Kapan Sistem Islam akan Terwujud ?

Oleh, Dendi Rachdiana

Pendahuluan

Kapan dakwah Islam ini berhasil mencapai tujuannya? Kapan umat berhasil meraih kekuasaan dan menegakkan syariat Islam secara kaffah? pertanyaan – pertanyaan seperti ini seringkali terlontar dari sebagian masyarakat atau para aktivis Islam. Pertanyaan seperti ini bisa jadi merupakan pertanyaan yang wajar, karena umat sudah sangat lelah dan dan jenuh dengan kondisi kehidupan yang terjadi saat ini, berbagai keruksakan telah menimpa ummat dari mulai dekadensi moral, carut marut politik dan pemerintahan dengan maraknya korupsi, kemiskinan yang semakin meluas, bertambahnya angka pengangguran, meningkatnya kasus kriminalitas, penyimpangan akidah dan sebagainya. Umat sangat merindukan Sistem Islam yang akan mengatur kehidupan dengan penuh keberkahan.

Keinginan umat Islam untuk mengembalikan kejayaan Islam, sesungguhnya sudah muncul dimana – mana dan tidak hanya di Indonesia bahkan diberbagai belahan dunia kita dapat menyaksikan munculnya kesadaran umum umat Islam untuk kembali ke syariat Islam. Umat Islam juga sudah menyadari bahwa syariat Islam tidak mungkin diterapkan, kecuali ada institusi Negara yang mewadahi, dalam terminologi fiqh Islam Negara tersebut dinamakan Khilafah Islamiyah. Tetapi persoalannya kapan kehadiran Khilafah Islamiyah segera datang? Berbagai metode dan langkah telah dilakukan, namun sayang berbagai metode yang telahditempuh tersebut sampai saat ini belum membuahkan hasil.

Khilafah Janji Allah

Ulama empat madzhab telah menyatakan tegaknya khilafah Islamiyah adalah janji Allah Swt kepada orang –orang beriman. Karena, Allah Swt telah menyampaikan janji ini dengan jelas dan gambang. Allah Swt berfirman :
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” [TQS An Nuur (24):55]

Imam Ibnu Katsir, ketika menafsirkan ayat di atas menyatakan, “ Inilah janji dari Allah Swt kepada Rasulullah saw, bahwa Allah akan menjadikan ummat nabi Muhammad saw sebagai khulafa al-ardh yakni pemimpin dan pelindung manusia. Dengan merekalah (para khalifah) akan terjadi perbaikan negeri dan seluruh hamba Allah dan tunduk kepada mereka. (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibn Katsir, VI/77).

Begitu pula Imam ath-Thabari menyatakan, “Sungguh, Allah akan mewariskan bumi kaum musyrik dari kalangan Arab dan non Arab kepada orang-orang beriman dan beramal sholeh. Sugguh pula, Allah akan menjadikan mereka sebagai penguasa dan pengaturnya.” (Imam ath-Thabari, Tafsir ath-Thabari, XI/2808).

Janji agung ini tidak hanya berlaku bagi orang – orang beriman dan beramal sholeh pada masa generasi sahabat belaka. Namun berlaku pula sepanjang masa bagi orang-orang mukmin yang beramal sholeh. Imam syaukani berkata, “inilah janji Allah SWT kepada orang yang beriman kepadaNya dan melaksanakan amal sholeh tentang kekhilafahan bagi mereka di muka bumi, sebagaimana Allah pernah mengangkat penguasa orang – orang sebelum mereka”. Inilah janji yang berlaku umumbagi seluruh generasi umat.

Metode Menegakan Khilafah

Dalam sejarah perjalanan peradaban Islam, metode satu–satunya yang telah terbukti berhasil mewujudkan Sistem Islam, dan hanya metode ini yang digunakan oleh Rasullah saw dalam upaya menegakan Daulah Islamiyah di Madinah yaitu thalabun-nusroh.

Thalabun-nushrah adalah aktivitas mencari perlindungan dan kekuasaan yang dilakukan partai politik Islam kepada ahlun nushrah (pemilik kekuasaan)pada penghujung tahapan dakwah, yaitu tahapan berinteraksi dengan umat (at-tafa’ul ma’a al-ummah). Thalabun-nushrah bukanlah suatu tahapan (marhalah) dakwah, melainkan suatu amal (aktivitas) dakwah dalam suatu tahapan dakwah.Thalabun-nushrah mempunyai dua tujuan:

Pertama, mendapatkan perlindungan (himayah) bagi para individu pengemban dakwah dan kegiatan dakwahnya. Misal, Rasulullah saw. mendapat perlindungan dari pamannya (Abu Thalib), atau Rasulullah saw mendapat jaminan keamanan dari Muth’im bin Adi sepulangnya dari Thaif. Kedua, untuk mendapatkan kekuasaan (al-hukm) guna menegakkan hukum Allah dalam negara Khilafah.

Dahulu, Rasulullah saw menerima kekuasaan dari kaum Anshar sehingga beliau kemudian dapat menegakkan Daulah Islamiyah di Madinah (Manhaj Hizbut Tahrir, 2009, hal. 49).
Thalabun-nushrah adalah thariqah (metode) yang tetap dan wajib dilaksanakan untuk menegakkan Khilafah. Rasulullah saw tetap melakukan aktivitas thalabun-nusroh terhadap berbagai kabilah, tanpa merubah thariqahnya dengan thariqah yang lain, meskipun mengalami penolakan dan kesulitan.

Ini merupakan qarinah (indikasi) yang jazim (tegas) bahwa thalabun-nushrah yang dilakukan Rasulullah saw. adalah suatu kewajiban dan perintah syar’i, yakni perintah dari Allah SWT, bukan inisiatif Rasulullah saw. sendiri atau sekadar tuntutan keadaan.(‘Atha bin Khalil, Taysir al-wushul ila al ushul hal 22). Jadi, thalabun-nushrah bukan uslub (cara) yang hukumnya mubah yang dapat berubah-ubah sesuai situasi dan kondisi.

Seputar Ahlun Nushrah

Siapakah Ahlun Nushrah? Ahlun nushrah atau disebut juga Ahlul Quwwah artinya adalah al-qadirun ‘ala i’tha’ al-hukm, yaitu orang-orang yang berkemampuan untuk memberikan kekuasaan. Mereka bisa jadi adalah orang-orang yang sedang memegang kekuasaan, atau bisa jadi tidak sedang memegang kekuasaan, namun memiliki kekuatan dan pengaruh yang kuat menuju kekuasaan dan kepada masyarakat.

Berdasarkan Sirah Nabi saw., dapat disimpulkan beberapa poin penting terkait Ahlun Nushrah. Pertama: Ahlun Nushrah haruslah sebuah kelompok (jama’ah), bukan individu. Sebab, Rasulullah saw. hanya meminta nushrah dari kelompok, bukan dari individu-individu, kecuali individu itu adalah representasi dari sebuah kelompok. Dulu Rasulullah saw mendatangi kabilah Tsaqif di Thaif, yang kedudukan kabilah itu setara dengan negara. Beliau juga mendatangi kabilah Kalb sebagai kelompok yang kuat dalam sebuah negara. Beliau juga mendatangi Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah sebagai individu-individu yang merepresentasikan sebuah Negara.

Kedua: Ahlun Nushrah haruslah kelompok yang kuat, yakni berkemampuan menyerahkan kekuasaan, termasuk mampu mempertahan-kan Khilafah kalau sudah berdiri. Jadi thalabun-nushrah tak boleh berasal dari kelompok yang lemah. Dulu Rasulullah saw. pernah meminta nushrah dari kabilah Bakar bin Wail.

Namun, Rasulullah saw. kemudian membatalkannya setelah tahu kabilah itu tidak berkemampuan. Rasulullah saw bertanya kepada kabilah Bakar bin Wail, “Berapa jumlah kalian?” Mereka menjawab, “Banyak, seperti butiran tanah.” Rasulullah saw. bertanya lagi, “Bagaimana kekuatan kalian?” Mereka menjawab, “Tak ada kekuatan (laa mana’ah). Kami bertetangga dengan Persia, tetapi kami tak mampu melindungi kami dari mereka…” Akhirnya Rasulullah saw hanya mengajak mereka ingat kepada Allah dan mengabarkan kerasulan beliau.

Ketiga: Ahlun Nushrah wajib orang-orang Muslim, tak boleh non-Muslim. Hal ini tampak jelas dari aktivitas Rasulullah saw. dalam thalabun-nushrah kepada berbagai kabilah. Beliau meminta mereka beriman lebih dulu, setelah itu baru meminta mereka memberikan perlindungan kepada Rasulullah saw. Ini jika nushrah yang diminta berupa dukungan untuk memperoleh kekuasaan. Adapun jika untuk kepentingan perlindungan pribadi (himayah syakhshiyah), boleh berasal dari non-Muslim, seperti halnya Rasulullah saw yang mendapat perlindungan dari paman beliau Abu Thalib yang non-Muslim

Keempat: Ahlun Nushrah haruslah orang-orang yang mendukung syariah dan Khilafah, bukan orang yang memusuhi Islam seperti kaum sekular, liberal, dan sebangsanya. Dulu Rasulullah saw mendapatkan nushrah dari kabilah Aus dan Khazraj setelah kedua kabilah itu mendapatkan pengajaran agama Islam dari Mushab bin Umair ra, di Madinah. Jadi, Ahlun Nushrah wajib mengikuti pembinaan lebih dulu sebagai pelajar (daris) dalam halqah untuk mempelajari Islam dalam partai politik yang melakukan thalabun-nushrah, meski tidak disyaratkan harus menjadi anggota partai politik itu.

Kelima: Ahlun Nushrah harus berada sepenuhnya di bawah kendali partai politik yang mereka dukung, bukan menjadi kekuatan terpisah di luar kontrol. Ini dapat dilihat dari bagaimana Rasulullah saw mengendalikan sepenuhnya kabilah Aus dan Khazraj yang memberikan nushrah. Misalnya, Rasulullah saw. meminta kabilah Aus dan Khazraj untuk memilih 12 orang dari mereka sebagai wakil mereka untuk bermusyawarah dengan Rasulullah saw. Rasulullah saw juga melarang kabilah Aus dan Khazraj untuk memerangi penduduk Mina. Ini menunjukkan semua urusan Ahlun Nushrah berada sepenuhnya di bawah kendali Rasulullah saw.

Keenam: Ahlun Nushrah tidak dibenarkan meminta kompensasi atau konsesi tertentu sebagai imbalan melakukan thalabun-nushrah, misalnya meminta jabatan tertentu setelah sistem Islam “Khilafah” berdiri. Ini tampak jelas dari penolakan Rasulullah saw terhadap permintaan kabilah Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah yang mensyaratkan agar setelah Rasululah saw meninggal, kekuasaan diserahkan kepada mereka.

Ketujuh: Ahlun Nushrah disyaratkan tidak terikat dengan perjanjian internasional yang bertentangan dengan dakwah, sementara mereka pun tak mampu melepaskan diri dari perjanjian internasional itu. Hal ini karena Rasulullah saw. dulu tidak jadi meminta nushrah dari kabilah Bani Syaiban, karena mereka masih terikat perjanjian dengan Kerajaan Persia untuk tidak saling menyerang, sedang mereka pun tidak mampu melepaskan diri dari perjanjian itu.
Mempersiapkan Suasana Nushrah

Siapa saja yang mengkaji Sirah Nabi saw kita akan menyaksikan bahwa Nabi saw melakukan beberapa aktivitas penting dan berkesinambungan sebelum mempersiapkan suasana nushrah dan penerimaan kekuasaan di Madinah. Langkah pertama yang beliau lakukan adalah mengontak delegasi suku Khazraj yang berkunjung ke Makkah dan meminta mereka masuk Islam.

Setelah masuk Islam, beliau memerintahkan mereka kembali ke Madinah untuk mendakwahkan Islam kepada kaumnya. Setibanya di kota Madinah, mereka menampakkan keislaman mereka dan mengajak kaumnya masuk Islam. Jumlah kaum Muslim terus bertambah. Pada tahun berikutnya, mereka kembali menemui Rasulullah saw. Jumlah mereka pada saat itu 12 orang.

Nabi saw menerima mereka dan mengutus Mush’ab bin ‘Umair ra untuk menjadi pengajar mereka di Madinah. Akhirnya, melalui tangan Mush’ab bin ‘Umair ra., para pembesar Auz dan Khazraj masuk Islam serta menunjukkan dukungan dan loyalitas yang amat kuat terhadap Islam, tidak hanya pembesar suku Auz dan Khazraj tetapi telah terbentuk opini umum tentang Islam yang lahir dari kesadaran umum pada penduduk Madinah.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa realitas Madinah sebelum terjadinya Baiat Aqabah II, baiat yang menandai terjadinya penyerahan kekuasaan di Madinah adalah realitas yang dipersiapkan untuk pembentukan opini umum membela Islam dengan kekuatan. Artinya, Madinah dipersiapkan sedemikian rupa hingga Islam diterima oleh mayoritas penduduk Madinah dan menjadi opini umum yang mampu mendominasi para penganut agama lain di Madinah.

Tidak hanya itu, opini umum tersebut juga ditujukan agar masyarakat Madinah siap membela kepemimpinan baru, yakni kepemimpinan Rasulullah saw. Opini umum untuk membela Islam tersebut lahir dari kesadaran umum mayoritas masyarakat Madinah dan para pembesarnya atas hakikat Islam dan atas diri Rasulullah saw dalam kapasitasnya sebagai nabi dan pemimpin takattul Sahabat.

Rasulullah saw belum bersedia menerima nushrah li istilam al-hukm, kecuali setelah kondisi-kondisi di atas terwujud dan yakin dengan kesiapan penduduk Madinah. Setelah yakin terhadap kesiapan penduduk Madinah untuk menerima dan membela kekuasaan Islam, Rasulullah saw meminta wakil penduduk Madinah dengan disertai Mush’ab bin Umair menemui beliau di Bukit Aqabah.

Tujuan pertemuan itu adalah meminta nushrah dari penduduk Madinah agar menyerahkan kekuasaan mereka di Madinah kepada Rasulullah saw. dan meminta kesediaan mereka untuk membela Rasulullah saw. dengan harta, anak-anak istri dan nyawa mereka. Aktivitas thalabun nushrah di Bukit Aqabah sebagai langkah muqaddimahistilam al-hukm (penerimaan kekuasaan) menjadi sempurna setelah Nabi saw tiba di Madinah dan menegakkan Daulah Islamiyah di sana.

Dalam konteks saat ini terbentuknya opini umum yang lahir dari kesadaran umum merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh suatu negeri yang hendak ditegakkan thalabun nushrah li istilam al-hukm. Hanya saja, negeri tersebut juga harus memiliki kemampuan untuk melindungi eksistensi dan kelangsungan Sistem Islam secara mandiri, dan tidak di bawah kendali atau dominasi negara lain.

Yang dimaksud dengan opini umum adalah; adanya keinginan untuk diatur dan diperintah oleh kekuasaan Islam pada mayoritas kaum Muslim yang ada di sebuah negeri yang layak dilakukan thalabun nushrah. Keinginan tersebut pun harus muncul pada diri ahlul nushrah ,panglima militer, pemimpin parpol, para politisi, dan lain sebagainya, dan tidak cukup hanya muncul pada mayoritas kaum Muslim belaka.

Sehingga kapan Sistem Islam yaitu Khilafah Islamiyah akan terwjud apabila ahlun nushrah telah memberikan nushrahnya (pertolongannya)yang ditujukan untuk aktivitas istilam al-hukm (penerimaan kekuasaan) telah terpenuhi sejumlah kondisi dan syarat-syaratnya. Syarat-syarat yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut:

1. Terbentuknya opini umum (ra’yu al-’am) tentang Islam dan partai politik yang memperjuangkannya yang bersumber dari kesadaran umum (wa’yu al-’am) di suatu negeri Islam.
2. Terpenuhinya syarat-syarat khusus di suatu negeri yang hendak dimintai nushrah, yakni: negeri tersebut memiliki kemampuan untuk melindungi eksistensi dan keberlangsungan sistem Islam. Negeri tersebut harus mampu memberikan proteksi mandiri terhadap Khilafah Islamiyah dan tidak di bawah proteksi negara lain, atau dikuasai secara langsung oleh negara lain.
3. Keikhlasan ahlul-nushrah dalam menolong dakwah, penerimaan mereka yang sempurna terhadap Islam dan Sistem Islam, serta tidak adanya keraguan dan kekhawatiran pada diri mereka terhadap kekuatan lain atau negara lain, atau terhadap kelompok-kelompok Islam lain maupun kelompok non-Islam yang memiliki tujuan yang berbeda dengan tujuan Islam.

Ketiga syarat ini yang akan dapat mewujudkan perubahan menuju perubahan Sistem Islam Khilafah Islamiyah, tetapi perubahan akan menjauh dan berhitung mundur berubah dari detik menjadi menit, jam, hari, minggu, bulan bahkan tahun apabila tanpa adanya aktivitas thalabun nushrah serta terpenuhinya syarat-syarat di atas. Wallahu’alam bi shawab.

Penulis adalah Ketua DPD II HTI Kabupaten Garut.