Kembali Beroperasi, Limbah PT Daeyol Disoal Warga

GARUT, (GE).- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut seolah kesulitan memberikan tindakan dan sangsi kepada perusahaan yang satu ini. Padahal pencemaran udara dari perusahaan asal Korea, PT Daeyol, yang berdiri di kawasan Kampung Bojonglarang, Kelurahan Sukamentri, Kecamatan Garut Kota ini telah nyata nyata mencemari udara yang menganggu warga sekota.

Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan (DLHKP) Kabupaten Garut, Gurdiansyah, mengaku keterbatasan SDM petugas Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) di lingkungan Pemkab Garut menjadi penyebabnya.

“Dipastikan perusahaan itu (PT Daeyol/red.) tidak memiliki izin. Tapi kami tidak memiliki kewenangan untuk melakukan eksekusi, karena kendala penyidik PPNS tak kami miliki,” katanya. Jumat (6/1/2017).


Dijelaskannya, sanksi baru bisa dilakukan pihaknya selama ini sebatas memberi peringatan. Karena tak memiliki PPNS, kelanjutan atas pelanggaran perusahaan ilegal tak memiliki izin Amdal tidak bisa diproses lebih jauh.

“Secara aturan, yang memiliki kewenangan dalam memproses berbagai jenis pelanggaran yang bersifat administratif adalah petugas Penyidik PPNS,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala BPMPT Garut, Zat Zat Munazat, mendesak aparat penegak Peraturan Daerah (Perda) segera mengambil tindakan. Ditegaskannya, pihaknya tak pernah sekali pun mengeluarkan ijin untuk perusahaan tersebut.

“Kita tidak pernah mengeluarkan ijin untuk PT Daeyol di Kelurahan Sukamentri, Kecamatan Garut Kota dalam pengolahan limbah bulu ayam. Oleh karena itu aparat penegak Perda (Peraturan Daerah) harus mengambil langkah dengan melakukan penyegelan agar tidak ada aktivitas kegiatan tersebut,” jelasnya.

Perusahaan tersebut setidaknya telah berulang kali ditutup paksa oleh Satpol PP Kabupaten Garut yang dikawal aparat kepolisian. Namun , perusahaan yang mengolah limbah hewan itu tetap saja beroperasi.

Belum lama ini, seorang warga Desa Sukasenang, Kecamatan Banyuresmi, M Jalaluddin, mengaku , aktivitas pengolahan pakan tersebut sangat mengganggu meski jarak antara pabrik dengan permukiman warga cukup jauh. Menurutnya, bau tak sedap yang terhirup sangat menyengat dan mengganggu pernapasan.

“Meski jauh lokasinya dari Desa Sukasenang, bau aktivitas pengolahan pakan itu cukup membuat pusing kepala. Padahal dulu tempat itu sudah ditutup dan disegel oleh Satpol PP dan Polres Garut karena sudah tidak ada ijin‎, tapi sekarang anehnya terus melakukan,” keluhnya. (Tim GE)***

Editor: Kang Cep.

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI