Janda Renta Nan Tangguh dari Kaki Gunung Cikuray, Mak Cimi Pertahankan Hidupnya dengan Mengais Kayu Bakar

MEMIKUL beban seberat badannya adalah rutinitas kesehariannya. Di usianya yang kian senja, wanita ini dipaksa keadaan untuk mempertahankan hidupnya dengan mengais rezeki di kaki Gunung Cikuray.

Adalah Mak Cimi, janda renta yang kini usianya hampir seabad. Ia kini hidup bersama anak satu satunya di Kampung Ciburuy, Desa Pamalayan, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat.


Nenek Tangguh, begitu warga sekitar kaki Gunung Cukray menjuluki Mak Cimi. Julukan itu disematkan kepada Nenek ini karena fisiknya yang masih kuat membawa beban berat di usia rentanya. Bermandi peluh, menggendong kayu bakar dengan jarak berkilo meter dari kaki Gunung Cikuray adalah rutinitasnya untuk sekedar mencari sesuap nasi.

Saat sang mentari masih belum menampakan cahaya sempurnanya di ufuk timur. Mak Cimi sudah bergegas berangkat dengan penuh semangat, walau tertatih. Bermodalkan golok usang, Mak Cimi menyusuri kaki Gunung Cikuray untuk mencari kayu kayu kering yang telah tejatuh dari pohonnya.

Setiap hari, Ia membawa perbekalan seadanya dalam kantong plastik. Botol bekas air mineral berisikan air teh, nasi putih dibungkus plastik dan ikan asin adalah energi bagi Mak Cimi, disaat Ia mulai letih mencari kayu bakar.

Setiap berangkat mencari kayu bakar, Mak Cimi diantar oleh anak sekaligus keluarga satu-satunya yang masih ia miliki. Sungguh memilukan, anak kesayangan Mak Cimi satu-satunya ini memiliki keterbelakangan mental (down syndrome). Dengan kondisi anaknya yang seperti itu, tentu tak banyak membantunya.

Setiap hari, anaknya ini hanya bisa mengantarkan Mak Cimi sampai perbatasan antara pemukiman warga dengan hutan pinus. Anaknya ini hanya bisa menjemput Mak Cimi ditempat yang sama saat sore hari.

Sejak pagi buta, Mak Cimi menembus rimbunnya hutan untuk mengumpulkan ranting-ranting pohon yang jatuh tanpa memakai alas kaki. Ranting yang telah terkumpul kemudian Ia potong-potong dan diikat untuk dijual ke warga sekitar kampung.

“Tara di sendal da sok leueur, sieun labuh. Ari sapatu bot mah ridu jeung mahal mun meuli mah..” (Gak pernah pake sandal, suka licin, takut terjatuh. Kalau pake sepatu bot ribet, dan mahal lagi),” tuturnya. Belum lama ini.

Kayu bakar yang Mak Cimi pikul tidak setiap hari dapat dijual karena tidak ada pengepul. Ia menjajakan kayu bakar dengan cara menawarkan ke rumah-rumah. Tak jarang pula kayu bakar Mak Cimi tidak ada yang membeli. Jika kayu bakarnya tak laku, Ia bersama anaknya terpaksa hanya bisa makan daun singkong rebus untuk mengganjal perutnya.

“Nya suluhna ditatawarkeun weh kanu butuheun sajajalan, aya kadang ngurilingan heula Pamalayan terus ka Batugede jalanna susugana aya nu meuli. Mun euweuh nu meuli mah di bawa nepi ka imah di Ciburuy, jadi teu tangtu. Mun suluh teu paya, kapaksa Ema teu nyangu. Nya keur ngaganjel beuteung mah kapaksa we ngulub daun sampeu.”

(“Ya, kayu bakar biasa ema jajakan ke orang kampung, keliling dulu ke kampung Pamalayanb terus ke Kampung Batugede. Kalau ga ada yang beli Ema bawa lagi ke rumah di Ciburuy. Kalau kayu bakar gak laku, ya Ema terpaksa gak menanak nasi, untuk merngganjal perut, emak dan anak Emak, ya terpaksa merebus daun singkong,”) tuturnya, lirih.

Luarbiasanya, meskipun hidup dalam keterbatasan dan tergolong warga yang tidak mampu, Mak Cimi, sama sekali tidak berharap belas kasihan orang lain. Dengan sisa sisa tenagganya Mak Cimi bertekad akan terus bekerja sekuat tenaga berikhityar mencari rezeki halal.

“Ah, ema mah teu hayang dipikirunya, komo jeung barangpenta ka tatangga mah, pantangan keu ema mah. Rizki mah da ti Alloh, lain ti jalma. Satungtung aya tanaga, ema rek satekah polah nyiar rizki nu halal.”
(“Ah, Emak mah gak ingin dikasihani, apalagi minta-minta ke tetangga, pantangan buat Emak. Rizki itu dari Alloh, bukan dari manusia. Selama Emak ada tenaga, Emak akan sekuat tenaga berikhtiyar mencari rizki yang halal,”) tandasnya. (Agus Muhram)***

Editor: Kang Cep.

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI