Kisah Bah Anjam, Korban Banjir yang Gratiskan Jasa Jahitnya untuk Sesama Korban Banjir

Oleh : Doni Melody DSN.

AMUK CIMANUK telah berlalu dengan meyisakan beragam kisah yang mengharu biru. Puing puing pemukiman warga di sekitar bantaran sungai menjadi saksi bisu, betapa “marahnya” sungai Cimanuk yang seharusnya menjadi sumber hidup khalayak itu.

Dari sekian banyak kisah pilu pascamusibah air bah yang menerjang apa warga di sekitar bantaran sungai Cimanuk. Ada sepenggal kisah memilukan sekaligus menganggumkan. Adalah Abah Anjam (65) salah seorang warga yang bermukim di bantaran kali Paminggir, RT 03/11, Kecamatan Garut kota. Kali Paminggir merupakan anak sungai Cimanuk, sehingga sebagian warga penghuni di sana ada beberapa yang terdampak banjir bandang, salah satunya Bah Anjam.


Bagi Abah Anjam, musibah banjir yang menimpanya adalah sebuah peringatan saja dari Yang Maha Kuasa yang harus disikapi dengan shabar dan ikhtiar. Tak heran, Bah Anjam tak ingin meratapi takdir Alloh ini dengan berlama-lama larut dalam kedukaan.

Di atas puing puing rumahnya, Bah Anjam yang memiliki keterbatasan fisik, perlahan namun pasti kembali membangun mimpinnya dengan kembali beraktivitas menjalani profesinya. Di tempat yang telah memberikanya kenangan selama 40 tahun itu, Ia kembali membuka usaha jasa permak pakaian.

Disamping untuk mencari secuil rejeki, ternyata dalam nurani Bah Anjam tersimpan cita-cita mulia, yakni ingin mambantu sesama korban banjir. Menurutnya, apa yang dilakukannya juga karena ingin juga membantu sesama korban banjir di wilayahnya.

” Abah mah karunya ka warga tatanga abah anu sanasib jeung Abah. Silahkan saja abah rido ngabantu betulin pakaianya. Apa yang abah bisa pasti abah bantu. Abah Lillahita’ala teu ngemut sakedik oge kedah dipaparin bayaran . Alhamdulillah, rejekimah abah sok aya we nu sumping, oge tipara relawan anu ngahaja meryogiken jasa Abah mermak angeana kadieu.” Tuturnya, lirih.

Disamping anak, menantu dan kedua cucunya yang selamat, sebuah mesin jahit tua kesayanganya, kini menjadi satu satunya harta yang tersisa. Benda yang menjadi sarana penyambung hidupnya selama puluhan tahun tersebut, ditemukan para relawan terkubur di bawah lumpur sisa amukan sungai Cimanuk, pekan lalu.

Kabar itu tak ayal disambut ucapan syukur, walau saat itu dalam benaknya tercampur perasaan bingung, bagaimana mesin kesayanganya itu bisa diperbaiki. Saat itu Bah Anjam mengaku tak ada sepeser uangp un yang tersisa di saku celananya. Hanya pakaian yang dikenakan saja , semua barang yang dimilikinya habis ditelan banjir. Namun berkat kegigihanya, dengan sabar ia membersihkan dan memperbaikinya sendiri meski keadaan serba terbatas.

Petaka tragis banjir akibat luapan sungai Cimanuk itu, hingga kini masih terbayang getir di benak Bah Anjam. Namun baginya, dzikir dan berserah diri kepada Sang Khalik, saat ini adalah salah satu jalan paling terbaik.

Disudut matanya yang berkaca kaca, lantunan puji syukur tampak terus dipanjatkan saat kejadian pilu itu kembali singgah dilamunanya.

” Alloh-lah sebaik-baiknya pemberi pertolongan. Alhamdulillah, meski semua yang Abah miliki sudah hilang ditelan banjir, Anak dan kedua cucu abah dengan susah payah berhasil selamat berjuang dari hantaman banjir. Hanya takbir yang bisa Abah suarakan saat menyaksikan detik detik hantaman air Cimanuk menghanyutkan rumah Abah dan penduduk lainya di sini,” Urai Bah Anjam, dengan tatapan kosong tersembunyi dibalik keriput wajahnya.

Bah Anjam sebetulnya hidup menumpang dari kasih sayang anaknya dirumah petak pinggir Cimanuk itu. Istrinya sudah lama meninggal dunia. Sehari-hari sebelum bencana datang, guna menyambung hidup, Ia membuka jasa permak pakaian. Dari usahanya itu Bah Anjam mengaku bahagia ketika bisa menyayangi sebanyak 7 orang cucunya dengan memberi uang jajan meski alakadarya.

Kini , pascaperistiwa nahas itu, dalam kamus Abah Anjam tak ada istilah berpangku tangan. Secercah harapan mulai dibangun di atas sisa pondasi rumahnya yang tak berwujud lagi . Dari usaha jasa permak yang baru kembali dirintisnya beberapa hari pascabanjir, Bah Anjam menyimpan mimpi besar, kelak ia bisa mengembalikan senyum serta membangun “istana” sederhana bersama anak cucunya. (*)

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI