Kriminalisasi Guru Merupakan Tindakan Anomali dan Menyedihkan

BANYURESMI, (GE).- Aula Gedung Guru PGRI Banyuresmi Garut tidak cukup menampung kehadiran ratusan guru dan tenaga kependidikan se kecamatan Banyuresmi Garut pada Halal Bi Halal yang diselenggarakan oleh Pengurus Cabang PGRI Kecamatan Banyuresmi Garut, Rabu (20/07). Bahkan tenda dengan dua ratus kursi cadangan yang disediakan panitia dihalaman gedung masih belum menampung kehadiran para guru, sehingga banyak yang terpaksa pulang kembali ataupun duduk diteras gedung.

Ketua PGRI Kec. Banyuresmi, Ma’mun Gunawan dalam sambutannya mengapresiasi antusiasme para guru dan tenaga kependidikan yang sejak pagi hari sudah berdatangan memenuhi undangan. Ma’mun menegaskan bahwa halal bi halal tahun ini diselenggarakan dengan suatu semangat membangun kebersamaan anggota PGRI dalam menghadapi issue besar yang saat ini sedang dihadapi guru, yaitu kriminalisasi profesi guru.

“saat ini kita menghadapi suatu permasalahan yang tidak bisa dianggap sepele, meskipun belum terjadi dikecamatan banyuresmi, namun apabila tidak dilakukan antisipasi dan pencegahan, dikhawatirkan suatu waktu dapat merusak kenyamanan guru dalam menjalankan tugas profesinya. Padahal pemerintah sudah menerbitkan peraturan yang memberikan perlindungan guru baik perlindungan profesi, hukum dan keselamatan kerja, bahkan PGRI memiliki MoU (kerjasama) dengan POLRI terkait dengan perlindungan guru, namun dalam impelemntasinya guru masih terganggu dengan tindakan orang tua siswa yang menentang upaya-upaya guru dalam menanamkan nilai-nilai kedisiplinan terhadap siswa”, jelas Ma’mun.

Sekitar dua jam kemudian, tampak hadir tamu kehormatan dari DPR RI Mayjen TNI (purn) Supiadin Aris Saputra. Ditengah kesibukannya menjalankan tugas legislator, Supiadin sengaja menyempatkan diri menghadiri undangan Pengurus PGRI Kec. Banyuresmi.

“Ibu saya adalah Guru SD di Kecamatan Cikajang. Saya berhasil menjadi Jendral juga tidak lepas dari peran dan jasa guru. Oleh karenanya, fenomena kriminalisasi guru bagi saya adalah sebuah anomali yang memprihatinkan dan menyedihkan”, jelas Supiadin dalam sambutannya.
Supiadin juga menegaskan bahwa meskipun dirinya tidak berada di Komisi yang membidangi pendidikan, namun dirinya merasa memiliki kewajiban untuk memperjuangkan aspirasi rakyat didapilnya, termasuk keresahan guru.

“Saya tegaskan, selama hukuman yang diberikan guru kepada siswa masih dalam batas kewajaran dalam rangka pembangunan karakter siswa, kemudian ada orang tua yang melakukan tindakan anomali sebagaimana terjadi didaerah lain, maka saya akan menjadi yang terdepan untuk membela guru”, ujar Supiadin diiringi tepuk tangan para guru.

Sementara itu, Kepala UPTD Pendidikan Kec. Banyuresmi H. Iyer Ropendi menyatakan rasa syukurnya sebab ditengah momen iedul fitri Kecamatan Banyuresmi mendapat kado istimewa dengan diarihnya nilai rata-rata UN tertinggi kedua se Kabupaten Garut.

Selain ratusan guru, tampak hadir dijajaran kursi undangan Pengurus PGRI Garut, Anggota DPRD Kab Garut Endang Kahfi, Kabid PAUDNI Solih Rustandi, Kabid Pendas Totong, Camat Banyuresmi, Danramil Banyuresmi dan Kapolsek Banyuresmi serta jajaran Pengawas. (Farhan SN)***