Jangan Lagi Ada Nisa yang Lain

GARUT, (GE).- Perumahan Banyuherang Regency di Kampung Dunguscili Desa Cipicung Kecamatan Banyuresmi, Jumat (2/12/2016), dibuat heboh dengan penemuan tubuh Fahmi Nisa Nurhayati (19) yang tinggal di Blok D 02 perumahan tersebut tewas dengan kondisi bersimbah darah dan setengah bugil.

Aparat kepolisian yang menerima laporan pun turun ke lapangan untuk melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). Dari hasil olah TKP dan pemeriksaan saksi-saksi, dalam waktu beberapa jam. Pelaku atas nama Restu Fauzi (20) berhasil diamankan dikediamannya di Kampung Lebaksari Kelurahan Regol Kecamatan Garut Kota.

Kerja cepat aparat kepolisian mengungkap kasus pembunuhan dan pemerkosaan tersebut bisa terjadi setelah pelaku membawa handphone dan laptop milik korban. Sinyal handphone berhasil dilacak aparat kepolisian hingga akhirnya pelaku diamankan.


Kasatreskrim Polres Garut, AKP Sugeng Heriyadi mengungkapkan, dari hasil pemeriksaan pelaku masuk ke rumah yang ditempati korban seorang diri pada tengah malam lewat atap dan mencongkel jendela untuk masuk ke dalam rumah. Sugeng juga mengakui dari hasil pemeriksaan pelaku juga melakukan pemerkosaan terhadap korban.

Menurut Sugeng, saat diperiksa, pelaku memang cukup licin dan licik dalam melakukan aksinya. Awalnya, pelaku melakukan upaya perampokan yang diikuti dengan pembunuhan dan pemerkosaan tersebut bersama satu orang temannya. Bahkan agar hukumannya ringan pelaku menyebut yang melakukan pemerkosaan adalah temannya. Bukan hanya itu, pelaku juga banyak mengarang cerita yang berbeda kepada aparat kepolisian dan warga.

“Pelaku sempat berlari ke arah jalan Banyuresmi dan meminta pertolongan pengguna jalan dengan tangan bersimbah darah dengan alasan jadi korban begal, kemudian oleh warga pelaku diantar ke rumahnya di kawasan Ciledug Garut Kota,” katanya.

Keluarga korban, Rahmi Nurbayani (28) yang juga kakak kandung korban melihat, aksi yang dilakukan oleh pelaku, sudah direncanakan jauh-jauh hari. Karena, beberapa hari sebelum kejadian sempat ada orang yang bertanya kepada ibunya soal keberadaan adiknya di rumah yang ditempatinya dua tahun belakangan tersebut. “Pelaku itu sudah merencanakan aksinya. Dia sudah mengetahui jika adik saya tinggal seorang diri di rumah. Dia memanfaatkan situasi itu,” tegasnya.

Karena menilai pelaku telah merencanakan aksinya, Rahmi melihat pelaku bisa dijerat dengan pasal pembunuhan berencana dan dirinya berharap pelaku dapat dihukum dengan hukuman mati. “Hukuman mati setimpal dengan apa yang dilakukannya. Dia telah menghilangkan nyawa adik saya dan memperkosanya. Dengan hukuman ini, saya berharap kejadian yang menimpa almarhumah adik saya tidak terjadi kembali,” harapnya.

Rahmi berharap, dengan dihukum beratnya pelaku pembunuhan adiknya, maka akan ada efek jera bagi para pelaku kekerasan hingga nantinya tidak ada lagi wanita-wanita yang menjadi korban kekerasan.

Pembunuhan terhadap anak tokoh Muhammadiyah Banyuresmi tersebut, mengundang reaksi keras dari berbagai pihak. Wakil Bupati Garut dr Helmi Budiman pun menyambangi rumah duka dan berharap aparat kepolisian dapat memberikan hukuman yang setimpal terhadap pelaku. Helmi juga mendoakan agar almarhumah yang juga Ketua Ikatan Mahasiswa Kesehatan (Ismakes) diterima di sisi Allah SWT dan diberi tempat yang mulia.

Sekretaris Komisi D DPRD Garut, Karnoto S Kep menegaskan, jajaran DPRD Garut menaruh perhatian besar atas kasus ini dan berharap aparat kepolisian dapat bertindak profesional dalam mengungkap kasus tersebut hingga nantinya hakim bisa memutus pelaku dengan hukuman seberat-beratnya. “Korban adalah mahasiswa yang juga pernah saya ajar,” kata Dosen di beberapa perguruan tinggi kesehatan di Garut tersebut.

Karnoto yang juga Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kabupaten Garut berharap, kasus ini harus menjadi pelajaran bagi semua pihak agar tidak ada lagi tindak kekerasan di Garut, terutama terhadap kaum perempuan. “Jangan ada lagi Rani lain, semua pihak harus bergerak melawan segala macam bentuk kekerasan di Garut,” katanya.

Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Garut, Hj Diah Kurniasari Gunawan menyampaikan, segala macam tindak kekerasan harus dilawan oleh semua pihak. Oleh karenanya dirinya mengajak semua pihak untuk ikut mengawal kasus yang menimpa mahasiswi Akademi Keperawatan Pemda Garut tersebut.

Diah berharap, belajar dari kasus ini, semua pihak bisa bergerak melakukan kampanye melawan kekerasan. Karena, saat ini kekerasan fisik yang mengarah pada tindak pidana sudah marak terjadi di Garut dengan pelaku dari berbagai kalangan. (Tim GE)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI