Korban Pergerakan Tanah di Cisompet Terus Meluas, Pemkab Belum Bisa Berikan Solusi

Korban pergerakan tanah di Desa Singdangsari, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut, kondisinya semakin memprihatinkan. Sudah tiga bulan lebih mereka masih menempati tenda pengungsian dan hunian sementara.

Di tengah kondisi yang memprihatinkan, jumlah pengungsi justru bertambah seiring kerusakan meluas. Akibatnya kini mereka mulai merasakan sakit batuk dan meriang. Kondisi pengungsian yang tak layak huni diduga menjadi penyebabnya.

Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan Cisompet pada Dinsosnakertran Kabupaten Garut, Jajang Supyana, menyatakan, seiring dengan musim hujan yang belum usai, kerusakan kawasan pergerakan tanah kian bertambah parah. Semula korban yang mengungsi tenda pengungsian dan hunian sementara yang dibangun Pemkab Garut sebanyak 91 keluarga atau sekitar 265 jiwa.

“Kini, yang mengungsi jumlahnya 103 keluarga atau sekitar 295 jiwa. Ada penambahan korban mengungsi sekitar 30 jiwa,” tutur Jajang.

Jajang menyebutkan, sejak peristiwa pergerakan tanah pada 19 Februari 2016 lalu, masih terus terjadi pergerakan tanah. Dia mencatat pergerakan tanah besar pada Maret (3 kali) dan April (4 kali) serta pergerakan tanah kecil yang tak terhitung.

Akibat pergerakan tanah yang masih berlangsung, kata Jajang, retakan pada rumah-rumah semakin membesar atau memanjang. Selama April, pergerakan tanah menyebabkan 10 rumah rusak ringan dan 2 rumah rusak berat.

Kendati hanya menimbulkan kerusakan ringan, Jajang mengatakan, warga tetap mengungsi karena khawatir akan pergerakan tanah susulan. Mereka tak mau mengambil risiko menempati rumah yang sebelumnya hanya terancam, kini terkena dampak pergerakan tanah.

Menurut dia, ratusan korban berharap segera direlokasi ke tempat aman. Mereka sudah merasa tak nyaman dengan kondisi di pengungsian yang berdesak-desakan.

Jajang pun menilai, para pengungsi itu sebaiknya direlokasi ke tempat yang lebih aman. Meskipun rumah yang rusak ringan bisa diperbaiki, mereka enggan kembali karena tak mau tinggal di lokasi yang sudah terdampak bencana.

“Kalaupun dipaksakan, mereka tidak akan mau karena khawatir dengan pergerakan tanah yang masih terjadi hingga sekarang,” ujarnya.

Sementara warga penghuni pengungsian, Dadang (42) mempertanyakan kinerja pemerintah yang lamban menangani musibah yang menimpa mereka. Bahkan, Dadang berharap pemerintah segera merealisasikan janjinya terkait rencana relokasi. (Farhan SN)***