Kadishub: Parkir Liar dan PKL Biang Kemacetan di Garut Kota

KOTA,(GE).- Berjubelnya PKL serta parkir liar diindikasikan menjadi biang kerok kemacetan di 120 titik persimpangan kawasan Garut kota. Kondisi seperti ini membuat Pemkab Garut “angkat tangan.” Pihak Pemkab mengaku kesulitan untuk mengurai kemacetan, kecuali dengan perluasan kota.

Demikian diungkapkan Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Kabupaten Garut Wahyudijaya, kepada sejumlah wartawan, Jumat (13/05/2016). Diakuinya masalah kemacetan ini menjadi persoalan yang sulit dipecahkan. Keberadaan parkir liar dan PKL memperburuk kondisi lalu lintas yang kian padat.

“Panjang dan lebar jalan di perkotaan tidak bertambah, sedangkan jumlah kendaraan terus meningkat, terutama akhir pekan,” tukasnya.

Kadishub mencontohkan, ketika persimpangan jalur Ahmad Yani-Bratayudha-Ciwalen disatujalurkan menyebabkan 24 titik konflik. Kemacetan malah semakin parah saat jalur tersebut diubah menjadi dua jalur yang menimbulkan 32 titik konflik kemacetan.
Wahyu mengaku sudah memaksimalkan upaya penguraian kemacetan dengan mengedepankan himbauan dan penertiban. Pihaknya mendorong penertiban penderekan paksa oleh tim gabungan berdasarkan Perda K3.

“Petugas didukung oleh aparat pemerintah terkait. Tapi, terkendala anggaran dan sarana pengumpulan kendaraan yang terkena penertiban,” ucapnya.

Selain itu, pihak kepolisian terus melakukan penilangan terhadap pengemudi yang melanggar. Sayangnya, penilangan belum menimbulkan efek jera.

Oleh karena itu, pihaknya mendorong pihak swasta untuk mengembangkan pengelolaan parkir. Saat ini, baru terdapat 11 titik parkir yang dikelola pihak swasta di kawasan Garut Kota dan Tarogong Kidul.

Pihak Dishub mewacanakan pemkab memiliki dua titik parkir di wilayah Jalan Ciledug, Kecamatan Garut Kota. Namun, yang menjadi persoalan adalah diperlukan puluhan miliar untuk merealisasikannya.

“Pemerintah juga kenapa tidak (punya titik parkir). Kita sudah koordinasi dan dikembangkan di forum briefing,” tuturnya. (Tim GE)***