Kasus “Sang Jendral Bintang Empat NII”, mulai Didalami Kominda Kabupaten Garut

KEPALA Badan Kesbangpol Kabupaten Garut, Drs. Wahyudijaya, M.Si.***

GARUT, (GE).- Kasus dugaan aliran sesat dan tindakan makar yang dilakukan WS, warga Kampung Cibodas Rea, Desa Tegalgede, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut, Jawa Barat disikapi serius pihak intelejen. Bahkan, Komunitas Intelejen Daerah (Kominda) Kabupaten Garut, konon tengah mendalami kasus tersebut.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Garut, Drs. Wahyudijaya, M.Si, menegaskan, saat ini aktivitas WS beserta para pengikutnya dalam pemantauan Kominda.

“Masih dalam tahapan pendalaman. Karena aktivitas yang terlihat baru permukaannya saja, belum detail ke bawahnya,” kata Wahyudijaya, Jumat (24/3/17).


Menurut Wahyudijaya, pihaknya belum menerima informasi terkait tindakan yang akan dilakukan terhadap pria yang dahulu dikenal mengerti ilmu agama itu. Apakah akan ditangkap atau bagaimana, masih didalami.

Wahyudijaya juga meyakini, WS berafiliasi dengan Sensen Komara, yang juga pernah dihukum akibat kasus makar. Kasus serupa, imbuh Wahyudijaya, pernah terjadi di wilayah kecamatan lain.

“Beberapa tahun lalu, saya lupa persis tahunnya, pernah terjadi kasus serupa. Yakni ketika seseorang yang mengaku Menteri Pertambangan NII yang berafiliasi dengan Sensen, melakukan aktivitas penggalian dengan tujuan menambang di wilayah Kecamatan Pamulihan,” ungkapnya.

Bedanya, terang Wahyu, saat itu orang yang mengaku Menteri Pertambangan NII tersebut langsung menghentikan aktivitasnya. Soalnya, aparat kepolisian menghubungi Sensen Komara. Waktu itu aparat kepolisian meminta Sensen menghentikan aktivitas penggalian, dan mereka menuruti.

Wahyudijaya menduga, kasus ini tak lepas dari doktrin keyakinan. Karena itu, lanjut Wahyudijaya, pihaknya akan berkoordinasi dengan Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem). Wahyu juga meminta agar MUI Garut tidak bertindak sendiri.

“Kami juga akan berkoordinasi dengan Bakorpakem, yang mana Kemenag ikut di dalamnya. Masalah ini terkait doktrin dan keyakinan, jadi harus ada keterlibatan dari semua pihak,” pungkasnya. (Farhan SN/GE)****

Editor : SMS

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI