Kondisi Kinanti Tak Kunjung Membaik, Keluarga Pasien Rubella Menilai RSU dr. Slamet Persulit Rujukan

GARUT, (GE).-  Salah seorang keluarga Kinanti, Undang Herman, menilai ada upaya pihak RSU dr. Slamet untuk menahan Kinanti (4) agar tidak melanjutkan pengobatan di RSHS. Padahal sebelumnya dokter sudah mengatakan bahwa peralatan dan obat di RSU dr. Slamet sendiri tidak memadai.

Pasien balita tersebut seharusnya mendapat perawatan lanjutan ke RSUP Hasan Sadikin Bandung. Kinanti sendiri menderita sakit lumpuh usai diimunisasi Measles Rubella (MR) pada 19 September 2017.

“Harus tanda tangan tulisannya segala konsekuensi mesti diterima, mungkin itu standar operasinya. Tapi setelah tanda tangan ada perkataan-perkataan yang jatuhkan mental keluarga seperti obat disana mahal harus dibeli ,” katanya, Selasa (10/10/17).


Ia mengakui biaya pengobatan Kinanti memang tak bisa dianggap murah. Misalnya untuk biaya sekali suntik salah satu obat harganya mencapai lima juta rupiah. Padahal suntikan obat tersebut dibutuhkan setiap hari. Tetapi menurutnya pihak RSU seharusnya mempermudah akses kesehatan bagi Kinanti.

“Harusnya ditindaklanjuti selamatkan nyawa, tapi malah kata mereka obat dan penanganan harus koordinasi RSU, Dinkes dan BPJS. Tidak bisa seperti itu. RSU memperlambat,” ujarnya.

Kalau pun pihak keluarga berinisitif memboyong Kinanti ke RSHS pun tak menjadi solusi. Pasalnya, pihak keluarga wajib membawa berkas pengobatan dari RSU Garut. Nantinya berkas itu berisi bentuk perawatan dan obat apa saja yang sudah dikonsumsi Kinanti.

“Secara aturan bisa sendiri ke RSHS tapi harus ada berkas lengkap dari RS sebelumnya (RSU Garut). Pihak RSU bilang, silahkan bapak mau ke Bandung sendiri tidak akan dikasihkan, itu kesalahan fatal,” keluhnya. (Tim GE)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI