Kemarin Warga Bayongbong Keracunan Makanan di Acara Hajatan, Kini Warga Pamulihan Keracunan Jajanan Ketupat

PAMULIHAN, (GE).- Peristiwa keracunan massal kembali dialami warga di Kabupaten Garut. Kali ini, gejala keracunan massal menimpa puluhan warga di Kecamatan Pamulihan.

Camat Pamulihan Asep Harsono, HS, S.Sos, mengatakan, puluhan warga itu mengalami keracunan usai menyantap jajanan tradisional berupa ketupat tahu, di Pasar Kemis (pasar rakyat) Kampung Cilinggar, Desa Linggar, Kecamatan Pamulihan. Dari informasi yang ia terima, jumlah warga yang mengalami keracunan ini berkisar antara 50-60 orang.

“Jumlahnya sekitar 50-60 orang. Semua warga yang mengalami keracunan sudah dievakuasi ke Puskesdes (Pusat Kesehatan Desa) Desa Linggar untuk mendapat pertolongan. Informasi dari warga, mereka merasakan gejala keracunan usai jajan ketupat tahu atau tahu petis,” kata Asep saat dihubungi, kemarin.

Menurut Asep, gejala yang ditunjukan warga mirip keracunan massal pada umumnya, yakni mengalami mual, pusing, hingga muntah. Peristiwa tersebut setidaknya terjadi pada pagi hari, yakni ketika pasar rakyat yang bernama Pasar Kemis berlangsung.

“Kejadiannya pagi hari, kurang lebih pukul 09.00 WIB. Setiap Kamis memang ada yang namanya Pasar Kemis. Nah di pasar rakyat itu, semua masyarakat berkumpul untuk menimkati jajanan murah. Mungkin setelah makan ketupat tahu, gejala keracunan dirasakan warga yang memakannya,” ungkapnya.

Dari keterangan para korban, kata Asep, gejala keracunan yang dialami berbeda-beda, yaitu ada yang merasakan gejala ringan dan berat. “Yang makannya sedikit, hanya pusing biasa, sementara yang makannya banyak, itu repot kondisinya sampai muntah-muntah,” katanya.

Belum diketahui pasti asal domisili para korban tersebut. Sebab, warga yang datang ke pasar rakyat ini berasal dari berbagai kampung.

“Mungkin ada juga yang dari desa dan kecamatan tetangga, seperti dari Desa Wangunjaya dan Panyindangan, Kecamatan Pakenjeng. Selain berbatasan dengan desa tetangga, lokasi Pasar Kemis merupakan pusat kegiatan masyarakat berbagai kampung di Desa Linggarjati. Jadi bisa dari mana saja korbannya,” paparnya.

Sample makanan kupat tahu, kata Asep, telah diambil untuk dijadikan pemeriksaan laboratorium. Dugaan sementara, ketupat menjadi penyebab keracunan ini.

“Ketupatnya mengandung pemadat berupa apu (tawas). Mungkin ini yang menyebabkan warga keracunan. Tapi untuk memastikannya, harus dicek laboratorium,” ungkapnya.

Sebagian warga, tambah dia, sudah diperbolehkan pulang karena kondisi kesehatannya pulih. Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Garut Jena Markus, menyatakan pihaknya telah menurunkan tim untuk memantau peristiwa keracunan massal tersebut.

“Tim sudah berangkat ke lokasi sejak pagi. Hingga siang masih dalam perjalanan, karena lokasinya berada di wilayah Garut selatan. Kami belum bisa memberi keterangan terlebih dahulu. Harus ada kepastian mengenai apa yang terjadi, dan berapa jumlah pasti korbannya,” kata Jena.

Di tempat terpisah, warga yang menjadi korban keracunan setelah menyantap hidangan pesta pernikahan di Kampung Ciranyang, Desa Mekarjaya, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, akibat mengonsumsi hidangan pesta pernikahan, telah kembali ke rumahnya karena dinyatakan pulih. Total keseluruhan korban keracunan di Kecamatan Bayongbong itu mencapai 134 orang.

“Dari tadi malam sampai siang pukul 11.00 WIB tidak ada penambahan lagi masyarakat Ciranyang yang keracunan. (Jumlahnya) masih sama, sebanyak 134 orang,” kata Agus Salim, Kepala Puskesmas Cilimus Kecamatan Bayongbong.

Dari ratusan orang korban keracunan, tinggal enam orang yang masih menjalani perawatan intensif di Kampung Ciranyang. Sebelumnya, korban keracunan yang mesti dirawat intensif sebanyak 12 orang.

“Perawatan intensif ini masih diberikan kepada warga langsung di Kampung Ciranyang. Mereka masih diberi cairan infus karena kemarin tingkat dehidrasinya cukup parah. Sementara enam orang lainnya sudah diperbolehkan pulang pada pukul 10.00 WIB tadi,” ucapnya.

Agus menjelaskan, meski sebagian besar warga sudah pulih dan pulang ke rumah masing-masing, pihaknya masih memberlakukan status siaga keracunan di Kampung Ciranyang. Status tersebut akan berlaku hingga dua hari ke depan.

“Status siaga masih berlaku, tinggal untuk dua hari ke depan,” ujarnya.

Dalam status tersebut, Agus mengaku telah menyiagakan Puskesmas Pembantu Desa Mekarjaya. Bila ada warga yang mengalami gejala serupa, diminta untuk datang ke puskesmas pembantu tersebut.

“Seluruh pembiayaan gratis, ini tanggung jawab pemerintah. Makanya bila ada warga yang merasakan gejala serupa, silakan datang ke Pustu (Puksemsas Pembantu) Desa Mekarjaya yang dekat dengan rumah warga. Semua obat-obatan, alat kesehatan, dan petugas dari Puskesmas Cilimus sudah stand by,” katanya.

Humas RSUD dr Slamet Garut Muhammad Lingga Saputra mengatakan, seluruh korban keracunan yang menjalani perawatan di rumah sakit pemerintah telah dinyatakan pulang. Menurut Lingga, sebelumnya terdapat empat warga yang dinyatakan dehidrasi.

“Tadinya di sini ada empat warga yang dehidrasinya parah. Mereka terdiri dari seorang perempuan dewasa, dan tiga anak-anak usia antara 4 dan 5 tahun. Tapi sudah dinyatakan pulih dan pulang pada pagi hari,” katanya.

Sebelumnya, ratusan korban keracunan massal di Kampung Ciranyang dirawat di sejumlah tempat berbeda. Hal itu terjadi karena jauhnya jarak dan keterbatasan tempat menjadi penyebabnya.

Ratusan warga ini setidaknya menjalani perawatan di rumah warga Kampung Cilimus, Puskesmas Kersamenak Kecamatan Bayongbong, RSUD dr Slamet Garut, RS Guntur, dan RS Nurhayati. (Farhan SN)***