Jembatan Lebak Siuh Tak Kunjung Dibangun, Warga Harus Pacu Adrenalin untuk Bisa Menyebrang

PASCABANJIR Cimanuk sudah berlalu dua bulan, sejumlah infrstruktur belum sepenuhnya pulih atau diperbaiki. Kondisi ini membuat sebagian warga terpaksa harus menggunakan sarana seadanya.

Salah satu jembatan yang putus terdampak banjir Cimanuk di Kampung Lebak Siuh, Kelurahan Muara Sanding, Kecamatan Garut Kota, misalnya. Hingga kini sarana vital untuk warga berlalaulintas ini belum kunjung diperbaiki  (dibangun) kembali. Bahkan jembatan darurat pun belum dibuat.

Untuk tetap bisa beraktivitas menyebrangi  sungai, terpaksa warga sekitar harus menantang maut dengan mengunakan alat “eretan” yang tergantung melintas Sungai Cimanuk. Sementara itu, bagi warga yang enggan mengambil resiko dengan bergelayutan di alat sederhana ini, terpaksa harus memutar jalan dengan jarak tempuh yang lebih jauh beberapa kali lipatnya.


Papap Didin (55) salah seorang warga mengakui,  pascahanyutnya jembatan penghubung antara Desa Cibunar Kecamatan Tarogong Kidul dan Kampung Lebak Siuh, Kelurahan Muara Sanding, Kecamatan Garut Kota,  warga sekitar praktis terkendala.

“Ya, setelah jembatan ini hancur diterjang banjir bandang, hingga kini jembatan belum dibangun kembali. Untuk tetap bisa menyebrang terpaksa kami menggunakan “ eretan” (katrol tergantung/red)  sederhaha ini.  Kita harus bergantain menarik dari sebrang sungai,” ungkapnya.

Dijelaskannya,  jembatan  di Kampung Lebak Siuh ini merupakan jembatan penting yang biasa digunakan warga beraktivitas. Jembatan ini juga, warga biasa menyebrang untuk mengikuti pengajian di Pesantren Al-Qadar. Dengan alat penyebrangan ini, warga harus antri, karena memang alat ini hanya bisa digunakan satu orang.

Papap Dindin yang merupakan warga Perum Cempaka, sengaja datang untuk bersilaturahmi dengan pendiri sekaligus pemilik pondok pesantren Al-Qodar, mengakui. Dirinya sangat bersyukur saat hendak melintas ada seseorang yang membantunya menyebrang dengan menarik eretan.

Alhamdulillah, pas saya mau nyebrang  untuk bersilaturahmi dengan pemilik pondok pesantren, kebetulan ada juga yang hendak menyebrang jadi bisa bergantian menarik. Lumayan juga memicu adrenalin.  Kebayang kalau tidak ada siapa-siapa bakal sulit menyebrangi sungai ini,” ungkapnya, Selasa (15/11/2016).

Sejumlah warga tentunya mengeluhkan kondisi seperti ini. Mereka berharap agar pemerintah atau siapapun dermawan yang peduli segera membantu untuk mebangunkan jembatan di kawasan ini. Sehingga aktivitas warga bisa kembali normal. (Tim GE)***

Editor: Kang Cep.

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI