Ketua PSSI Garut : GOR Ciateul Mirip Gedung Hajatan

TARKA, (GE).- Seperti diberitakan beberapa media belum lama ini, Bupati Garut, Rudy Gunawan bakal memutus kontrak beberapa proyek yang diperkirakan tidak akan selesai pada akhir tahun ini, mengingat progres dari pengerjaannya berjalan lamban. Diantara proyek yang kemungkinan akan diputus tersebut, yakni pembangunan Gedung Olahraga (GOR) Multifungsi Ciateul-Ciawitali, Garut.

Lambannya pengerjaan pembangunan sarana Gedung Olahraga (GOR) di Kabupaten Garut itu, disesalkan para insan olahraga. Diantaranya diungkapkan oleh Ketua Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Kabupaten Garut, H. Deden Rohim.

Pria yang akrab disapa Jiden itu, menyesalkan lambatnya pengerjaan proyek GOR tersebut, mengingat Kabupaten Garut akan menggelar pada akhir bulan Desember nanti, Kabupaten Garut akan mengadakanhajatan besar Pekan Olahraga Kabupaten (Porkab) pada pertengahan Desember nanti.


Diapstikan GOR yang katanya akan jadi kebanggaan warga Garut itu tidak akan dipergunakan sebagai tempat pelaksanaan beberapa cabang olahraga.

“Kalau begini siapa yang rugi? kan insan-insan olah raga juga,” katanya saat ditemui di tempat kerjanya yang berada di Jalan Rancabango, Desa Rancabango Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut. Jumat (18/11/2016).

Menurutnya, selain keterlambatan dalam pengerjaannya, ia pun menyesalkan sikap pemerintah dalam hal ini pejabat Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) yang tidak melibatkan stake holder dari pelaku atau insan olah raga termasuk Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Garut dalam perencanaan pembangunan sarana olah raga tersebut.

Jiden menilai, performa GOR yang belum selesai itu masih diluar harapan, dimana GOR yang diperuntukan sebagai venue olahraga, lebih menyerupai gedung untuk hajatan. “ Yang sangat disayangkan itu sikap Pak Kuswendi (Kadispora/red.) yang tidak mau melibatkan insan olahraga, atau KONI dalam merencanakan GOR ini. Kan yang mengerti akan kebutuhan sarana dan fasilitas GOR itu orang KONI, yang akan jadi user, masa bentuk GOR mirip gedung buat hajatan,” sesalnya.
.
Jiden pun menyesalkan sikap Pemerintah Kabupaten Garut, yang lebih memilih pengusaha luar Garut untuk pembangunan proyek-proyek besar nan monumental, ketimbang pengusaha pribumi. Padahal kata Deden, pengusaha Garut pun banyak yang berkualifikasi baik, bahkan dipakai oleh perusahaan asing, seperti PT Chevron untuk mengerjakan proyek-proyek besar, yang nilainya puluhan miliar rupiah.

“ Sayangnya pemerintah lebih memilih pengusaha luar Garut, padahal di Garut juga banyak yang sudah berstandar ISO dan dipakai perusahaan asing. Buktinya bagaimana? Ternyata pengusaha dari luar itu kan tidak bisa mengerjakan sesuai waktu.

Menurut pengusaha konstruksi asli Garut ini, hanya Kabupaten Garut lah yang belum memiliki sarana olahraga yang memadai. Padahal letaknya sangat dekat dengan Ibu Kota Jawa Barat,Bandung.

“Di Jawa Barat ini satu satunya yang tidak punya apa apa itu Garut, padahal Garut paling dekat dengan ibu kota Jawa barat, Bandung. Makanya di PON kemarin, Garut hanya jadi penonton, karena tidak ada venue,” katanya.

Ia berharap, dalam memajukan olahraga di Kabupaten Garut, pemerintah harus memiliki perencanaan yang matang, termasuk mengadakan program unggulan. Upaya tersebut diyakininya bisa tercapai apabila sinergitas antara Birokrat, Insan dan organisasi olahraga, termasuk para pengusaha terjalin dengan baik dan komunikasi yang baik. (Jay)***

Editor: Kang Cep.

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI