Kurs Dolar Melejit, Pengusaha Tempe-Tahu Menjerit

ilustrasi tahu.

GARUT,(GE).- Dampak kenaikan nilai tukar (kurs) dolar AS terhadap mata uang Rupiah (Rp) tampaknya mulai mendekati titik nadzir. Hingga Rabu (5/9/2018) malam, nilai tukar rupiah berada pada level 14.946,45 per dolar Amerika Serikat.

Semakin melemahnya nilai tukar rupiah tersebut kini mulai dirasakan dampaknya di beberapa sektor pereokonomian. Di Kabupaten Garut misalnya, sejumlah pengusaha tempe dan tahu mengeluh dengan meroketnya harga dollar hingga berdampak pada penunuran omzet usaha mereka.

Menurut Ketua Asosiasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (APTTI) Kabupaten Garut, Asep Imam Susanto, kedelai yang merupakan bahan baku utama hingga saat ini masih tergantung dari pasokan luar negeri.


“ Kedelai yang beredar di pasaran dan digunakan pelaku usaha Tahu-Tempe 100 persen produk impor. Dengan naiknya kurs dolar sangat berimbas pada harga kedelai,” ujar Asep, Kamis (6/9/2018).

Diungkapkannya, sejak meroketnya kurs dolar AS, harga kedelai terus mereangkak naik. Sebelumnya bahan baku utama tempe dan tahun ini dibanderol Rp 7.400 per kilo gram, kini harga kedelai mengalami lonjakan harga menjadi Rp 8.500 per kilo gramnya.

“Dengan naiknya harga bahan baku (kedelai), para pengrajin tempe-tahu mengalami penurunan omzet sekitar 40 persen per hari,” katanya.

Asep menambahkan, kedelai merupakan salah satu produk yang saat ini mekanisme impornya tidak mendapat intervensi dari pemerintah. Penyebab lain kenaikan harga di pasaran diduga akibat ‘permainan’ importir.

Sementara itu, salah seorang pengusaha tahu di kawasan Desa Cihuni, Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut merasakan betul dampak kenaikan dolar AS tersebut. Diakuinya, sebelum kedelai naik, setiap hari Ia bisa memproduksi 160 kg tahu. Namun kini hanya mampu memproduksi 100 kg per hari.

“ Jelas berkurang, harga bahan bakunya naik, sementara jumlah produksi dan harganya nggak berubah,” keluhnya. (Tim GE)***

Editor: ER.

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI