Kisah Pilu Mang Undang, Sebatang Kara Tinggal di Gubuk Tak Layak Huni di Margawati

Aktivis Komunitas Penolong Janda dan Dhuafa (Panda) Garut, saat mengunjungi rumah milik Mang Undang di kawasan Margawati, Kecamatan Garut kota, Kabupaten Garut./ foto: Doni Melody/GE.

GARUT, (GE).- Beberapa hari ini pengguna media sosial, khususnya facebook di Kabupaten Garut diramaikan oleh kisah miris kemiskinan yang mendera pria sebatangkara di Kelurahan Margawati Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut.

Dialah Mang Undang (60), sosoknya seketika menjadi viral setelah seorang netizen memberitahukan lewat jejaring sosial tentang kondisi tempat tinggalnya yang sangat memprihatinkan. Sekian tahun lamanya Mang Undang harus bertahan melawan hujan dan terpaan angin yang bebas masuk dari setiap sudut rumahnya.

Diketahui, Ia tinggal di gubuk tersebut sejak 20 tahun yang lalu. Rumah (gubuk) tersbut didirikanya dengan susah payah kala Ia masih berjualan siomay keliling dengan cara dipikul.


Menurut kisah yang diceritakanya, dahulu Ia merasa cukup bahagia tinggal di rumah bilik sederhana itu bersama ke 4 anggota keluarga yang sangat dicintainya.

Kondisi gubuk Mang Undang saat ini di kawasan Margawati, Kecamatan Garut kota, Kabupaten Garut./ foto: Doni Melody/GE.***

Mak Tiah sang ibu, Emin sang istri serta kedua buah hatinya, Dadan dan Iin, adalah keluarga yang menemaninya tinggal ditempat tersebut. Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Kenyataan pahit harus dialaminya, Sang Maha Kauasa “memamanggil” satu persatu anggota keluarganya pada waktu yang hampir berdekatan.

Tepat 10 tahun lalu, tahun 2008, suasana duka terjadi saat Mak Tiah harus menghadap Sang Pencipta lebih dulu karena penyakit asma yang dideritanya. Dua tahun berselang, sang buah hati, Dadan, kembali mengulang duka di gubuk tersebut, Ia meninggal karena penyakit paru-paru. Disusul kemudian anak bungsunya, Iin, yang juga meninggal ditahun serta penyakit yang sama.

Sejak kepergian ketiga anggota keluarganya, Mang Undang saat itu tinggal berdua dengan sang istri, Emin. Namun tragis, sejak kepergian kedua anaknya, Emin terbaring sakit diserang kelumpuhan separuh anggota tubuhnya.

Akibat kepiluan beruntun itu, akhirnya Mang Undang memilih berhenti berjualan. Yang dilakukan dalam keseharianya adalah mengurusi sang istri berbekal kerja serabutan di ladang milik tetangganya.

Setiap hari, menurut para tetangga, Mang Undang begitu telaten mengurus istrinya yang tak berdaya. Dari mulai memandikan hingga urusan memberi makan minum, semuanya dilakukanya begitu sabar.

Mang undang di kalangan tetangganya tergolong tauladan yang baik. Ia dikenal sebagai pribadi sederhana dan pantang mengeluh. Ia pun adalah figur yang gemar menolong masyarakat. Di kampungnya, Margawati RW 02, Mang undang dikenal sebagai seorang sukarela yang gemar membantu mengurus jenazah warga yang meninggal.

Tahun 2013 ujian kembali menimpa, Emin sang istri akhirnya tutup usia. Ini menjadi ujian terberat saat tak ada lagi anggota keluarganya yang tersisa.

Sejak kepulangan sang istri, Mang Undang otomatis didera sepi seorang diri. Ia harus tetap bertahan di rumah panggung tak layak itu sebatang kara. Diakuinya, saat-saat tak dapat membendung air mata kerap datang ketika Ia memanjatkan do’a untuk seluruh keluarganya yang telah tiada.

Lebih tragis lagi, selain rumah bilik itu, kini tak ada apapun yang dimilikinya. Tanah milik yang berada disekitaran rumahnya, jengkal demi jengkal habis dijual guna berobat serta mengurus satu persatu jenazah anggota keluarganya.

Dulu, kata Aman, salah seorang tetangganya, Mang Undang memiliki sedikit lebih lahan tanah dari rumah yang ditinggalinya. Namun, dikatakanya, setiap kali anggota keluarganya sakit dan meninggal, terpaksa Ia menjualnya sedikit sedikit untuk biaya berobat dan mengurus jenazah. Hingga akhirnya tak ada lagi yang tersisa selain rumah tak layak huni yg berdiri diatas lahan 5 tombak tersebut.

Kabar memprihatinkan yg juga tersebar luas di beberapa media online ini, akhirnya memantik reaksi beberapa kalangan. Konon kabarnya, pihak Muspika Kecamatan Garut Kota telah menyatakan kesediaanya membantu mendirikan tempat tinggal yang layak bagi Mang Undang.

Begitupun reaksi spontanitas dari para komunitas peduli dhuafa di Kabupaten Garut. Penolong Janda Dan Dhuafa (Panda Garut) adalah salah satu komunitas peduli yang kedapatan melakukan reaksi cepat dengan mendatangi kediaman Mang Undang. Pada kesempatan itu, komunitas tersebut memberikan paket “kadeudeuh” berupa sembako serta permodalan usaha.

Kepada garut-express.com saat berada di rumah Mang Undang, Kamis (26/7) , pengurus Panda Garut, Lia Ismi Parisa, mengatakan pihaknya bersedia membantu, bahkan hingga membangunkan rumah yang layak buat Mang Undang. Namun, saat beberapa sumber menyebut rumah Mang Undang hendak dibangun oleh Muspika, Ia pun mengaku sangat menghormati unsur pemerintahan setempat.

” In sya Alloh, para donatur yang mempercayakan donasinya kepada kami (Panda/red.), siap untuk membantu memberikan sarana permodalan agar pak Undang bisa kembali menjalankan usahanya. Kita juga In sya Alloh berkeinginan mendirikan rumah yang layak agar pak Undang bisa tinggal di tempat yang sehat dan nyaman. Tapi akan kami musyawarakan terlebih dahulu dengan pemerintahan setempat, karna kabarnya Pak Camat pun Alhamdulillah telah menjenguk serta siap untuk membangun rumah pak Undang dengan layak. Senang rasanya jika semua senantiasa berlomba dalam tolong-menolong dan saling berburu keberkahan,” ungkapnya. (Doni Melody)***

Editor: ER.

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI