Ketua Gatra: Bupati Garut Jangan Macam-macam Soal Kawasan Industri

Ketua Gatra, H. Rd. Holil Akhsan

GARUT, (GE).- Wacana ekspansi kawasan industri di kawasan Garut Utara mendapat penolakan dari Forum Masyarakat Garut Utara (Gatra). Gatra beranggapan rencana Bupati Garut, Rudy Gunawan yang menetapkan empat kawasan industri di kawasan Garut Utara hanya akan merusak tatanan. Oleh sebab itu, Bupati harus menunggu hasil keputusan revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) sebelum mendeklarasikan akan membangun kawsan industri.

“Saya dengan tegas menolak industrialisasi kawasan Garut Utara. Lebih baik bupati bersabar. Jangan macam-macam dengan industrialisasi kawasan produktif,” ujar Ketua Forum Gatra, H. Rd. Holil Akhsan kepada “GE”, Jumat (19/5/2017).

Secara prinsif, Holil Akhsan, menyambut baik terkait membuka lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya di Garut. Namun menurutnya, jangan sampai mengorbankan kawasan strategis yang menjadi perlintasan nasional.


Holil menyarankan, di kawasan seperti Limbangan, Cibatu, Leles dan Selaawi lebih baik dikembangkan kawasan wisata atau perdagangan. Nantinya, perekonomian warga sekitar akan ikut terangkat. Jangan sampai karena ada masukan ke kantong bupati jadi memaksakan kawasan industri.

“Garut ini kaya dengan potensi alam. Sebenarnya bisa dioptimalkan untuk kawasan wisata. Jangan ikut-ikutan ke daerah lain,” paparnya.

Apa lagi, kata Holil, belum lama lagi ke Garut akan ada “exit” Tol. Tentunya hal ini harus dimanfaatkan untuk mendongkrak perekonomian masayarakat setempat. Jangan sampai peluang ini malah dinikmati pengusaha pabrik.

Jika berbicara terkait penyerapan tenaga kerja di Garut, seharusnya dari sekarang bupati sudah berhitung, berapa tenaga kerja yang dibutuhkan oleh pabrik yang akan berinvestasi di Garut. Selain itu, kriterianya juga harus sejak dini dipersiapkan. Jangan sampai, setelah pabrik berdiri malah tenaga kerja dari daerah lain yang dipekerjakan. Sementara putra daerahnya malah sulit masuk.

Holil mengaku, akan mendukung terkait pembangunan kawasan industri ini dilokalisir di satu tempat. Hal tersebut diyakininya akan menjadi solusi kesemrawutan tata ruang. Jika pabrik-pabrik di dirikan di empat kecamatan tentunya akan semrawut. Oleh sebab itu perlu dilokalisir di satu tempat yang terpencil.

“Jangan mendirikan pabrik di tempat strategis dong. Nantinya akan menjadi masalah baru. Coba lihat sekarang di Leles, setiap hari pasti macet karena ada pabrik sepatu di sana,” ungkapnya.

Selain itu, jika kawasan industri dipaksakan dibangun di empat kecamatan tadi, tentunya akan merusak tata ruang di sana. Apa lagi, usulan Kabupaten Garut Utara saat ini sudah mulai matang. “Jika kawasannya sudah habis oleh pabrik tentunya akan merusak wacana pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) Garut Utara,” pungkas Holil. (Farhan SN)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI