Kesulitan Air Bersih, Warga Mekarmukti Dibuatkan Sumur Artesis

TALEGONG, (GE).- Masyarakat Desa Mekarmukti, Kecamatan Talegong, Kabupaten Garut, menyambut gembira atas uluran bantuan dari salah satu bank terkemuka dan Lembaga Kemanusiaan Nasional, Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) berupa dibuatkannya sumur artesis (sumur bor). Pasalnya, selama ini ribuan warga di desa tersebut selalu mengalami kesulitan air bersih. Jika musim kemarau, warga harus mengambil ke sumber air yang jaraknya mencapai 7 kilometer.

Menurut Kepala Desa Mekarmukti, Soli Armana, jumlah warganya sebanyak 1.420 keluarga atau lebih dari 3.900 jiwa terbagi dalam empat dusun dengan luas wilayah sekitar 13.000 hektare. Dari empat dusun, sebagian besar warganya sebanyak 63 persen kesulitan air bersih, terutama Dusun Citamiang.

“Dari 1.420 keluarga, sebanyak 900 keluarga atau sekitar 2.500 jiwa kekurangan air bersih,” tutur Soli seusai peletakan batu pertama pembangunan sumur bor di SMP Negeri 2 Talegong, Desa Mekarmukti, Kecamatan Talegong, Kabupaten Garut, Sabtu (25/6/2016).

Menurut Soli, ini merupakan bantuan pertama yang diperoleh desanya. Dia pun bersyukur atas perhatian Badan Pengelola Zakat, Infak, dan Sedekah Bank Mandiri dan Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU. “Kami berharap perhatian dan bantuan seperti ini berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Selaku fasilitator bantuan, GM Pendayagunaan PKPU Pusat Ferry Suranto menjelaskan, pengadaan sumur bor dengan kedalaman 80 meter itu menghabiskan total biaya Rp 185 juta. Program ini sesuai dengan rekomendasi dan kebutuhan masyarakat.

“Selanjutnya, harus ada pemeliharaan sumur untuk mengantisipasi ketika air susah. Bisa dibentuk kelompok yang memelihara sumber air tersebut agar ada rasa memiliki,” tuturnya.

Selain pengadaan sumur bor, kata Ferry, warga desa itu juga diberikan pendampingan selama enam bulan agar masyarakat memelihara sumur tersebut. Dia berharap keberadaan sumur tersebut dapat meningkatkan kualitas hidup warga.

“Dengan adanya air bersih, perilaku buang air sembarangan makin berkurang. Tentunya dibarengi pendampingan dengan menempatkan seorang fasilitator selama 6 bulan,” ucap Ferry.

Ferry menilai, pengetahuan warga masih kurang mengenai cara menyalurkan air dari sumbernya, termasuk perilaku sehat masyarakat juga masih kurang. Dia menduga karena air terbatas, sebagian masyarakat kurang memperhatikan sanitasi.

“Jika pengetahuan mereka cukup, pasti mampu untuk menyalurkan air. Dari pengakuan warga, mereka tidak tahu pipa paralon yang tepat untuk penyaluran air,” ujarnya.

Ke depan, Ferry memproyeksikan program tersebut akan berlanjut dan diperluas lagi. Namun, perilaku masyarakat terhadap kebersihan harus berubah menjadi lebih sehat.

Koordinator Bidang IT dan Keuangan Badan Pengelola Zakat, Infak, dan Sedekah Mandiri, Mangatas Simanjuntak, berharap, selain dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan air bersih, juga ingin masyarakat memakmurkan masjid. Terlebih, masjid di SMPN 2 Talegong itu dipergunakan oleh masyarakat sekitar.

Dia meminta masyarakat senantiasa memelihara sarana air bersih tersebut karena merupakan titipan para muzakki. Selain pembangunan sumur untuk sarana air bersih, pihaknya pun memberikan 100 paket sembako senilai Rp 200.000 dan santunan kepada anak yatim piatu sebesar Rp 200.000.

“Jangan sampai rusak karena ini amanat dari muzakki. Ini adalah dana zakat yg disalurkan untuk masyarakat,” tuturnya. (Slamet Timur)***