Kapolres Garut Apresiasi Cara Dakwah HTI

KARANGPAWITAN, (GE).- Melalui Momentum bulan sunci Ramdhan tahun ini (1437H/2016) Hizbut-Tahrir Indonesia (HTI) DPD II Garut menggelar silaturrahmi ke Mapolres Garut. Salah satu tujuan penting dalam kunjungan langka ini tak lain ialah untuk menjalin ukhuwah Islamiyah.

Kunjungan delegasi HTI DPD II Garut ini dipimpin langsung oleh Ketua DPD II HTI Garut didampingi Wakil Ketua HTI Garut, Ustad Apit Parliman, Sekum Ustadz Muslih serta Ketua DPC HTI Cilawu Ustadz Apek Romansyah. Rombongan HTI Garut ini secara resmi diterima langsung Kapolres Garut, AKBP Arif Budiman, S.I.K, M.Si, di kantornya, Selasa (14/06/2016).

“Alhamdulillah, saya bersama rombongan bersilaturramhi ke Kapolres, dan diterima langsung oleh beliau (Kapolres/ red). Hasil kunjungan tersebut intinya, pa Kapolres mengapresisasi dengan apa yang diperjuangan HTI, yakni dakwah yang damai tanpa kekerasan,” tutur Ustadz Dendi, saat dihubungi ‘GE’ Jumat (17/06/2016).

Ketua DPD HTI Garut menjelaskan bahwa selama ini perjuangan HTI (Hizbut-Tarhrir) selalu mengedepankan dakwah tanpa kekerasan (lamadiyah). Dakawah yang dilakukan HTI juga merupakan motde dakwah memahamkan masyarakat ke arah pemikiran Islam yang utuh untuk mewujudkan Islam yang Rakhmatan lil Alamiien.

“Ya, pada saat pertemuan dengan beliau (Kapolres/ red) kita juga menjelaskan terkait maraknya kriminalitas di negeri ini bukan semata karena lemahnya peran aparat kemananan. Namun yang menjadi sabab utamanya adalah diterapkannya hukum buatan manusia yang lemah sehingga tidak membuat efek jera kepada pelaku kejahtan. Jadi, untuk tatanan kehidupan masyarakat yang sejahtera, idealnya tak ada jalan lain selain diterapkannya sistem Islam secara kaffah dalam negara itu sendiri,” beber Ustadz muda ini, penuh semangat.

Ustadz Dendi menegaskan bahwa perubahan di tengah-tengah masyarakat sangat diperlukan dalam kondisi seperti sekarang. Perubahan ke arah yang lebih baik ini tentunya tidak bisa dipaksakan, namun harus diawali dengan memahamkan pemikiran kepada masyarakat yang tadinya berpikiran tidak Islami menjadi Islami.

“Jadi untuk perubahan menuju Islam yang Rahmatalan lil alamiien itu masyarakat perlu paham dulu Islam dengan syari’ahnya secara keseluruhan. Jangan memahami Islam secara sebagian sebagian, nanti malah hidup ini tidak jelas.” Tandasnya. (ER)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI

Komentar

BAGIKAN