Leluhur Kesultanan Yordania Ternyata Dimakamkan di Garut

KARANGTENGAH, (GE).- Pada tahun 2013 yang lalu, ada Penasehat Kesultanan Yordania sengaja datang ke Garut. Kedatangan penasehat raja ini dikabarkan untuk mencari makam leluhurnya yang meninggal di Negara Indonesia.

Konon keturuan Sultan dari Yordania ini telah meninggal dunia di kawasan Garut, tepatnya di Kampung Ragadiem, Desa Cinta, Kecamatan Karangtengah. Sementara itu, ciri batu belah yang ada di lokasi ini merupakan ciri alami sebagai bukti sejarah leluhurnya ketika menyebarkan Agama Islam di Negara Indonesia.

Penasehat Kesultanan Yordania itu, bernama Syarif Ibrohim Al-Husaeni, jauh-jauh datang dari Timur Tengah ke Negara Indonesia, tiada lain hanyalah ingin membuktikan kisah masa yang lalu dari orang tuanya. Syarif Muhammad bin Syarif Abu Bakar merupakan salah seorang keturunan Kesultanan Yordania yang dipercaya disemayamkan di Kampung Ragadiem.

Suatu hari, Penasehat Kesultanan Yordania datang ke pengurus Masjid Istiqlal Jakarta, sengaja mencari alamat makam Syarif Muhammad bin Syarif Abu Bakar di Kampung Ragadiem Kecamatan Karangtengah Garut. Ia menayakannya, dimana wilayah itu? Kemudian oleh pengurus mesjid itu disarankan agar menghubungi pengurus Mesjid Agung Garut.

Tak lama kemudian, Penasehat Kesultanan Yordania langsung meluncur ke Garut menghubungi pengurus Mesjid Agung Garut. Setelah bertemu dengan pengurus mesjid tersebut, lalu pengurus mesjid itu menghubungi via telephone seluler kepada Rd. Alaik Sulaeman Syarif dari Kampung Mulabaruk Desa Sukawening Kecamatan Sukawening, supaya mendampingi tamu dari Yordania.

Penasehat Kesultanan Yordania pun segera meluncur menuju Rd. Alaik. Sesudah bertemu bertemu, lantas juru bicara kesultanan mengutarakan maksud kedatangannya, yakni mencari makam leluhurnya yang memiliki garis keturunannya bernama Syarif Muhammad bin Syarif Abu Bakar.

Selanjutnya mereka berangkat menuju lokasi Ragadiem. Setiba di Pesantren Al-Syarif di Kampung Ragadiem, Rd. Alaik seraya mengatakan: “Apakah yang dituju dan yang dicari itu adalah tempat ini, Pak?”

Penasihat kesultanan dari Yordania, melalui jubirnya menjawab : ”Ya!” katanya dengan menganggukan kepala.

Tiba-tiba sejumlah masyarakat berdatangan menghampiri tamu dari Yordania. Di dalam hatinya diselimuti rasa penasaran ingin tahu. Mengapa ada Bangsa Timur Tengah tiba-tiba mengunjungi ke wilayah Pesantren Al-Syarif.

“Disini ada batu belah,” tanya Syarif Ibrohim kepada Rd. Alaik.

Dengan spontanitas Rd. Alaik pun menanyakan kepada seorang masyarakat yang menjawabnya : “Tidak tahu, Pak!”

“Anehnya, Penasehat Kesultanan Yordania itu malah mengajak kepada saya, untuk mengikuti langkahnya, melintasi kebun dan jalan setapak,” tutur Rd. Alaik.

“Mari kita lewat jalan ini, lalu kita ke arah sana,” kata Syarif Ibrahim, sepertinya sudah mengetahui.

Begitu sampai di lokasi dekat sungai Cihurang Kampung Cikarees Desa Cinta, Ia menunjuk ke tempat seperti segunduk tanah yang sudah tertutup semak belukar. Kemudian meminta tolong dengan santun,”Coba sibakan semak belukarnya!” kata Syrif Ibrahim menyuruh kepada masyarakat yang turut serta.

Waktu itu semua yang turut menyaksikan begitu terkejut. Semula diduga seperti gundukan tanah yang tertutup semak belukar, ternyata ketika sudah disianginya yang didapat bukanlah segunduk tanah, melainkan batu besar yang terbelah dua.

Masing-masing hatinya dihantui pertanyaan, Mengapa Bangsa Timur Tengah sampai mengetahuinya mengenai keberadaan batu belah tersebut?

Terkait keberadaan Syarif Muhammad di wilayah Ragadiem, Rd. Alaik menuturkan, Penasihat Kesultanan Yordania itu sewaktu berdialog dengan dirinya menjelaskan, Leluhur Syarif Ibrahim itu adalah Yusuf Ghanam al Husaeni al Urduni Yordan memiliki adik bernama Sarif Zein.

Kemudian Sarif Zein menikah dengan Putri Sultan Pontianak (cucunya Sultan Sulaeman) yang dikaruniai putra bernama Syarif Umar. Lalu Syarif Umar memiliki putra bernama Syarif Abubakar, dan Syarif Abubakar dikaruniai putra yang diberi nama Syarif Muhammad.

Jadi peta silsilah keturunannya, yaitu Syarif Muhammad bin Syarif Abubakar bin Umar bin Zein bin Yusuf Ghanam al Husaeni al Urduni Yordan.

Latar belakangnya bangsa Yordania berada di lokasi Kampung Ragadiem Desa Cinta, waktu itu sekitar tahun 1862, Syarif Umar (kakeknya Syarif Muhammad) mengempur bangsa Belanda di Sambas Kalimantan. Saat itu usia Syarif Muhammad menginjak 6 tahun. Ia ikut bersama ayah handanya Syarif Abubakar dan kakeknya Syarif Umar.

Takdir tak bisa dipungkiri, ketika pertempuran dengan Belanda, Syarif Umar akhirnya tewas tertembak sewaktu berperang melawan Belanda di Sambas (Kalimantan Timur). Sedangkan ayahandanya Syarif Abubakar tertangkap dan diasingkan ke Cianjur 3 Maret 1862, lalu meloloskan diri pergi ke Jogja. Di situ membentuk lagi pasukan ulama yang didukung oleh para putra dari kesultanan Jogja.

Pada saat Syarif Muhammad menginjak usia remaja, kembali diajaknya untuk menggempur bangsa Belanda ke Batavia. Namun menemui kekalahan lagi. Pasukan yang dipimpin Syarif Abubakar bin Umar kalah lagi perang melawan bangsa Belanda. Akhirnya mereka masing-masing lari tunggang langgang untuk menyelamatkan diri.

Syarif Muhammad bersama ayahnya dengan para putra dari kesultanan Jogja, yaitu Pageran Mangkubumi, Adipati Dalem Lurah, dan Adipati Bagus Tanjung, bersama-sama melarikan diri tanpa arah yang dituju untuk menyelamatkan diri. Lalu, mereka tiba di lokasi Kampung Cituak Desa Cinta Kecamatan Karangtengah Garut.

Diantara pasukan yang melarikan diri itu, ada salah satu Kiayi bernama Syeh Qubro tubuhnya terluka sabetan-sabetan gobang bangsa Belanda. Darah segarnya masih mengucur mengalir membasahi tubuhnya. Sehingga saat ini di Desa Cinta dan sekitarnya menyebut ‘Mbah Gaber.

Syeh Syarif Abubakar merasa kasihan dan tak kuasa melihatnya. Ia langsung menyuruh Syeh Qubro untuk membersihkan sekujur tubuhnya, seraya telunjuknya menunjuk sungai yang airnya terlihat jernih.

Tanpa basa basi, Syeh Qubro (‘Mbah Gaber) langsung saja turun membenamkan sekujur tubuhnya dengan membasuh seluruh luka-lukanya. Air sungai pun yang tadinya jernih, tiba-tiba keruh memerah karena darahnya.

Saat melihat air sungai yang tadinya bening berubah keruh menjadi merah darah. Bahkan betapa terkejutnya ketika tubuh Syeh Qubro muncul lagi di atas permukaan air, sekujur tubuhnya yang penuh dengan bekas sabetan gobang, begitu ajaib kembali utuh tidak ada bekas luka dari sabetan senjata tajam.

“Subhanallah,” kata Syeh Syarif Abubakar. Langsung berdo’a kepada Allah SWT dengan memanjatkan puji syukur atas karunia dan keagungan-Nya. Semua yang hadir waktu itu mengamininya.

Atas peristiwa itu, saat ini sungai di Desa Cintamanik masih terkenal dengan nama susukan Cikiruh (Sungai Cikiruh).

Dikisahkan, Syarif Abubakar, Syarif Muhammad, Pageran Mangkubumi, Adipati Dalem Lurah, dan Adipati Bagus Tanjung, setelah melarikan diri ke Cituak, mereka tidak kembali lagi ke Jogja. Masing-masing menikah dengan warga asli dari wilayah Karangtengah. Kemudian mendirikan keraton di lokasi Batu Belah di pinggir sungai Cituak.

Suatu saat, setelah sekian lama mendirikan keraton, tat kala musim penghujan, tiba-tiba terjadilah banjir bandang. Periastiwa itu membuat panik penghuni keraton. Maka untuk menyelamatkannya, hanya satu jalan, yakni dengan membelah batu besar di pinggir sungai Cituak.

Ajaib sekali, di tengah-tengah kemelut yang dihantui rasa kalut untuk menyelamatkan diri dan keluarganya, tak diduga dengan kesaktian ilmu yang dimiliki Syarif Abubakar, akhirnya atas ijin Allah SWT, batu besar yang menghadang jalannya air itu, dibelah dengan kesaktian tangannya, sehingga batu tersebut pecah belah menjadi dua bagian. Air bah dari banjir bandang pun bergemuruh mengalir deras melintasi batu belah tersebut.

“Rencananya, menurut Penasehat Kesultanan Yordania, ke depan batu belah itu akan dilestarikan menjadi objek wisata rohani. Dan akan diajukan ke Nasional Geografi di Perancis. Bahwa di lokasi Ragadiem ada situs purbakala,” ujar Rd. Alaik. (Ilham Amir)***