Keterlaluan Dua Anak Kades Aniaya Siswa SMK, Padahal Penyebabnya Hanya Sepele

PAKENJENG, (GE).- Entah apa yang ada di benak dua anak Kepala Desa di Pakenjeng itu. Hanya gara-gara ditanya benang layangan melintang di tengah jalan mereka langsung menghajar siswa yang melintas di depan rumahnya.

Nasib nahas dialami Fikri Hidayat (16), warga  Kampung Kibodas Rea, Desa Tegalgede, Kecamatan Pakenjeng. Anak yang baru saja diterima menjadi siswa SMK PGRI Pakenjeng ini gagal mengikuti kegiatan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) karena dianiaya dua orang yang merupakan anak kepala desa.

Akibat sejumlah luka yang dialaminya pasca penganiayaan yang dialaminya, kini Fikri hanya bisa terbaring lemah di rumahnya. Jangankan untuk pergi ke sekolah, untuk bergerak pun Fikri sulit karena rasa sakit yang dialami di beberapa bagian tubuhnya.

“Kejadian penganiayaan yang dialami anak saya itu berlangsung pada hari Senin tanggal 18 Juli 2016. Padahal saat itu anak saya akan mengikuti kegiatan di hari pertama masuk sekolah yaitu masa pengenalan lingkungan sekolah,” ujar Tatang (45), orang tua Fikri.

Diakui Tatang, dirinya sangat menyesalkan aksi penganiayaan yang dilakukan dua anak kepala desa terhadap anaknya tersebut. Apalagi hal itu bermula dari persoalan sepele, yakni karena benang layangan yang sengaja dipasang melintang di tengah jalan di depan rumah kedua pelaku. Dikatakan Tatang, saat kejadian anaknya sedang melintas di depan rumah para pelaku dengan sepeda motor yang dikendarainya. Karena khawatir benang layangan tersebut mengenai leher, Fikri pun menghentikan laju sepeda motornya. Kebetulan saat itu di sekitar lokasi ada anak kepala desa yaitu Randy dan Fikri pun menanyakan kenapa sampai ada benang layangan melintang ke jalan.

Namun, tambahnya, Randy bukannya menjawab pertanyaan tapi malah langsung menghantam punggung korban dan terus melakukan penganiayaan dengan cara memukulinya. Aksi tersebut sempat dilerai oleh ayah Randy. Namun tak lama kemudian datang kakak Randy yaitu Rendy yang kemudian juga ikut melakukan penganiayaan terhadap Fikri dengan cara meninju muka Fikri.

“Dalam kondisi limbung dan sempoyongan, anak saya langsung meninggalkan tempat itu dan pulang ke rumah. Mengetahui anak saya ada yang menganiaya, kami langsung membawanya ke puskesmas untuk divisum sekaligus diobati,” kata Tatang.

Masih menurut Tatang, setelah dari puskesmas, pihaknya langsung membawa Fikri ke Polsek Pakenjeng untuk melaporkan aksi penganiayaan yang dilakukan dua anak kepala desa tersebut. Hal ini tak lain untuk mencegah agar kejadian serupa tidak terulang lagi di kemudian hari.

Upaya proses hukum yang diambil keluarga Fikri mendapat dukungan pihak SMK PGRI Pakenjeng, tempat Fikri sekolah. Kepala SMK PGRI Pakenjeng Ade Manadin, menyatakan penganiayaan terhadap siswanya merupakan bentuk pelanggaran hukum yang tak bisa dibiarkan.

Dengan alasan tersebut, Ade meminta agar masalah ini diselesaikan secara hukum melalui pihak kepolisian. Ade pun meminta aparat kepolisian serius menanggapi dan mengungkap masalah tersebut.

“Kami mendukung upaya keluarga korban yang menempuh jalurn hukum dengan cara melapor ke pihak kepolisian. Kami meminta agar aparat kepolisian memproses masalah tersebut hingga tuntas,” ucap Ade.

Ade menilai, tindakan premanisme tidak bisa dibenarkan dalam hal apapun. Berdasarkan hasil pengecekan ke Puskesmas Sindangratu, hasil visumnya ternyata positif sehingga tak ada alasan pihak kepolisian untuk tidak menangani hal itu.

“Berdasarkan keterangan dari pihak puskesmas, korban mengalami luka dan lebam di beberapa bagian wajah seperti bibir, kelopak mata, dan punggung. Saya menilai tindakan kekerasan yang dilakukan sudah sangat keterlaluan dan harus mendapat sanksi tegas sesuai hukum yang berlaku,” katanya.

Yang lebih disesalkan Ade, kedua pelaku penganiayaan yang merupakan anak kepala desa itu usianya sudah terbilang dewasa. Sedangkan korban yang menjadi sasaran penganiayaan mereka masih tergolong anak-anak.

“Kedua pelaku sudah tergolong dewasa bahkan yang satunya sudah bekerja dan menikah. Makanya saya heran kenapa bisa-bisanya mereka melakukan aksi tak terpuji dengan melakukan penganiayaan terhadap anak-anak,” ujarnya. (Farhan SN)***