Jenderal NII dari Pakenjeng Mulai Jalani Persidangan, Para Pengikutnya dengan Penuh Takjim Menciumi Tangan “Sang Jendral”

GARUT, (GE).- Pasca ditangkap pihak kepolisian beberapa waktu yang lalu, Wawan Setiawan (52), warga Kampung Kiarabodas, Desa Tegalgede, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut yang mengaku Jenderal bintang IV Negara Islam Indonesia (NII) mulai menjalani sidang perdana.

Menurut Kepala seksi pidana umum (Kasiepidum) Pengadilan Negri Kabupaten Garut, Edward, agenda sidang yang pertama ini, adalah pembacaan dakwaan serta mendengarkan keterangan saksi saksi.

“Wawan didakwa dengan pasal 107 tentang percobaan tindakan makar, dan pasal 156 mengenai penistaan agama. Jika terbukti bersalah, ancaman hukumannya 15 tahun penjara,” Ujar Edward, Rabu (9/8/17).

Dalam gelar sidang perdana tersebut, selain terdakwa hadir juha hadir sembilan saksi termasuk Kepala Desa Tegalgede, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut. Tetapi ada beberapa orang saksi lainnya tidak hadir dalam persidangan, sehingga akan di lakukan pemanggilan kembali di sidang berikutnya.

“Bahkan salah seorang warga yang dikatakan sebagai presiden NII, yakni Sensen Komara Bakar Misbah yang masuk dalam daftar pemanggilan pihak pengadilan tidak hadir,” ungkapnya.

Sebelumnya, Wawan Setiawan yang berafiliasi dengan ajaran sesat Sensen Komara diketahu telah melaukan penistaan agama dengan melakukan shalat menghadap ke timur. Wawan dan Iwan Sopian (60) yang merupakan pengikut aliran ini bersikeras jika hal yang dilakukan bersama beberapa pengikut lainnya adalah benar.

Bahkan, Iwan mengaku heran kenapa Wawan yang tak lain besannya sendiri ditahan pihak kepolisian dan harus menjalani sidang. Dengan tegas Iwan mengatakan jika Wawan tidak bersalah dan berharap bisa bebas dari hukuman.

Sementara itu, menurut Kepala Desa Tegalgede, Kartika Ernawati, setelah kasus ini masuk ke ranah hukum, aktifitas pengikut ajaran Sensen Komara yang salatnya menghadap timur sudah tidak dilakukan secara terang-terangan lagi.

“Tapi saya¬†mengaku tidak tahu kalau hal tersebut dilakukan di rumah masing-masing secara sembunyi-sembunyi,” ujar Kartika.

Ada hal menarik saat memasuki waktu jeda persidangan, semua saksi yang merupakan pengikut Sensen Komara dan Wawan, tampak dengan takjim mencium tangan Wawan. Kejadian itu tak ayal membuat hadirin yang mengikuti proses persidangan menggelang-gelengkan kepala. (Useu G Ramdani)***

Editor: Kang Cep.

[contact-form][contact-field label=”Name” type=”name” required=”true” /][contact-field label=”Email” type=”email” required=”true” /][contact-field label=”Website” type=”url” /][contact-field label=”Message” type=”textarea” /][/contact-form]

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *