Mahasiswa Unpak Merambah Leuweung Sancang

CIBALONG, (GE).- Sedikitnya 88 orang mahasiswa semester VII berserta 8 dosen dari Program Study (Prodi) Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pakuan Bogor mengadakan praktik lapangan untuk observasi Primata, Hutan Dataran Rendah, Mangrove, Insecta. Penelitian di kawasan hutan Sancang ini telah berlangsung selama 4 hari.

Tajuk penelitian ilmiah ini sendiri mereka namakan “Praktik Lapang Mahasiswa Biologi di Leuweung Sancang”. Hutan Leuweung Sancang yang merupakan wilayah V Garut dalam pengawasan Balai Besar Konsevasi Sumber Daya Alam (BBKSD) Jawa Barat, dikarenakan lokasi ini Cagar Alam yang tidak boleh ada aktivitas kunjungan sebagai wisata masyarakat umum, kecuali kunjungan aktivitas penelitian.

Asep Wawan, yang merupakann Kepala Resort Balai Besar Konsevasi Sumber Daya Alam yang bertugas di Leuweung Sancang, saat itu secara resmi bersama anggotanya menerima kegiatan mahasiswa biologi ini. Program kegiatan observasi ini merupakan tugas pengumpulan data yang dilakukan secara sistematis dan sengaja melalui pengamatan dan pencatatan gejala-gejala yang diselidiki.

“Dalam melakukan observasi kita harus memperhatikan dengan teliti objek yang akan diteliti. Satu sampel yang kita ambil belum bisa dijadikan sebagai kesimpulan dari penilitian, oleh karena itu diperlukan banyak objek penelitian sebagai pembanding dalam melakukan observasi.” Ungkap Dr. Surti Kurniasi,M.Si, yang merupakan Ketua Prodi Biologi, belum lama ini.

Sebelum menggelar penelitian, rombongan mahasiswa secara simbolik memberikan bibit Pohon Butun atau keben (Barringtonia Asiatica) sejenis pohon yang tumbuh di pantai-pantai wilayah tropika dari Kepala Resort Leuweung Sancang kepada Ketua Prodi Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Dr. Surti Kurniasi, M.Si yang mengawali penanaman oleh mahasiswa dan dosen pada area penananaman yang sudah dilokalisir oleh Resort Balai Besar Konservasi sumber Daya Alam Leuweung Sancang.

Dijelaskannya, habitat tumbuhan pohon Butun merupakan kawasan litoral yang hampir ekslusif, pada beberapa daerah pohonnya dapat tumbuh jauh ke daratan pada bukit atau jurang berkapur. Biasanya tumbuh pada pantai berpasir atau koral-pasir di sepanjang pantai atau rawa mangrove pada ketinggian 0-350 meter dari ketinggian di atas permukaan laut.

Pohon keben ini merupakan spesies Barringtonia asli mangrove yang habitatnya di pantai tropis dan pulau-pulau di Samudra Hindia dan Samudra Pasifik Barat dari Zanzibar ke timur Taiwan, Filipina, Fiji, Kaledonia Baru, Kepulaian Solomon, Kepulauan Cook, Wallis, dan Futuna serta Polinesia Prancis. Penyabaran di Indonesia meliputi Jawa, Bali, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.

Di Indonesia, keben pernah mendapat predikat sebagai pohon perdamaian. Predikat itu ditetapkan oleh Presiden Soeharto pada Hari Lingkungan Hidup, pada tanggal 5 Juni 1986. Tema Hari Lingkungan Hidup tahun itu adalah “A Tree for Peace”.

Keben tidak hanya pohon perdamaian. Keben juga punya makna lain. Di dalam Keraton Yogyakarta, terdapat area yang dinamai keben karena area tersebut ditanami tanaman tersebut. Konon, keben di Keraton Yogyakarta bermakna sebagai lambang negara yang agung dan bersih. Selain itu, keben juga bermakna merangkul kebenaran. Selain di Yogyakarta, keben juga bermakna di Pulau Anak Krakatau. Konon, keben adalah tumbuhan pertama yang tumbuh di pulau itu setelah meletusnya Gunung Krakatau.

Kadang-kadang ditanam sebagai tanaman hias. Pohon dan bijinya mengandung saponin yang dapat digunakan sebagai racun ikan. Biji yang digunakan sebagai racun ikan seringkali dicampur dengan tuba (Derris rotenon). Minyak yang berwarna kemerahan dapat diperoleh dengan memanaskan dan memeras bijinya.

“Di Jawa, cairan yang diperoleh dari bijinya dapat digunakan sebagai perekat dalam pembuatan payung, serta untuk membunuh ekto-parasit, seperti lintah.” Bebernya. (Cep)***