Keluarga Korban Penganiyaan Laporkan Oknum Kepala SMA ke DPRD dan Kadisdik

TARKI, (GE).- Tidak jelasnya penanganan kasus penganiayaan yang dilakukan Kepala Sekolah SMA Negeri 5 Garut berinisial ‘ES’ terhadap Rama (guru honorer) oleh pihak Dinas Pendidikan Garut. Akhirnya keluarga korban mendatangi Komisi A DPRD Kabupaten Garut.
Kedatangan keluarga korban bersama Ibu korban, Nunung, langsung diterima anggota dewan di ruangan Komisi A DPRD Garut, Jalan Patriot.

“Kedatangan kami ke rumah wakil rakyat, tiada lain untuk mengadukan persoalan yang kini tengah terjadi. Dimana pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Garut tidak jelas dalam memberikan sanksi terhadap ES, yang juga Kepala Sekolah SMA Negeri 5 Garut,” ujar Nunung, kepada sejumlah awak media, Rabu (4/5/2016) .

Menurutnya, ketidak jelasan penanganan kasus penganiayaan yang dilakukan ES, dipicu adanya informasi surat pengunduran diri ES, sebagai kepala sekolah, ternyata palsu. Padahal pada tanggal 29 April 2016 dirinya kedatangan ES yang meminta untuk mencabut laporan polisi. Bermula dari sana ES langsung membuat surat pernyataan mundur dari jabatan Kepala Sekolah dan ditanda tangani oleh ES.

“Ini bentuk pendzoliman bagi keluarga kami, yang mana ES telah benar-benar membalikan fakta, yang sebenarnya, kami tidak terima dengan perbuatan ES,” sesalnya.
Sementara itu, Ketua Komisi A DPRD Garut, Alit Suherman membenarkan dengan datangnya keluarga Rama, yang menjadi korban penganiayaan ES. Pihaknya menilai persoalan yang terjadi di SMA Negeri 5 Garut, sudah tidak bisa dibiarkan.

“Jelas surat pernyataan yang diperlihatkan keluarga Rama itu asli. Hal ini berdasarkan pengakuan keluarga,” tegas Alit.

Alit pun meminta agar Dinas Pendidikan Kabupaten Garut,untuk segera bertindak meberikan sanksi tegas terhadap Kepala Sekolah ES. Jika memang benar ini pengakuan palsu, maka pihaknya menilai ES telah melakukan kebohongan publik serta memanfaatkan korban untuk mencabut laporan polisi.

Tidak selesai di Gedung DPRD, Ketua Komisi A bersama rombongan keluarga korban, langsung mendatangi Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, yang berlokasi di Jalan Pembangunan.

Ibu korban menangis dihadapan kadisdik. Nunung, ibu korban tak dapat menahan air matanya ketika mengadukan nasib anaknya yang dianiaya ES.

“Saya sangat sedih mendengar anak saya ditampar oleh kepala sekolahnya. Seharusnya kepala sekolah memberikan contoh yang baik dan dapat menahan emosinya,” ujar Nunung.

Dia juga berharap apa yang dilakukan kepala sekolah itu mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.

“Kami minta, pihak disdik memberikan hukuman yang setimpal bagi ES yang telah berbuat semena- mena,”pintanya.

Sementara itu Kadisdik Garut Mahmud, membenarkan telah ada pengaduan dari korban terkait Penamparan yang dilakukan Kepala Sekolah SMAN 5.

” Kami sudah mendapat laporan tentang kejadian itu, tetapi kami tidak dapat memberikan sanksi karena ada MP3D yang memberikan sanksi dan itu sudah kami ajukan,” ungkapnya.
Mahmud Juga menegaskan, sebelum turun dari MP3D, dirinya akan memberikan sanksi pada hari Senin ini (9/5/2016), agar kepala sekolah tersebut dipindahkan dari tempatnya bertugas.

” Sambil menunggu putusan MP3D Kepsek ES akan kami pindah tugaskan secepat mungkin,” tegasnya.

Dalam pemberitaan sebelumnya, kasus penganiayaan yang dilakukan Kepala Sekolah ES terhadap guru honorer Rama, terjadi pada tanggal (17/4/2016) sekitar pukul 11.30 WIB. (Deni Rinjani)***