Kadis PUPR Garut : Salah satu Penyebab Banjir Tarogong Akibat Alih Fungsi Lahan

SEBUAH mobil warga terbawa arus banjir di kawasan Tarogong Garut, Senin (5/6/2017) malam.***

GARUT, (GE).- Tingginya curah hujan menjadi penyebab banjir yang merendam beberapa wilayah di empat kecamatan, Kabupaten Garut, Senin (5/6/2017) malam. Selain akibat curah hujan, banyaknya bangunan yang menyalahi tata ruang dan alih fungsi lahan juga menjadi penyebab terjadinya banjir tersebut.

Hingga saat ini, belum ada ketegasan dari pihak pemerintah untuk menertibkan bangunan tersebut, baik yang dibangun pengembang maupun warga.

Menurut Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan rakyat (PUPR) Kabupaten Garut, Uu Saepudin, salah satu penyebab banjir di sejumlah lokasi di Garut memang salah satunya akibat tingginya curah hujan. Hal ini menyebabkan sungai tak mampu lagi menampung air sehingga akhirnya meluap ke jalan, pemukiman, serta lahan pertanian.


“Curah hujannya memang tinggi sehingga sungai tidak bisa menampung luapan air yang akhirnya terjadilah banjir yang melanda permukiman, jalan, areal pertanian dan fasilitas lainnya,” kata Uu, Rabu (7/6/2017).

Selain karena tingginya intensitas curah hujan, tambah Uu, luapan air dari sungai juga akibat terjadinya sedimentasi pada saluran air yang ada. Hal ini menyebabkan sungai menjadi dangkal dan tak bisa lagi menampung air yang debitnya sangat luar biasa akibat hujan deras.

Dikatakannya, pendangkalan di antaranya juga terjadi pada Sungai Ciojar yang melintas di sekitar lokasi yang kemarin diterjang banjir. Tidak hanya pendangkalan, Sungai Ciojar juga telah mengalami penyempitan sehingga mengurangi kemampuan daya tampung air.

Ditanya terkait upaya pemerintah dalam rangka mengantisipasi terjadinya pendangkalan dan penyempitan aliran sungai, diakui Uu kalau belakangan ini program pengerukan sungai tidak dilakukan. Hal ini dikarenakan pihaknya sedang fokus pada penggelontoran saluran air perkotaan.

Namun Uu menyebutkan, pada tahun ini pengerukan dan pemeliharaan Sungai Ciojar serta saluran air lainnya akan kembali dilakukan. Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya luapan air dari sungai yang tidak mampu lagi menampung air akibat terjadinya pendangkalan dan penyempitan.

Semua permasalahan itu, tutur Uu, kemudian diperparah dengan banyaknya bangunan yang didirikan di atas saluran air. Hal ini tentu dapat mengganggu kelancaran saluran air terutama saat terjadi peningkatan debit air.

“Kami akan meminta warga yang masih sesukanya membuat bagunan dengan mengganggu saluran air untuk segera menyadari dan membongkarnya. Semua bangunan yang saat ini ada dan mengganggu saluran air dapat dipastikan tidak ada izinnya dan itu jelas merupakan pelanggaran,” jelasnya. (Tim GE)***

 

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI