Mak Ikah Wanita Tangguh Sang Penambang Batu-Pasir

PAGI HARI buta yang masih belum disinari sang surya, Mak Ikah (62) sudah bergegas menuju lokasi tambang di bantaran Sungai Cisangkan. Wanita renta namun tangguh ini, sehari-harinya tinggal di sebuah rumah yang layak disebut gubuk di Kampung Sadang Lebak, Desa Situsari, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut Jawa Barat.

Untuk memenuhi Kebutuhan sehari-harinya, ia harus bergelut dengan terik sengatan mentari dan dinginya aliran air sungai. Pasir dan batu kerikil, baginya, merupakan barang mewah sumber penghidupan keluarga sejak zaman Gunung Galunggung meletus, sekira tahun 1982.

Dari jerih payahnya sebagai penambang pasir dan batu , Mak Ikah boleh dibilang “sukses,” setidaknya untuk bertahan hidup serta membesarkan ke empat buah hatinya. Baginya, besar dan kecil rejeki itu relatif. Hanya nilai keberkahanlah yang dianggapnya menjadi pembeda.

Kini, Mak Ikah terpaksa harus bekerja seorang diri setelah Ana (80) sang suami tercintanya , hanya bisa tergolek lemah di pembaringannya. Swami Mak Ikah sebagai tulang punggung keluarga kini tak berdaya lagi, akibat didera penyakit asma akut sejak 3 tahun terakhir.

Membang batu-pasir ternyata tak selamanya mulus, Mak IKah tak jarang harus menukar perabotan rumah, hanya untuk 1 liter beras saja . Hal ini wajar terjadi mengingat hasil tambangnya yang tak seberapa itu, baru dapat dinikmati menjadi kepingan rupiah setelah terkumpul dalam waktu 1 minggu.

“Beginilah hidup Ema, Setiap hari turun naik tebing sungai mengais gundukan pasir. Dari pagi sampai Duhur, Ema 20 kali turun naik tebing. Istirahat hanya untuk menunaikan sholat saja dan makan minum seadanya. Kemudian kerja lagi seperti biasa turun ke sungai dan memecah batu menjelang sore.” Tuturnya, lirih.

Saat ini, Mak Ikah, tampaknya harus berposisi sebagai kepala keluarga yang mesti memenuhi kebutuhan berobat sang suami dan membiayai anak bungsunya yang masih duduk di bangku SMP.

Sungguh memilukan, pendapatan Mak Ikah dari hasil bermandi keringat sangat jauh dari kata layak. Pasir hasil tambangnya selama 1 Minggu, sebanyak 2 meter kubik hanya dihargai tengkulak sebesar Rp 70 ribu saja. Sementara dari hasil pecahan batu kerikil, baru dapat dijual setelah terkumpul selama 3 bulan. Itupun hanya dibeli tengkulak seharga Rp 200 ribu.

“Dicekap-cekap we ku Ema teh. Gaduh artos samingu sakali sanaos sakedik, Alhamdulilah berkah tiasa kanggo neda sareng jajan sakola si bungsu.” Ucapnya, seraya menyeka keringat di dahinya yang mulai keriput.

Menurutnya uang sebesar itu, walau kecil tadi itu rizki halal dari kemurahan Alloh SWT. Buktinya, Dengan segala kesederhanaan dan kebersahajaannya, ia mampu bertahan hidup puluhan tahun bersama ke empat anaknya.

“Anak Ema yang tiga sudah pada menikah , namun ya kondisinya sama seperti Ema hidup pas pasan. Ema juga tak ingin nyusahin siapapun termasuk anak anak. Jadi kieu we sep, Ema mah saban hari nyari nafkah di walungan. Sanaos sakedik tapi berkah,” ungkapnya.

Selama ini, Mak Ikah mengaku, tak pernah mendapat bantuan apapun dari pemerintah selain Beras Raskin (Raskin). “Teu acan kantos kenging bantosan Ema mah. Bujeng Bujeng bantosan, Dilongok ku Lurah oge nembe ayeuna. Tadi aya Bu Lurah salaman ka ema . Saurna Ibu Lurah Enggal. Bingah pisan Ema kudilongok na ge. Bu lurahna. Keur geulis teh bageur kersa nyampeurkeun tur bobolokotan sareng Ema. Mugi panjang umur tur tiasa ngamajengken Desa Situsari.” Pungkasnya seraya melempar senyum tulus. Belum lama ini. (Doni Melody)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI

Komentar

BAGIKAN