Pantai Santolo Lebih Tepat Jadi Dermaga Perikanan

SUASAN di Pesisir Pantai Santolo, saat musim liburan Lebaran 2016./'ER'/'GE.'

CIKELET, (GE).- Pantai Santolo yang berada di kawasan Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut Jawa Barat sudah terlanjur dikenal sebagai destinasi wisata. Namun, karena minimnya sarana kerapriwsataan dan seringnya menelan korban jiwa, kawasan pantai ini menurut beberapa pihak lebih ideal dijadikan dermaga atau pelabuhan perikanan.

“Idealnya Pantai Santolo lebih cocok menjadi sebuah dermaga atau pelabuhan perikanan. Bukan kawasan objek wisata seperti sekarang. Hal ini mengingat sarana penunjang yang ada di kawasan pantai ini yang kurang memadai untuk kawasan wisata,” tutur Kepala Satuan Polisi Air (Kasatpolair) Polres Garut, AKP. Tri Andri, Kamis (4/8/2016).

Diungkapkannya, jika kawasan Pantai Santolo mau dijadikan sebagai kawasan objek wisata, maka terlebih dahulu harus dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang.

“Termasuk juga fasilitas untuk keamanan pengunjung atau wisatawan, seperti halnya life guard atau ruang imformasi wisata.” Tandasnya.

Kasatpoair berpendapa, selama ini Pemkab Garut telah salah kaprah dalam mempromosikan kawasan Pantai Santolo sebagai objek wisata. Hal ini dikarenakan kondisi Pantai Santolo yang memiliki ombak besar, sehingga potensi bahaya bagi keselamatan penhunjung atau wisatawan cukup tinggi.

“Masih ada hal lain yang memperkuat bukti kalau Pantai Santolo bukanlah objek wisata. Lihat saja, di sepanjang pantai banyak terpasang rambu peringatan larangan untuk tidak berenang di laut meski hal itu selalu dilanggar pengunjung,” tukasnya.

Meski demikian, diakui Tri, sejauh ini pihaknya tak bisa berbuat banyak untuk mencegah para wisatawan agar tuidak berkunjung atau berenang di kawasan Pantai Santolo. Di sisi lain, selama ini tingkat kunjungan ke kawasan Santolo selalu membludak, terutama saat libur hari besar seperti lebaran dan tahun baru.

Berdasarkan data yang dimiliki Satpol air, jumalah wisatawan lokal dan domestik yang mengunjungi kawasan Pantai Santolo paska lebaran 2016 lalu mencapai di atas 140 ribu. Adapun penghasilan retribusi dari para pengunjung saat itu mencapai hampir Rp 700 juta selama kurun waktu 10 hari.

Diungkapkannya, untuk kemanan atau kenyamanan para wisatawan khususnya yang memanfaatkan fasilitas pantai untuk berenang, pihaknya telah membentuk balawisata yang selalu siaga setiap libur weekand atau libur panjang. Hal ini sebagai salah satu upaya peningkatan pelayanan sesuai dengan tugas pokok Polair, melayani masyarakat dan memberikan rasa aman.

Tidak hanya itu, Tri juga menambahkan, pihaknya turut serta mensosialisasikan atau memberikan himbauan kepada warga terkait larangan untuk tidak berenang di zona-zona wilayah pantai tertentu yang memiliki arus kuat dan gelombang besar.
Namun, saat ini tingkat kesdaran maayarakat masih rendah, faktanya masih banyak warga atau wisatawan yang tidak mengindahkan larangan tersebut yang akhirnya tidak sedikit pula wisatawan yangg mengalami kecelakaan. (Tim GE)***