohani anak agar memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Sistem pendidikan yang telah ditetapkan pemerintah ini lagi-lagi menghadapi tantangan. Pertama, karena sifatnya tidak wajib, maka kemudian banyak anak yang tidak ikut berpartisipasi. Kedua, tahapan usia pada TPA yang hanya sampai 12 tahun, maka bagi anak yang telah lewat usia tersebut merasa telah tamat dan tidak lagi wajib ikut dalam pendidikan Islam. Sejatinya ketika telah melewati usia 12 tahun, anak-anak telah menginjak remaja dan lebih sering berada di lingkungan masyarakat daripada keluarga. Pembinaan mental pada fase ini sangat penting supaya terhindar dari segala bentuk kenakalan.

Masyarakat sebagai pendamping anak diharapkan bisa memberi teladan sehingga calon para penerus bangsa selalu berada pada jalur yang benar. Di sinilah arti pentingnya keberadaan masjid sebagai pusat pembinaan mental. Kita mungkin tidak bisa mengembalikan fungsi masjid seperti dulunya. Maka yang dapat dilakukan adalah memaksimalkan berbagai peran yang masih dapat dilakukan masjid saat ini. Menjadikannya sebagai salah satu institusi pembentuk karakter dan kepribadian yang Islami masih mungkin dilakukan. Misalnya saja membiasakan anak-anak untuk memakmurkan masjid dengan berbagai kegiatan-kegiatan Islami.

Pemerintah Kabupaten Garut sebagai pemangku keuasaan eksekutif di wilayahnya, kini telah menjadi motor penggerak dalam upaya syiar Islam. Pemkab Garut membuat daftar program unggulan, yang salah satunya Garut Nyantri. Program ini meliputi Gerakan Garut Mengaji, Gerakan Magrib Matikan TV, serta sebar Al-Qur’an dan Terjemahannya. Mudah-mudahan upaya ini bisa membuat masjid lebih “makmur”.

Fungsi masjid sebagai pusat pendidikan kiranya perlu dipulihkan, karena pendidikan Islam telah menjadi ilmu yang ilmiah dan alamiah dan ia akan berfungsi sebagai sarana pembudayaan manusia yang bernafaskan Islam dengan lebih efektif dan efisien. Nafas keislaman dalam pribadi seorang muslim merupakan elane vitale yang menggerakkan perilaku dengan diperkokoh ilmu pengetahuan yang luas sehingga ia mampu memberikan jawaban yang tepat dan berguna terhadap tantangan perkembangan ilmu dan teknologi. (*)

Penulis adalah: Guru di SDN Tarogong 2, Garut.