KH. Atjeng Abdul Wahid: NU Siap Jaga Ketentraman Umat

TARKA, (GE).- Umat Islam di tanah air kini tengah menghadapi cobaan cukup berat, mulai maraknya aksi terorisme yang cukup membuat citra buruk islam, kasus penodaan Alqur’an oleh Gubernur DKI Jakarta (nonaktif) Basuki Cahaya Purnama, alias Ahok dan kasus terbaru bentrok massa Front Pembela Islam (FPI) dengan massa LSM GMBI. Hal ini tentunya menjadi perhatian semua pihak yang menginginkan situasi negara tetap kondusif.

Nahdlatul Ulama (NU), sebagai organisai terbesar di Indonesia juga memberikan perhatian khusus terhadap situasi yang terjadi saat ini. Khususnya NU Kabupaten Garut siap untuk menjaga ketentraman umat di Kabupaten Garut. Hal ini diungkapkan oleh KH. Atjeng Abdul Wahid selaku Rois Syuriah NU Kabupaten Garut.

“NU tetap konsisten dalam gerakannya untuk menjaga ketentraman umat atau dalam gerakan Rohmatan Lil’alamin, yang baik kita dukung yang jelek kita perbaiki dan kami punya banyak kader yang siap untuk mengayomi umat,” ujarnya usai pembukaan acara Muskercab PCNU II di Pesantren Al-Huda, Selasa (17/1/2017).


Sementara itu, Rektor Uniga, Abdusy Syakur Amin selaku Ketua Panitia Muskercab, menyampaikan, kegiatan Muskercab PCNU yang ke II merupakan rangkaian dari kegiatan Harlah NU ke 91. PCNU Kabupaten Garut, ingin menunjukan bahwa pengurus NU di seluruh Kecamatan itu kompak. Sebagai ciri dari kekompakan ini, diperlihatkan melalui kegiatan perlombaan, seperti perlombaan olahraga, cerdas cermat, lomba dakwah, Musabaqoh Qiroatul Qur’an dan lomba liwet.

” Lomba liwet ini diperlombakan, sebagai upaya melestarikan budaya masak liwet di pesantren. Nah puncak dari kegiatan Harlah NU ini, akan digelar jalan sehat dan tadi Pak Bupati, serta Ketua DPRD bersedia menambah hadiah utama sepeda motor untuk kegiatan jalan sehat nanti,” tuturnya.

Syakur menambahkan, dengan lomba cerdas cermat, menunjukan bahwa NU juga memiliki kepedulian terhadap bidang pendidikan. NU merupakan organisasi yang profesional, sehingga cabang-cabang di bawah dalam hal ini di tingkat Kecamatan turut dilibatkan.

“Makanya kita memancing mereka dengan kapasitas kelembagaan, dalam hal ini NU tingkat Kecamatan, kalau di universitas seperti menciptakan akreditasi, kita tidak menilai tapi juga untuk mengarahkan,” katanya. (Jay)***

Editor: Kang Cep.

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI