Kurs Dolar Melonjak, Petani Kopi di Garut Malah Raup Untung Berlipat

Proses pengangkutan kopi Garut yang siap diekspor ke mancanegara, Ahad (09/09/2018)/ foto: Andri/GE.***

GARUT,(GE).- Melejitnya kurs dolar AS terhadap rupiah, tenyata tidak sepenuhnya berdampak buruk. Salah satu sektor usaha yang menuai untung dari kenaikan dolar AS ini adalh para eksportir kopi asal Kabupaten Garut.

Dampak kenaikan dolar AS kini justru menjadi berkah bagi beberapa petani kopi Garut. Para petani kopi di kawasan Gunung Papandayan mengakui, selama ini biasa mengekspor hasil panennya ke beebrapa negara semisal Yunani, Korea dan Taiwan dengan harga yang selalu menyesuaikan dengan kurs dolar AS.

Menurut petani kopi di kawasan Gunung Papandayan Garut, sekaligus eksportir biji kopi. Daengan nainknya kurs dolar AS terhadap Rupiah justeru membuat keuntungan, kisaran keunntungannya bisa mencapai 30 persen dari biasanya.


Enung salah seorang petani/ eksportir kopi mengungkapkan, kopi lokal jenis biji hijau dan kuning asal Garut sangat disukai masyarakat Eropa dan Asia lainnya. Kopi jenis tersebut bisa dikatagoirikan kopi dengan harga mewah.

“Ya, jenis kopi Garut ini sangat disukai masyarakat Eropha dan Asia. Kita biasa menjualnya 6 Dolar AS atau setara dengan 100- Rp 120 ribu per kilo gramnya. Nah, dengan kenaikan dolar AS, kita bisa menjualnya hingga 10 Dolar AS atau setara dengan Rp 150 ribu per kilo gramnya,” ujar Enung.

Dikauinya, saat kenaikan dola AS sekarang merupakan pengalaman pertama kali mendapatkan keuntungan berlipat. Sejak lonjakan kurs dolar AS, dalam sekali panen para petani di kwasan Gunung Papandayan bisa meraup keuntungan bersih Rp 3O juta. (Andri)***

Editor: ER.

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI