Kenaikan Harga Beras di Garut Capai 15 Persen, Daya Beli Masyarakat terus Menurun

Jeni (35) salah seorang penjual beras, saat menjajakan barang dagangannya di Pasar Banyuresmi, Kabupaten Garut, Minggu (14/01/2018)***

GARUT, (GE).-  Komditas bahan pokok beras di beberapa pasar di Garut terpantau mengalami kenaikan hingga 15 persen. Dalam sepekan terkahir, harga berbagai jenis beras di Pasar Ciawitali Garut hingga hari ini tak kunjung turun. Senin (15/1/2018).

Tercatat untuk harga kualitas ekslusif sarinah, naik dari harga sebelumnya Rp 11.000 per kilogram, menjadi Rp 12.000 perkilogram. Beras Banjar, yang semula seharga Rp 10.000 perkilogram, hari ini menjadi Rp 11.000 perkilogram.

Sedangkan untuk beras kualitas rendah, dari harga Rp 9.500, menjadi Rp 11.000 perkilogram. “Rata-rata beras di sini (Pasar Ciawitali) mengalami kenaikan Rp 1.000 perkilogramnya,” kata Sumiyati (65), salah seorang pedagang beras di Pasar Ciawital, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Senin (15/1/2018).


Sementara itu, harga beras di beberapa pasar tradisional daerah Garut lainnya, kenaikan harga beras mencapai Rp 13.000 perkilogram. Jeni (35) salah seorang penjual beras di Pasar Banyuresmi, Kabupaten Garut, mengatakan, dalam sebulan terkahir harga beras terus naik.

Jeni menyebutkan, untuk harga beras kualitas sedang, sebelumnya hanya Rp 9.000 naik menjadi Rp13.000 perkilogramnya. Sedangkan untuk beras kualitas rendah dari Rp 8.500 kini menjadi Rp 12.000 perkilogram.

Kenaikan harga beras ini tentunya membuat pelanggan kecewa. Akibatnya banyak yang mengurungkan membeli beras. Dan dampaknya omzet penjulana pun menurun. Salah satu penyebabnya minimnya suplai dari petani membuat harga beras semakin naik, ” ungkapnya, (14/01/2018).

Sementara itu, Muah (45)  salah seorang petani padi dari Kampung Cianten, Desa Cigawir, Kecamatan Selaawi, Garut mengakui, biasanya dalam setahun ia bisa memanen padi sebanyak tiga kali. Namun, saat ini mengalami penurunan, hanya satu kali.

“Ya, menurun, hanya dua kali dalam setahun, biasanya bisa sampai tiga kali. Mungkin karena cuaca yang tidak jelas,” katanya.

Menurut Umar (45) salah satu bandar gabah di kawasan Desa Cigawir, Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garu, bisnis gabahnya juga mengalami kendala dengan naiknya harga jual dari petani.

“Harga gabah padi kering, biasanya saya beli dari petani dengan harga  Rp 5.000, sekarang mencapai Rp 7.000 perkilogram. Sementara harga gabah basah yang langsung diambil dari lahan sawah petani asalnya Rp 4.000 kini menjadi Rp 5.500 sampai Rp 6.000 perkilogram,”  kata Umar, saat dijumapi garut-express.com di pabrik penggilingan padi Kampung Cianten, Desa Cigawir, Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut, Minggu, (14/1/2018).

“Kenaikan beras ini bagi masyarakat menengah ke bawah tentu sangat memberatkan. Dan dampaknya menurunkan daya beli juga, sementara dampaknya dan bagi saya (bandar gabah) juga kena imbasnya, dengan demikian untuk bisa tetap mempertahankan usaha ini (jual beli gabah/ beras) dituntut harus bemodal besar,” katanya. (Rangga)***

Editor: Kang Cep.

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI