Limbah Kulit Cemari Lingkungan, Warga Sukaregang Tumpukan Sampah di Tengah Jalan

GARUT, (GE).- Pencemaran lingkungan terjadi di kawasan Sukaregang, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Pemicunya limbah pengolahan kulit yang dibuang langsung ke sungai.

Akibatnya, lingkungan warga di kawasan Sukaregang tercemar. Bau busuk dan pencemaran terhadap air warga menjadi pemandangan sehari-hari warga Sukaregang.

Sejumlah warga menyedot limbah kulit sukaregang dan menumpahkannya di jalan raya.

Kesal dengan kondisi lingkungan yang tak ada perbaikan, warga Sukaregang menggelar aksi unjukrasa dengan cara membuang sampah dan limbah kulit ke Jalan Raya, Sudirman. Warga setempat nampak berkerumun sementara air limbah disedot dengan sebuah mesin yang dialirkan ke jalan raya.


Akibat aksi tersebut, jalanan mengalami kemacetan. Namun Polisi bergerak cepat mengendalikan situasi dan mengatur arus lalulintas.

Warga Sukaregang, Sansan (34), mengaku kesal dengan kondisi pencemaran di lingkungannya yang seolah-olah tak ada solusinya. Bahkan pemerintah pun tak bisa bertindak tegas terhadap ulah pengusaha yang tak memperhatikan pencemaran lingkungan.

“Saya heran kenapa pemerintah masih diam diri. Padahal, pencemaran ini sudah terjadi sejak puluhan tahun yang lalu,” kata dia, ditemui di lokasi unjuk rasa, Jumat (21/9/18).

Sansan melanjutkan, bau busuk dan pencemaran terhadap air milik warga dikarenakan limbah dari proses penyamakan kulit yang dibuang langsung ke sungai dan selokan. Seharusnya, air bekas penyamakan kulit diolah lagi sebelum dibuang.

“Limbahnya kan langsung dibuang. Jadi bau menyengat seperti bangkai ya jelas tercium. Bahkan air di sumur milik warga pun ikut tercemar,” kata dia.

Warga lainnya, Muhamad Rizki (31), mengaku bau busuk menyerupai bangkai bisa sampai menyesakkan dada. Bahkan kesehatan warga pun menjadi terganggu.

“Warga di sini ada yang gatal-gatal, paru-paru. Penyebabnya ya jelas karena lingkungan yang sudah tidak sehat lagi,” kata dia.

Bau menyengat dari limbah kulit Sukaregang sangat terasa jika saat musim kemarau. Karena air di sungai tak lagi mengalir.

“Seperti sekarang, sudah bebrapa bulan hujan tak turun. Bau dari limbah sangat menyengat. Mau bernafas saja sulit,” pungkasnya. (MHI)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI