Karyawan PT. Mandiri Tunas Finace Tancapkan Bendera di Puncak Cikuray

KOTA, (GE).- Siapa bilang, tegak dan tingginya gunung hanya bisa dikalahkan oleh para aktivivis petualang alam dan pendaki profesional. Ternyata, orang orang yang kesehariannya bergelut di bidang administrasi keuangan, pun mampu menaklukkan ketinggian Gunung Cikuray dan berhasil menancapkan bendera di atasnya.

Berangkat dari Kota Garut, Jum’at malam sekitar pukul 19.00 waib, (22/1/16), sedikitnya delapan orang karyawan PT. Mandiri Tunas Finance (MTF), akhirnya berhasil mencapai puncak Gunung Cikuray sekitar pukul 01.00 dini hari Sabtu dan menyelesaikan misi menancapkan Bendera Merah Putih dan Bendera MTF, sebagai manifestasi rasa dekat dengan alam ciptaan Alloh yang agung.

“Akhirnya kami berhasil menancapkan bendera Merah Putih kebesaran Indonesia dan Bendera MTF, perusahaan tempat kami mengabdi di puncak Gunung Cikuray. Kami sampai puncak sekitar pukul 01.00 tadi malam, dan Alhamdulillah, kami bisa kembali tadi pagi dengan selamat dan sehat walafiat,” tutur President Director PT. Mandiri Tunas Finance (MTF), Susatyo Wijoyo, Sabtu, (23/1/16), sepulang misi pendakian bersama para karyawannya.

Menurut Susatyo, mendaki dan menancapkan bendera di puncak Cikuray merupakan salah satu bentuk kegiatan refreshing, untuk menghilangkan kepenatan dari kesibukan kerja keseharian yang penuh menguras energi dan keseriusan. “Ini juga bagian dari kebijakan perusahaan dalam memberikan kesejahteraan karyawan. Karena yang namanya kesejahteraan bukan saja dalam bentuk uang, tetapi kebutuhan kesehatan dan spiritual juga tak kalah penting harus diperhatikan,” papar Susatyo.

Selain itu, imbuh Susatyo, kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan spirit dekat dan cinta pada alam di kalangan para karyawan khususnya dan masyarakat pada umumnya. Hal ini, karena alam semakin terlihat nyata kerusakannya, sehingga iklim semakin tak menentu, udara semakin kurang kesejukannya.

Mengenai upaya menekan kerusakan alam ini, kata dia, bukan sekedar retorika, namu juga diterapkan dalam kebijakan management perusahaan dalam pemenuhan kebutuhan perusahaan, dengan mengurangi seoptimal mungkin penggunaan kertas.

“Seperti kita ketahui, kertas itu selain menjadi limbah yang akan menjadi beban polusi alam, bahan bakunya juga terbuat dari kayu yang ditebang dari kebun atau hutan sehingga mengurangi hijaunya bumi ini,” kilahnya.

Lebih lanjut, Susatyo menandaskan, hingga saat ini perusahaan yang dikelolanya telah berhasil mengurangi penggunaan kertas untuk kebutuhan administrasi dan pelayanan kepada para nasabah. “Kami mengubah model model pelayanan menggunakan kertas dengan sistem kartu cetakan seperti kartu ATM, sehingga penurunan penggunaan kertas mencapai 40%,” pungkas Susatyo, sambil menyatakan model ini merupakan untuk pertama kalinya di Indonesia. (Slamet Timur)***